close

[Album Review] The Last Shadow Puppets – Everything You’ve Come to Expect

tlsp
tlsp
tlsp

Label                     : Domino (2016)

Watchful Shot   : “Miracle Aligner”, “Used to be My Girl”, “The Dream Synopsis”.

[yasr_overall_rating size=”small”]

Ada masanya ketika Alex Turner adalah seorang pemuda biasa-biasa saja, yang mengandalkan deruan gitarnya sebagai pelampiasan dan perlawanan terhadap hidup yang tidak luar biasa. Itu hampir satu dekade yang lalu, pamor Arctic Monkeys, sebagaimana terbukti seperti sekarang, belum mengenal kemunduran. Sementara Miles Kane masih menjadi kudapan di ranah musik sekaligus komplotan Alex Turner paling setia.

Sebagai The Last Shadow Puppets, mereka menghasilkan The Age of Understatement yang baru kembali diingat belakangan ini. Album tersebut sejatinya tidak bisa dengan mudah diremehkan dan diabaikan. Meski terlihat kerdil jika dijejerkan bersama karya-karya besar lain di zamannya, The Age of Understatement cukup membekas bagi sebagian orang. Cukup membekas sehingga sebagian dari mereka sabar menunggu album kedua The Last Shadow Puppets.

Tapi delapan tahun tidaklah sebentar. Banyak hal terjadi dalam rentang waktu itu. ISIS semakin ahli dalam hobinya meledakkan orang-orang kafir. Kondisi ekonomi tak kunjung membaik. Barack Obama juga telah membuktikan kalau ratusan tahun penindasan dan corak kulit yang lebih gelap bukanlah jaminan kepemimpinan yang lebih baik.

Dalam catatan yang sedikit lebih berhubungan dengan artikel ini, Alex Turner menyadari kalau dirinya adalah pria tertampan di dunia dan senantiasa membuktikan klaim tersebut. Miles Kane sendiri sudah bukan sekedar benalu yang mengeksploitasi status sebagai teman baik pria tertampan di dunia. Everything You’ve Come to Expect tidak menjadi pengecualian, justru merupakan pembuktian perangai mereka yang semakin menjadi-jadi.

Suara melengking di sepuluh detik pertama album ini memberi kesan serius dalam eksperimentasi aransemen string, seperti yang giat mereka lakukan di album pertama. Rupanya, bukan semangat penasaran itu yang menjadi dorongan utama dalam “Aviation”. Tidak perlu banyak mencari sumber referensi untuk memahami substansi lagu ini. “Where’d you want it? It’s your decision honey, my planet or yours?” Penggalan lirik yang mungkin diutarakan oleh seekor kadal sebelum kawin. Kesan yang sama mewarnai hampir keseluruhan album. Jangan mulai membahas “She Does the Woods”. Jangan pula pura-pura lugu dan masih bertanya apa maksud judul tersebut.

Jika bisa disimpulkan, dan sedikit direduksi, Everything You’ve Come to Expect adalah kompilasi rayuan gombal berbalut sisaan musik yang Alex Turner dan Miles Kane ingat dari album perdananya. Dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi satu tujuan, membuat para wanita basah, dari depan panggung hingga barisan terbelakang. Sudah, katakan saja. Lagipula album ini tidak berusaha lebih untuk mengatakan hal tersebut dengan lebih diskrit.

Tapi bukan berarti album ini minim substansi atau terasa dangkal. Ketangkasan Alex Turner dalam merangkai kata dan komposisi musik mengayun masih nyaman didengar. “Miracle Aligner” adalah soundtrack yang tepat untuk mengisi mimpi pemuda-pemudi dengan libido tanpa kontrol. Bagi anda yang begitu mengagumi materi The Age of Understatement, coba dengarkan single titular album ini dan “Dracula Teeth”.

“Used to be My Girl” adalah nomor paling mengejutkan dari Everything You’ve Come to Expect. Dentingan gitar yang kental dengan nuansa desert rock dan ketukan drumnya secara konstan memancarkan aura misoginistik yang sulit diredam. Tujuh lagu sebelumnya memang sudah meyakinkan pesona playboy The Last Shadow Puppets. Namun masih tetap sulit untuk diterima kalau mereka sampai tega meninggalkan mangsa mereka di tengah padang pasir seperti yang diimplikasikan lagu ini.

Piano di “The Dream Synopsis” juga cukup menghantui pikiran untuk beberapa hari ke depan. Keputusan untuk menaruh lagu ini di bagian penghujung album juga membuatnya semakin efektif. Sayang sekali “The Bourne Identity” tidak bisa melanjutkan kegemilangan lagu ini. “Isn’t it boring when I talk about my dreams,” kata Alex Turner mencari simpati. Dalam lagu ini pula kerendahan hatinya yang sudah lama pudar sejak AM kembali terlihat. Tapi di saat yang sama, kita juga diajak sadar kalau pemuda culun asal Sheffield itu sudah tiada.

Mau tidak mau, kedua pentolan The Last Shadow Puppets memang sudah jauh berubah, sebagaimana yang ditunjukkan Everything You’ve Come to Expect. Kehidupan monokrom dan dingin sudah tidak lagi menjadi keresahan mereka. Sekarang, mereka adalah sepasang pria necis yang tinggal di Los Angeles, selalu sigap untuk menyikat tubuh gadis-gadis California di bawah teriknya matahari. Terdengar sedikit amoral dan cabul memang. Tapi rupanya label itu tergantung pada siapa yang melakukannya. Dengan segala kemapanan yang telah didapatkan Alex Turner dan Miles Kane, kelakuan seperti itu dibilang seksi.

Untungnya, dengan segala kemapanan itu Alex Turner dan Miles Kane tidak kemudian lembam dan malas dalam berkarya. Everything You’ve Come to Expect memang tidak memiliki keberanian sebesar album pendahulunya. Tapi itu wajar saja, kini mereka sedang berada di zona nyaman.

Kalau ada satu hal yang bisa dikritisi dari album ini, mungkin itu adalah sikapnya secara keseluruhan. Ya, kita tahu kalau Alex Turner dan Miles Kane mungkin sedang merasa di pusat perputaran semesta. Karya mereka juga cukup menjadi bukti kalau mereka berhak merasa seperti itu. Tapi sebagaimana yang telah dibuktikan Justin Bieber atau Lionel Messi, terkadang anda harus sadar kalau simpati kita ada batasnya.

Terkadang kita, para orang biasa-biasa saja, hanya butuh inspirasi dan panutan yang mudah untuk direlasikan. Anda, para orang sukses, tidak perlu terus menerus memamerkan kesuskesan yang telah terengkuh dengan banyak bergaya. Sikap congkak itu akhirnya akan menyulut rasa kesal.

Dan sedikit dengki.

[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response