close

[Album Review] Street Voices – Aku Mau Muntah

street voices
Aku Mau Muntah
Aku Mau Muntah

Street Voices – Aku Mau Muntah

Movement Records

Watchful Shot: Balikin ­- Aku Mau Muntah – Perempuan Punk

[yasr_overall_rating size=”small”]

Era kejayaan band street punk memang sudah lewat, namun ini tidak membuat Street Voices berhenti berkarya. Di album Aku Mau Muntah ini, Street Voices memberikan perubahan besar pada penulisan lirik. Jika mengikuti rilisan mereka, hampir semua ditulis dengan bahasa inggris. Lewat album penuh keempat ini mereka mulai menulis seluruh lirik dalam bahasa Indonesia.

Tetap bernyanyi dengan suara vokal tipikal Olga Toy Dolls, kini Rubbish terdengar sedikit canggung–walau bukan merupakan sebuah masalah, mungkin karena melafalkan bahasa Indonesia. Di beberapa lagu karakter vokal Rubbish berubah-ubah, mungkin tak semua diksi bisa dinyanyikan dengan vokal seperti biasa, atau memang konsepnya seperti itu? Entahlah.

Membandingkan dengan album-album sebelumnya, tak banyak yang berubah pada musikalitas Street Voices. Tetap dengan punk rock dengan nuansa rock & roll, diikuti dengan solo gitar di beberapa lagu, dan seperti biasa, penuh dengan hook. Sepertinya Street Voices sudah nyaman dengan gaya bermusik mereka.

“Balikin” yang didaulat menjadi lagu pertama, menjadi senjata utama band asal Jakarta ini untuk memikat pendengar, sebagai sebuah nomor catchy yang cocok untuk dinikmati sembari pogo di gigs, ataupun sekedar di kamar. Nomor tadi berbicara tentang hal sederhana yang cukup krusial. Sebuah kasus yang kerap menimpa para penikmat musik punk, yakni tentang pinjam-meminjam CD atau aksesoris lainnya, yang berakhir pada sebuah kehilangan.

Nomor pamungkasnya ada pada “Aku Mau Muntah”. Walau berdurasi panjang—terpanjang dalam album ini—lagu ini tidak lantas membosankan. Di nomor ini, pelafalan bahasa Indonesia paling pas dengan karakter vokal Street Voices, sembari menikmati Ketukan drum Tova yang dinamis. Lalu pada lagu “Hilang”, lead vocal diambil alih gitaris mereka, Fuck Guy, yang juga vokalis the Sabotage. Seketika, Street Voices menjadi lebih heavy, mirip dengan The Sabotage. Kebiasaan Street Voices melagukan teman-teman mereka juga tidak luput di album ini, kali ini lewat nomor “Tova, Loe Dimana”. Hanya dalam 43 detik lagu ini justru yang paling catchy, membuat kita menekan tombol replay pada pemutar CD. Pemberontakan khas jalanan, tentang mengatur diri sendiri dan tidak peduli pendapat orang dituangkan lewat “Ya Kira-Kiralah Bang”, “Bodo Amat” dan nomor akustik “Persetan Orang Bilang”

Dinyanyikan dalam bahasa indonesia, tentu membuka harapan untuk pesan-pesan yang disampaikan bisa mudah dicerna. Sebagai band punk, pastinya tidak lupa menyuarakan hal-hal politis, namun kebanyakan adalah repitisi yang common sense. Kecuali di nomor “Perempuan Punk”, sebuah empowerment yang kuat terhadap perempuan-perempuan yang berada di scene punk. Simak refrain “Jangan jual harga diri, kamu perempuan punk hebat” yang mungkin berangkat dari hal-hal empiris, yang jika benar, kesadaran Street Voices untuk merespon dengan membuat lagu ini patut diapresiasi. Lagu ini juga berpotensi besar untuk menginspirasi perempuan-perempuan dalam scene untuk bisa berkontribusi lebih. [Tomi WIbisono]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response