close

[Album Review] Suede – Night Thoughts

suede(1)
night thoughts
night thoughts

Label                                     :               Warner Music (2016)

Watchfull shot                   :               “Tightrope”, “Pale Snow”, “When You Are Young”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Konon cerita desain album ini menggambarkan tentang keterpurukan karena obat terlarang; sosok anak kecil yang tenggelam di dasar lautan gelap dengan abstraksi wajah tak teratur, hilang seketika ditelan nikmat semu narkotik. Diceritakan secara tragis tanpa kepekaan norma yang kian waktu kian melayang. Tapi bagi saya, Night Thoughts—album terbaru begundal britpop yang mencoba kembali bersenang-senang seperti eranya di masa lampau—adalah sebuah pencapaian jujur; tentang bagaimana fanatisme diolah menjadi keindahan jangka panjang sekaligus penegasan akan definisi identitas.

Mari sedikit berbicara tentang Suede. Mereka lahir dari benih cinta Brett Anderson dan Justine Frischmann. Membawakan tembang-tembang David Bowie, The Beatles maupun The Smiths di awal kemunculan. Mengokupasi Camden Town dengan gemerlap pesona tak tertebak. Roman perpisahan Brett dan Justine serta kemunculan Damon Albarn. Ketergantungan Brett akan psikotropika. Keretakan internal yang justru memicu penasbihan mereka sebagai The New Best Band in Britain. Berdiri di altar four horsemen britpop bersama Blur, Oasis dan juga Pulp. Kehancuran A New Morning, hiatus untuk sementara waktu lalu kembali bersinar di dua karya terbarunya.

Night Thoughts adalah arena sinematik Suede. Brett masih berperan di belakang layar dengan arahan-arahan magisnya dalam pembuatan adegan demi adegan yang termaktub secara artifisial. Hal mendasar yang dipahami betul tentu menyoal pendewasaan; baik dari notasi musikalitas ataupun transkrip lirik. Coba simak pada nomor “Tightrope” yang sarat akan perenungan diri (walking a tightrope with you//I made my mistake when I slipped through the noose), “Learning to Be” yang penuh metafor klasik tentang kesepian (every word that I’ve ever said//is empty as air), serta “Pale Snow” yang terhimpit keganjilan fiksi (will you have the courage of your tenderness//when the wolf is at your door?). Samar-samar terdengar bagai ruang kemurkaan sekaligus penyesalan. Akan tetapi Night Thoughts bukan sekedar itu; ia tumbuh melancarkan kumpulan syair, manifestasi sikap, noktah pengangkatan, apapun itu yang dapat dipakai Brett, Mat, Neil, Richard dan Simon untuk terus berjalan mengangkangi argumentasi sampah di trotoar sekitar laporan penjualan album maupun tulisan para kritikus suci.

Menikmati Night Thoughts juga perkara keintiman yang diciptakan. Gesekan bass-string yang membius di “When You Are Young” membuka bagian lain pada kepingan Dog Man Star (1994) dan Coming Up (1996). Kombinasi elegan Neil dan Richard lewat “Outsiders”,  menyimak destruksi latah vokal Brett dalam “No Tomorrow” atau sedikit merekam memori “Killing Of A Flashboy” yang tersampaikan oleh “Like Kids” dengan riak-riak glam rock Sci-Fi Lullabies. Apakah berhenti sampai titik ini? Anda akan mendapatkan jawabannya ketika tiga konklusi (“When You Were Young”, “What I’m Trying to Tell You”, “I Can’t Give Her What She Want”) ini disampaikan atas bentuk kronologis yang terjadi.

Mereka tak lagi muda. Kenikmatan alkohol, heroin ataupun seks tidak lagi terbayang di benak; sedikit demi sedikit, setahap demi setahap tergantikan dengan sendirinya oleh penajaman usia dan pikiran kronis tentang makna hidup. Bukan lagi membahas siapa yang menancapkan prestis kedigdayaan sebuah band, melainkan apa yang harus dipertahankan agar semua ini tak usang untuk dicumbui.

Setidaknya Suede mulai paham tentang hal ini. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.