close

[album review] The Cribs ­– For All My Sisters

The Cribs_For All My Sisters_pack shot small
The Cribs
The Cribs

The Cribs ­– For All My Sisters

Sonic Blew / Sony RED UK

Watchful Shot : Finally Free – Different Angle—Pacific Time—Summer of Chances

[yasr_overall_rating size=”small”]

Awal tahun ini, The Cribs menuturkan bahwasanya mereka tengah merekam sebuah album punk rock bising bersama Steve Albini. Album tersebut belum keluar sejak resensi ini ditulis, namun semoga pernyataan itu bukan manuver apologi belaka lantaran album anyar yang dilepas lebih dahulu, For All My Sisters merupakan rilisan dengan kerentanan komersial terbesar yang pernah mereka punya. Sebuah karya yang rawan menggugat deklarasi hipsterism Ryan Jarman (vokal/gitar) hampir satu dekade silam: ”Perilaku mainstream dari band-band indie hari ini adalah masalah yang lebih besar daripada global warming.”

Sejak keterlibatan singkat Johnny Marr di era Ignore The Ignorant, corak permainan gitar The Cribs memang menjinak. Namun, For All My Sisters menyajikan penertiban layer-layer distorsi yang lebih jauh dan lebih melodik dengan bonus reff-reff hooky. Direkam bersama produser Ric Ocasek, mantan pentolan The Cars (dalang dibalik sepasang karya emas Weezer, Blue Album dan Green Album), For All My Sisters sama sekali tak dapat mengelak dari pengaruh dominan Weezer. “Finally Free” dan “Different Angle” mengawali dengan alternative-indie rock dimana vokal someng duo Ryan dan Gary tetap terdengar manis. For All My Sisters memang berisi deretan weezerish lewat ragam varian: “An Ivory Hand” dengan tegangan synth-guitar, gelombang power pop pada “Summer of Chances”, atau talun-menalun ratapan solo dari Ryan, “Simple Story”. Sementara “Pacific Time” merupakan nomor indie pop serupa ekspresi patah hati Joey Ramone dari dalam samudera berpalung reverb.

The Cribs punya tradisi memasukan satu lagu eksentrik di tiap albumnya, seperti “Be Safe” (Men’s Needs, Women’s Needs, Whatever) atau “It Was Only Love” (New Fellas). Namun, kali ini tak terlalu mengejutkan: “Pink Snow”, reruntuhan gelap tujuh menit yang terdengar seperti At The Drive In atau Sunny Day Real Estate. Menikmati For All My Sisters memunculkan sensasi nostalgia, entah pada rock radio 90an atau gebetan di lingkungan gigs yang direbut rockstar lokal. Terlepas bagaimana juntrungan ideologi indie as fuck The Cribs, For All My Sisters adalah album yang menyejukan, seolah-olah global warming memang bukan masalah besar. [Soni Triantoro]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response