close

[Album Review] Stars and Rabbit – Constellation

ac-starsandrabbit
constellation
constellation

Stars and Rabbit – Constellation

Label: Green Island Music

Watchful Shot: “The House”, “You Were The Universe”, “Man Upon The Hill”

[yasr_overall_rating size=”medium”]

Mendengarkan Constellation, saya langsung teringat cerita pendek tulisan Agus Noor berjudul “Taman Penyair”. Seperti album ini, ia menyerupai sepetak dunia imajinatif penuh emosi yang minta dijelajahi. Sejak kemunculannya tahun 2011, perlu waktu empat tahun untuk Stars and Rabbit menyusun konstelasi cerita ini. Untuk waktu yang sekian lama, album ini cukup setimpal. Vokal Elda yang childish, serak, emosional dan berkarakter dibalut oleh permainan gitar Adi Widodo yang renyah dan manis. Dan jika selama ini Stars and Rabbit dikenal dengan format akustik, aransemen full band yang ditambahkan di album ini oleh Didit Saad dan Vicky Unggul berhasil melengkapi ruang-ruang sunyi di cerita-cerita mereka. Quirky dan emosional.

Konstelasi rasa buatan Elda dan Adi ini disusun dari 11 cerita yang akan membuat emosi kita naik-turun. Oleh narasi melodius Elda, kadang kita akan dibawa jejingkrakan lincah bak kelinci puber, kadang juga duduk tersedu-sedu di pojok gelap gua-gua purba. Beberapa lagu seperti “Like It Here”, “Worth It” dan “Rabbit Run” yang sudah pernah dirilis di EP Live at Deus digarap lebih matang dan dilengkapi dengan lagu-lagu baru lain. Proses mastering yang diampu oleh sang audio engineer kawakan, John Davis bisa jadi salah satu faktornya. Putaran kisah Constellation sendiri sebenarnya sederhana, tentang tautan perasaan dua manusia yang ditelanjangi dalam lirik-lirik imajinatif dan di saat yang sama terasa mentah –jika ‘murni’ terasa berlebihan.

“Like It Here” yang berkisah tentang perasaan jemu ditaruh di nomor awal. Lalu “The House” menyuara dengan awalan vokal serak Elda yang langsung menukik dan disambut genjrengan gitar folk-ish. ‘Oh my.. They will eat each other from the top of the mountain’s grave/’. Menguarkan hawa-hawa gunung yang sepinya menyimpan banyak kebijaksanaan. Kontemplatif. Lagu yang dijadikan single pertama dari Constellation ini kemudian jadi lebih riuh dengan akhiran melodi synthesizer yang menyeruak. Mengingatkan saya pada corak musik Of Monster And Man di My Head is Animal.

Mereka kemudian bermain-main dengan kocokan reggae di “Catch Me”. Sisipan dering telepon dan suara Elda di mesin penjawab telepon membuat lagu ini lebih sinematik. “Worth It” dan “Rabbit Run” lalu muncul berurutan membawa karakter Stars and Rabbit yang selama kita ini kita kenal: dreamy, menggoda dengan permainan gitar dominan yang gurih. Suka sekali mendengar suara perkusif serupa ketukan kayu yang membayangi “Rabbit Run”, langkah-langkah kelinci yang sedang berlarikah itu?

Dan sampailah kita pada jurang yang tiba-tiba dihadirkan mereka. “Cry Little Heart” spontan merubah suasana dreamy di “Rabbit Run” tadi jadi sayatan melankolis pahit. Kisah cinta dua manusia yang sedari tadi sudah mengambang ini akhirnya selesai sudah. ‘I close my eyes, listen to the wind/ calm down you cry little heart/’. Sebentar saja, kita tidak dibiarkan bermuram-muram saja karena “I’ll Go Along” akan menjadi eskapis di tengah durjana. Namun seperti semua hal yang terlalu lama bercokol di hati, luka-luka belum kering dan sistem lupa belum bekerja. “You Were The Universe” adalah wujudnya. Gebukan drum repetitif yang berjalin dengan akustik folk-ish membawa kita kembali ke semesta abu-abu lagi. Dengarkan bagaimana Elda mengulangi reff sampai tiga kali dengan emosi yang semakin intens. Seolah tidak ada yang lebih pahit di dunia ini.

“Summer Falls” lalu muncul dalam iringan tetabuhan pelan dan whistling sound yang tenang. Berjalin dengan Elda yang menyanyikan lagu ini dengan sangat hati-hati, seperti anak kecil yang tertatih belajar berjalan lagi setelah jatuh dalam sekali. Dan jika ada lagu yang bisa mewakili Stars and Rabbit secara maksimal, itulah “Man Upon The Hill”. Suara synthesizer yang muncul berkelebat-kelebat di awal memunculkan renungan kabur yang kemudian dipimpin oleh vokal Elda yang sangat jelas terlihat karakternya di lagu ini. Dengarkan cara Elda menyanyikan ‘And I should be happy…ayayayayayayaya’ di akhir yang membawa pengunjung dunianya ini ke kolam kebahagiaan yang membuncah-buncah.

“Old Man Finger” lalu menyuara sebagai epilog dari Constellation. Dan ijinkan saya membuat imajinasi terakhir dari album ini. Dimana denting-denting bel di awal “Old Man Finger” ini berasal dari besi-besi ramping yang digantung tertiup angin di pojok atap pondokan milik seorang tua di atas gunung. Dengan senyum yang merekah di tengah jenggot putih di wajahnya, orang tua ini dengan bijaksana mengajak sang narator untuk melihat kembali apa saja yang sudah terjadi sejak tadi. Dan lengkaplah album ini, sebagai sebuah dunia yang cerita-cerita di dalamnya bisa saling dihubungkan lewat garis imajiner, seperti rasi-rasi bintang dalam sebuah konstelasi. [WARN!NG/ Titah Asmaning]

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response