close

[Album Review] The 1975 – ILike It When You Sleep, For You Are So Beautiful yet So Unaware of It

1975
the 1975
the 1975

The 1975 – ILike It When You Sleep, For You Are So Beautiful yet So Unaware of It

Label               : Dirty Hit (2016)

Watchful Shot  : “Love Me”, “She’s American”, “If I Believe You”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Ketika sebuah band datang dan merajai tangga-tangga lagu dengan debut albumnya yang berisi lagu-lagu yang easy-listening dan menyenangkan, sepertinya tidak ada yang menyangka mereka akan kembali lagi dengan album penuh berisi belasan lagu. Apalagi kemudian mengambil referensi tema yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak biasa: kesehatan mental, agama dan keyakinan, rasa candu akan obat-obatan, rasa kesepian, dan ketenaran. Siapa yang berani melakukan hal gila seperti itu? The 1975 dengan senang hati mengajukan diri menjawab pertanyaan ini.

Band asal Manchester ini kembali merilis album setelah di tahun 2013 mereka merilis debut album self-titlednya yang mendapat banyak respon positif. I Like It When You Sleep, For You Are So Beautiful yet So Unaware of It adalah tajuk album kedua mereka yang rilis di akhir Februari 2016 lalu. Album ini seolah melompat jauh dari album sebelumnya. Walaupun nuansa musik tahun ’80-an masih kental terasa, tapi album ini tidak seeasy-listening album The 1975. I Like It When You Sleep, For You Are So Beautiful yet So Unaware of It membawa kita ke dalam suasana yang baru, yang tak hanya berhasil mengeksplorasi kemampuan bermusik dari keempat personilnya, melainkan juga kemampuan mencerna makna lirik dan musik oleh para pendengarnya.

Seperti yang sempat diungkapkan Matty Healy, vokalis sekaligus mastermind dari The 1975, album ini menantang pendengarnya untuk duduk selama satu jam lima belas menit dengan lagu-lagu yang terdengar berbeda satu sama lainnya. Banyak pengamat musik menganggap bahwa band ini berpotensi untuk mengusung musik seperti boyband mengingat warna vokal (dan tampilan) Matty Healy yang dapat membuat banyak kaum hawa jatuh cinta. Namun, The 1975 membuktikan bahwa mereka tidak berniat untuk menjadikan anggapan tersebut kenyataan dalam album ini.

Dibuka dengan sebuah interlude bertajuk “The 1975”, album ini disambut oleh single pertamanya, “Love Me”. Lagu yang sudah dilepas ke khalayak umum sejak tahun 2015 ini diawali dengan suara gitar yang catchy ditambah dengan synthesizer yang menambah kesan yang “The-1975-banget”. “Love Me” bercerita tentang budaya selfie dan obsesi hampa abad ke-21 kepada selebritis. Lagu yang terinspirasi dari “Fame” milik David Bowie ini terdengar flamboyan, sangat  menyenangkan namun juga kurang ajar. Disusul oleh “UGH!” yang berkisah tentang perjuangan Matty Healy dengan kokain. Sebenarnya lagu ini bisa saja terlihat mengasihani diri sendiri, tapi bukan seperti itu. Nyatanya, lagu ini sangat pintar, lucu tapi muram, dan apa adanya walaupun ditambah dengan efek bahasa yang berbunga-bunga.

Lagu lain yang juga dibawakan dengan lirik yang cukup bergurau namun cocok dengan kenyataan adalah nomor  “She’s American”. Lagu ini menceritakan tentang perbedaan kultur Matty Healy dengan kekasih Amerikanya yang selalu memperhatikan hal-hal kecil yang tidak perlu. Kalimat “If she says I’ve got to fix my teeth… Then she’s so American…” dianggap cukup mengundang senyum atau tawa kecil ketika mendengarkannya. Adam Hann dengan gitarnya diberikan ruang lebih untuk bernafas dan Ross MacDonald bersama bassnya cukup mendominasi dalam lagu ini. Dibandingkan lagu lainnya, komposisi lagu ini sangat pop dan catchy, sehingga jangan heran jika lagu ini mampu menjadi salah satu hit dalam album ini.

Ketika kita sampai di nomor “I Believe You”, pendengar akan menemui Matty Healy bergabung bersama paduan suara wanita. Namun, mereka tidak melantunkan lagu pujian kepada Tuhan, melainkan Matty bercerita tentang dirinya yang hanya akan bertuhan ketika kesakitan dan penderitaannya telah berhenti. Sebelum mencapai akhir lagu, pertanyaan “If I’m lost then how can I find myself?” terus diajukan dan perlahan-lahan diselimuti kabut synthesizer yang makin lama makin tebal dan menghilang bersama lagu ini. Ada kesan slow-jazz yang ditemukan karena lagu ini juga memperdengarkan suara saxophone. Drummer George Daniel menjalankan tugasnya dengan sangat baik, terdengar dari beat-beat RnB yang mendominasi lagu ini.

Terlepas dari lagu-lagu pembukanya yang terang dan penuh ide-ide besar, I Like It When You Sleep, For You Are So Beautiful yet So Unaware of It menjadi sangat membosankan selama lamunan bernuansa mimpi kosong terdengar dalam nomor instrumentalnya. Seperti “Please Be Naked”, dan “Lost my head”. The 1975 memiliki kekuatan dalam diksi liriknya, sehingga lagu-lagu tersebut terkesan membuat band ini kewalahan dalam menampilkan sisi instrumentalnya. Bukannya tidak bagus, namun sepertinya The 1975 tidak terlalu lihai dalam hal ini dan banyak band lainnya yang mampu melakukan hal yang sama dengan hasil yang jauh lebih baik, seperti Blink 182 dan Radiohead. Bahkan lagu yang berjudul sama dengan tajuk album ini juga terdengar tak begitu mempesona. Pendengar betul-betul mesti bersabar dalam mendengarkan lagu-lagu minim lirik ini. Bukannya menikmati, kita malah cepat-cepat menanti lagu ini berakhir.

Pada akhirnya, I Like It When You Sleep, For You Are So Beautiful yet So Unaware of It terdengar egois. Dia seperti sosok dengan oposisi biner: jika tidak dicintai dalam-dalam, ia akan dibenci karena kelancangannya. Jika tidak bisa menikmati keragaman warna musik, album ini juga terlihat kacau dan membingungkan karena melompat-lompat secara abai dari satu genre ke genre lain. Namun, ia juga diseimbangkan oleh lirik-liriknya yang tepat sasaran. Panggillah album ini apapun yang Anda mau, namun ada satu hal yang tidak bias disangkal: album ini punya sebuah ambisi yang sayang untuk dilewatkan.

[contributor/ Oktaria Asmarani]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response