close

[Album Review] The Trees and The Wild – Zaman, Zaman

zaman-zaman

 

Label: Blank Orb
Year: 2016
Watchful shot: “Empati Temako”, “Tuah/Sebak”, “Saija”

Siapa yang berkenan diminta untuk menunggu? Menunggu bukan perkara yang remeh-temeh. Terlampau banyak alasan mengapa menunggu itu membosankan. Entah karena alasan penyesuaian atau alasan klasik berupa menemukan pelabuhan baru. Terlebih konon katanya menunggu menimbulkan rasa gundah yang teramat; sedikit pilu untuk sekedar dijelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, jika Anda terpaksa berkutat dengan proses menunggu, jangan pasang ekspektasi terlebih dahulu agar semuanya tak didera oleh waktu.

Terakhir kali mendengar kabar The Trees and The Wild mengeluarkan album penuh jika tidak salah sekitar 7 (tujuh) tahun lalu. Tepatnya di tahun 2009, rilisan pertama bertajuk Rasuk lepas ke pasaran. Kemunculannya memicu atensi positif alih-alih dilanda kebingungan akan integritas bermusik. Gaya bermain mereka meniupkan angin segar terutama di kancah sidestream yang kala itu didominasi indie-rock. Tak tanggung-tanggung, sebuah reformasi folk (saya lebih suka menyebutkan folk di awal kemunculan mereka atau mungkin bisa dikombinasikan menjadi post-folk) dituliskan secara yakin yang tersusun atas balada a la Kings of Convenience; gitar kopong yang renyah, desah vokal yang melambai dan struktur nada yang berubah beriringan. Saya masih ingat betul bagaimana “Berlin” memanjakan telinga dengan begitu manis, menggoda iman dan sensual. Di pelataran taman kota yang teduh menjadi saksi obrolan seputar kegelisahan hidup dibalut dengan lelucon ringan layaknya naskah Milan Kundera. Juga bagaimana “Honeymoon on Ice” yang terdengar sentimentil apabila diputar saat sela-sela rutinitas tiap pagi; menyiratkan kesepian batin yang membuncah klimaks. Singkat kata, kehadiran mereka di masa kemunculan sukses mencuri titik capai personifikasi dari para pendengar seraya menceritakan pengalaman hidup ke dalam wujud yang ragam akan kenyataan.

Sama halnya dengan band lain, The Trees and The Wild juga dilanda konflik internal dalam perjalanan karirnya. Yang paling kentara adalah keluarnya Iga Massardi dari formasi kolektif. Masa-masa tersebut menjadi titik tolak untuk keberlanjutan The Trees and The Wild setelahnya. Saya pikir bahwa keberlangsungan mereka tinggal angan belaka saja, namun anggapan ini ditampik dengan kebangkitan baru; ditandai masuknya Charita Utami (keyboard/synth/vokal), Hertri Nur Pamungkas (drum), dan Tyo Praestya (bass) untuk melengkapi kepingan dua personil awal, Remedy Waloni (gitar/vokal) serta Andra Kurniawan (gitar). Tak hanya merombak sisi keanggotaan band, The Trees and The Wild juga mengubah warna musiknya secara menyeluruh. Sebelumnya, di tahun 2012 dan 2014 mereka telah melepas sepasang karya. Masing-masing bertajuk Tuah/Sebak dan Ekati yang hanya dipublikasikan secara terbatas di Finlandia. Dua rilisan tersebut menjadi cikal bakal platform bermusik The Trees and The Wild saat ini; konsol post menggebu, ranah instrumental yang gagah hingga sengat amplifier bertegangan tinggi yang mengawang secara simultan. Di bawah perbedaan yang kentara, mereka hadir seperti raksasa yang bersiap menerabas kedigdayaan sementara. Tak ada lagi petikan akustik yang mendayu, tak ada lagi untaian vokal yang melagu; mari kita sambut era post yang kompleks dengan sinkronisasi peralatan elektronik memikat sekaligus bersiap untuk melakukan peruntungan di wilayah antah berantah bernama delusional.

Tahun 2016 nyatanya menjadi momentum besar bagi mereka. Semenjak Agustus lalu publik dibuat bertanya akan seperti apa album kedua kelak. Spekulasi pun berkembang luas. Tak ingin membuat khalayak semakin gelisah, mereka mengumumkan detail isi melalui sebuah video teaser dengan abstraksi visual yang penuh gradasi warna abu berdurasi sekitar lebih dari lima menit. Adalah Zaman, Zaman judul yang merepresentasikan album baru mereka. Berisi 6 (enam) buah komposisi, album ini sarat kemegahan yang magis disertai kawah belati untuk menghanyutkan diri. Tak pelak, gairah untuk menikmati keutuhan Zaman, Zaman semakin berdegup kencang; pertanda tak ingin melewatkan sedikit pun pertunjukan.

Zaman, Zaman merupakan permadani indah yang terdiri atas nafas Explosions in The Sky, Mono, Yndi Halda maupun gemerlap The Orb dan Tangerine Dream. Gemuruh instrumental meninggalkan bekas yang mendalam di sela-sela telaput tipis telinga. Dijejali secara periodik tanpa harus meletakkan fondasi yang berlebihan. Album ini dibuka dengan track “Zaman. Zaman”; sebuah nomor yang bermuatan gesekan synth eksepsional. Menyerbu di atas langit-langit nada yang kosong dan hampa. Selanjutnya ada “Empati Temako” yang menjadi salah satu nomor favorit dengan durasi waktu hampir menyentuh lima belas menit. Gebukan drum Hertri mengawal jalannya pola cabikan bas Tyo yang rapat ketika melodi Remedy saling bertautan dengan harmoni efek dari Charita. Mengingatkan kedigdayaan Thomas Fehlmann pada “Perpetual Dawn”. Kemudian “Srangan” melaju penuh aroma tendensius. Gelembung kebingungan membawa memori lampau Enjoy Eternal Bliss; memenuhi titik taut antar irama post dan shoegaze yang ditekan erat. “Monumen” menyediakan altar perjumpaan yang diawali lewat lengkingan halus Charita. Seolah membuka mata batin yang telah tertutup belenggu kufur. Raungan mesin Andra membuih pada suhu tertentu dan menciptakan arena pertemuan seperti ketika Torsten Kinsella menggubah Age of the Fifth Sun. Di “Tuah/Sebak” energi besar mereka meletup ambisius. Dibanding yang lain, “Tuah/Sebak” berandil dalam mengurangi kompleksitas materi sehingga mampu mengajak pendengar bernyanyi bersama. Meski menjelang setengah babak mereka kembali ke patron semula; mencumbui tiap nada yang ganjil. Lalu “Routlements” dan “Saija” menjadikan akhir dari semesta bukan lagi sekedar tragedi; menyiratkan pesan untuk tata kehidupan yang penuh ironi.

Apa yang sudah mereka lakukan dalam Zaman, Zaman adalah buah dari penantian lama; bahwa sebenarnya meramu dan meracik komposisi bernas membutuhkan proses panjang juga berkesinambungan. The Trees and The Wild mampu keluar dari kubangan bernama romantisme. Menyingkirkan praduga perihal catatan silam lalu menulis kembali dengan goresan tinta yang menenggelamkan. Mendengarkan semua materi dalam album ini merupakan langkah spiritual yang berputar pada poros pencarian diri maupun refleksi pikir. Tak ayal, jangan terkejut apabila kehadirannya sulit dilahap habis oleh temaram zaman. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response