close

[Album Review] The Kills – Ash & Ice

The-Kills-Ash-IceLORES

 

The-Kills
The-Kills

Label                     : Domino (2016)

Watchful Shots  : “Hard Habit to Break”, “Hum for Your Buzz”, “Impossible Tracks”, “Echo Home”.

[yasr_overall_rating size=”small”]

Butuh menanti lima tahun sebelum akhirnya The Kills merilis Ash & Ice. Jamie Hince kembali menyesuaikan diri untuk memainkan gitar dan membawa synthesizer sebagai kompensasi. Formula lawas tetap dipertahankan, vokal tajam Alison Mosshart dan riff gitar kotor Hince, mengikuti ketukan repetitf drum machine. Terdapat sedikt eksplorasi genre di beberapa lagu. Tapi pada akhinrya, Ash & Ice tetap terdengar selayaknya rekaman The Kills lainnya, lugas dan sangar.

I want strings attached/Unnatural as it feels,” kata Mosshart meraung-raung, menyamakan loyalitasnya dengan seekor anjing. Tapi jangan salah, itu bukan permohonan dari seorang wanita putus asa. Justru seperti tantangan kepada mereka yang cukup punya nyali untuk bermain-main dengan Mosshart. “Heart of a Dog” menjadi jaminan kalau belasan tahun ugal-ugalan di belantara musik millennium tak begitu saja membuat The Kills menjadi pelan. Begitu pula dengan nomor lain macam “Bitter Fruit”.

Mendengarkan album ini secara penuh, sulit rasanya untuk mengabaikan Alison Mosshart yang banyak menggali emosi lewat lirik-liriknya. “I am a believer/But the receiver is off/Sat on the floor/ The hum and the buzz/ I can’t take it no more.” Petikan gitar “Hum for Your Buzz” juga tanpa ampun menyayat hati. Lagu ini merupakan balada blues penuh kemurungan, membuat badan bersandar lemas di pojok kamar. “Siberian Nights” menjadi titik ekstrem lain bagi Mosshart yang secara vulgar menggoda dengan pesona antiknya. “I can make you cum in threes/I’m halfway to my knees.

“That Love” mewakili sisi yang lebih halus dari Ash & Ice. Iringan piano yang mempercantik lagu ini memang jarang bisa didengar dari The Kills. Dalam lagu ini, mereka tidak berusaha tampil keras atau ganas, lebih kepada skeptikal dan getir. Kesan ini tak bertahan lama, “Impossible Tracks” langsung menyerang pusat syaraf layaknya minuman keras. Membuang jauh segala keresahan dan menggantinya dengan sakit kepala tak terkendali.

Synthesizer memang bukan barang baru bagi The Kills. Jadi bukan sesuatu yang mengejutkan ketika mereka menggunakannya secara ekstensif dalam Ash & Ice. Efeknya jelas terdengar di single pembuka “Doing it to Death”. Sementara itu “Days of Why and How” adalah himne yang cocok diputar setelah lelah pesta-pora mendengarkan Midnight Boom semalaman. Atau di pemakaman salah satu kawan yang tewas overdosis.

Daya tarik pop Blood Pressure jelas terasa di “Let it Drop” atau “Black Tar”. Sementara riff gitar yang perlahan semakin liar di “Hard Habit to Break” membawa ingatan kepada materi Keep on Your Mean Side. Namun, “Echo Home” menjadi kejutan termanis mendekati penghujung album. Sulit dipercaya kalau duet rock and roll tahan banting ini bisa terdengar begitu rapuh. Harmoni lirik yang berdesir halus melebur dengan aransemen musik serba mendengung, membangun suasana shoegaze yang jauh dari habitat alami The Kills.

Ash & Ice datang setelah masa yang kurang baik, terutama bagi Jamie Hince. Ia hampir terpaksa menyudahi karir bermusiknya lantaran otot tangan kiri yang robek terhantam pintu mobil. Belum lagi masalah rumah tangganya bersama supermodel Kate Moss yang berujung pada perceraian. Pengalaman kurang menyenangkan seperti ini yang mungkin membuat Ash & Ice terasa begitu intim, terutama ketika mereka sejenak menurunkan tempo dan melucuti banyak instrumen. Meninggalkan perasaan sensitif yang jarang terkuak dari keduanya.

Kendati banyak mengeksplorasi elemen baru, mulai dari gospel hingga RnB kontemporer, tidak banyak perubahan dari Alison Mosshart dan Jamie Hince. Sehingga, menilai Ash & Ice sebagai pendekatan baru The Kills dalam bermusik merupakan kesalahan fatal. Mereka tetap bebal dengan aturan sendiri. Mungkin ini pula yang menjadi alasan mengapa The Kills tidak pernah mendapat sorotan layaknya revivalis rock segala rupa sejenisnya. Tapi, selama mereka bisa terus menghasilkan karya seapik Ash & Ice, hal itu bukanlah masalah krusial.

Dalam era dimana para penikmat musik ramai-ramai menanti dan meramal kematian rock and roll, The Kills belum gentar menggempur pendengarnya dengan musik agresif penuh konfrontasi. Album ini dengan mudah menyulut keinginan berbuat onar. Di sisi lain, cocok pula untuk menemani malam-malam panjang penuh depresi. Perasaan seperti ini bisa tiba-tiba saja menyusur tanpa intensi. Dengan modal instrumen seadanya, Ash & Ice adalah album kaya variasi, disuarakan lantang tanpa kompromi oleh garda terakhir penjaga tradisi rocker begundal. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response