close

[Album Review] Teman Sebangku – Hutan Dalam Kepala

cover-teman-sebangku
Hutan Dalam Kepala
Hutan Dalam Kepala

Label: Teman Sebangku – Omuniuum

Year: 2016

Watchful shot: “Semesta”, “Layang Melayang”, “Alir dan Arah”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Pertama kali melihat kemunculan mereka saat helatan Folk Music Festival 2016 yang diselenggarakan di Kota Malang. Terdiri dari dua personil: satu menyanyi, satu memainkan gitar. Sederhana memang. Balada yang dibawakan tak jauh dari topik cerita akan kehidupan sehari-hari; dikemas secara minimalis namun sarat makna dalam. Petikan gitar beradu lembut, membelah gendang telinga lantas disambut vokal lantang yang terkadang membuat batin bergedik mendengarnya. Mereka adalah Teman Sebangku; duo asal Bumi Parahyangan yang keberadaannya kian menambah eksistensi folk di Nusantara.

Teman Sebangku beranggotakan Sarita Rahmi dan Doly Harahap. Kedua kawan ini datang membawa folk dengan sentuhan pop yang berbalada anggun. Tak ingin terjebak dalam kompleksitas labirin yang runyam, mereka cukup melagu secara sederhana; duduk di pinggiran gardu kampung, di belakangnya telah berdiri gedung-gedung gagah simbol modernitas dan kemudian bernyanyi sekenanya menyentil realitas sosial sembari menikmati hangatnya kopi maupun pisang goreng sebanyak empat biji. Beberapa bulan lalu, album perdana resmi diluncurkan bertepatan dengan ritual tahunan Record Store Day. Bertajuk Hutan Dalam Kepala, album tersebut berisikan delapan komposisi yang masing-masing nomor memiliki aura dan pesonanya sendiri. Apabila sudah menyelami keseluruhan lagu di dalamnya, dapat kita rasakan bahwa Teman Sebangku berusaha menjalin keterkaitan dan keterikatan yang intens; melalui tutur kata yang terurai dibalik sekat melodi senyap.

Hutan Dalam Kepala dibuka dengan “Tentang”; sebuah lagu meditasi yang sarat penyelesaian persoalan batin. Tatkala kegundahan dipicu secara simultan oleh daya psikologis yang memberontak, membawa seorang diri kepada ujung kesepian, mematung tak menentu seolah arah berjalan lenyap ditelan waktu, maka “Tentang” merupakan pelipur terbaik yang bisa diperoleh tanpa ragu. Terlebih suara Sarita menegaskan kebangkitan akibat dampak dari momentum kehilangan; meyakinkan semua akan baik-baik saja. Di nomor “Perempuan Pagi”, konstruksi yang dibawakan terlihat lebih segar. Sarita bernyanyi tanpa dijejali ekspektasi apapun. Dibilang meracau sebebasnya juga tak mengapa. Sedangkan jemari Doly mengikuti kemana angin mengapungkan resonansi mayor dan menggoreskan tinta pesan romantisme masa silam. “Yang Berjalan Menuju Sungai (Bg. 2)” menjadi wahana bermain kedua karib itu. Berlari riang, melayangkan kertas ke langit-langit angkasa, melempar dedaunan euforia ke pelbagai sudut tanah yang basah seraya melepaskan beban yang tertanam sistemik di selaput mahkota. Lalu “Alir dan Arah” menggambarkan metamorforsis alam semesta. Menjalani laku utama sebagai roda yang terus berputar. Ada yang tumbang, ada yang bangkit. Ada yang menoleh ke belakang demi kesempatan, ada pula yang menatap depan penuh harap. Ada yang mengalir mengikuti arus, ada juga yang menciptakan jalannya sendiri tanpa harus bergantung pada arus lain. Begitu arif dan bijaksana tapi tak terkesan menggurui penuh moral. Sesaat setelahnya mereka bereksplorasi menggunakan nada-nada yang berkebalikan dengan biasanya. Menyisipi aroma pentatonik, meluruskan harmoni dan menghasilkan bunyi repetitif rancak yang mengesankan lewat “Di Semesta” dan “Layang Melayang”. Pada tembang “Atau Semu”, Sarita berujar lirih seperti meninggalkan bekas luka yang muskil terobati. Penguasaan notasi minor menambah kesan kelam yang ingin ditimbulkan. Menanggalkan jejak kehilangan yang tak mampu diketemukan sebelum akhirnya “Catatan Kaki” menutup pergulatan emosi yang termaktub lebih ganjil namun merangsang indera untuk berucap jauh daripada yang tertulis dalam mulut.

Lagu-lagu Hutan Dalam Kepala menjadikan preferensi riil bagaimana kesederhanaan nyatanya mampu menciptakan kebahagiaan yang hakiki. Balada mereka meluncur deras ke permukaan dan menghapus lara di perasaan alih-alih harus merasa kurang atau terbentur kehampaan laten di rongga pernafasan. Penggunaan bahasa yang lugas justru mempengaruhi kekuatan formula bermusik mereka sekaligus melengkapi kepingan tersisa tanpa sikap antipati. Keberadaan anggota yang hanya terdiri dari Sarita dan Doly bukan menjadi bencana. Tak perlu dirisaukan karena mereka paham cara melanjutkan hasrat kreatif yang kadung menggebu-gebu. Sarita menulis lirik, melempar nada lalu Doly melukiskan improvisasi melodi yang dibingkai kesederhanaan.

Bermusik bukan soal kemampuan teknis yang melibatkan kompetensi maupun perkakas di instalasi elektronik. Bermusik juga berbicara mengenai kejujuran yang dibawa. Seberapa besar dan jauh kejujuran tersebut dituangkan ke dalam wadah yang kelak dinikmati khalayak ramai. Banyak musisi yang mengindahkan faktor kejujuran demi meraih kritikan dan respon positif. Hasilnya? Dekadensi yang mengeruk kualitas perlahan demi perlahan. Karena bagaimanapun juga kejujuran dalam bermusik merupakan sikap yang tak dapat ditolerir lain waktu. Ia laiknya fondasi bangunan yang menentukan kokoh atau tidaknya pilar yang didirikan. Melihat apa yang sudah dilakukan Teman Sebangku sejauh ini, tak heran jika pilar mereka sudah berdiri begitu kuat sejalan dengan kejujuran yang diuraikan. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.