close

[Album Review] Tika & The Dissident – Merah

nhc5AV9R
Tika & The Dissident  – Merah
Tika & The Dissident – Merah

 

Label: Demajors

Watchful shot: “Pukul Rata” – “Lies My Teacher Told Me” – “Unlearn the Fight”

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Mengenal Tika & Dissident pertama kali pada tahun 2009, kala muncul dalam soundtrack film Pintu Terlarang karya Joko Anwar. Selanjutnya pada tahun yang sama album mereka dirilis dengan tajuk The Headless Songstress. Sisa-sisa kegelapannya masih tertinggal di telinga saya, mengendap dan melahirkan kerinduan yang mendalam.

Pada zamannya, The Headless Songstress merupakan album yang menuai banyak pujian baik dari pendengar musik awam ataupun kritikus musik. Album tersebut terasa benar digarap dengan tulusan hati. Ada nada yang polos dan terkesan minimalis berbalut vokal Tika yang super kharismatik. Lantunan piano membuka lagu lalu diselingi distorsi gitar yang sulit ditebak. Banyak sekali warna musik yang ada dalam The Headless Songstress, masing-masing individu pun punya opini pribadi dalam menyebutkan jenis genrenya. Saya pribadi lebih cenderung pada jazz dengan sedikit groove sebab The Headless Songstress selalu mengingatkan saya pada mistisme jazz era 50an.

Kini setelah tujuh tahun, Tika & The Dissident kembali hadir dengan Merah. Album yang dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional ini seakan berusaha menjawab kerinduan penikmat musik dengan Tika & The Dissident. Namun kerinduan tinggal kerinduan, sebab tidak ada lagi yang benar-benar sama kecuali vokal Kartika Tjahja. Jika diibaratkan The Headless Songstress adalah seorang anak perempuan  remaja yang putus asa, dia duduk melipat kaki karena terkunci dalam sebuah ruangan gelap,  sembari merutuki segala keadaan dan nasib buruk yang menimpanya. Sementara Merah adalah seorang perempuan dewasa yang mencoba mendobrak pintu, dia ingin keluar dari ruang gelap yang mengekangnya selama ini.

Album merah berisikan tujuh lagu dengan beragam durasi. Single pertama dari album ini, “Tubuhku Otoritasku” cukup menghentak telinga. Liriknya yang ditulis dengan bahasa Indonesia berisi ajakan bagi para perempuan untuk lebih mencintai tubuh mereka sebab merekalah pemegang otoritas tertinggi dari tubuh mereka sendiri. Lantunan musik rock n roll berpadu dengan suara Tika yang khas, membuat lagu ini rasanya tepat dijadikan lagu pembuka. Musik video lagu ini pun sudah dirilis pada hari yang sama dengan rilisnya album, bekerjasama dengan grup kolektif feminis Mari Jeung Rebut Kembali.

Lagu lain yang bertema feminisme adalah “Pukul Rata” yang berirama blues beradu dengan rap dari Yacko. Kali ini lirik bahasa Indonesia ditujukan kepada para laki-laki berisikan ajakan untuk mendefinisikan ulang maskulinitas. Selama ini maskulinitas tidaklah manusiawi karena  selalu didefinisikan dengan selalu perkasa, selalu kuat dan selalu pemimpin. Maka lagu ini mendefinisikan bahwa maskulinitas juga harus manusiawi, laki-laki harus diberi kesempatan untuk menjadi perasa serta diberi waktu rehat untuk keluar dari perannya yang harus selalu kuat.

Tidak hanya tema feminisme yang diangkat dalam album merah, ada beberapa tema sosial lain yang dekat dengan kehidupan yang diangkat. Misalnya dalam lagu “Lies, My Teacher Told Me” yang berisikan obrolan soal pendidikan. Cerita soal kebohongan seorang guru bahwa semua murid yang ingin sukses harus bekerja keras, tapi kenyataannya selalu ada orang yang sukses tanpa harus kerja keras sebab dia berada dalam lingkaran yang tepat. Selain menarik dalam lirik, lagu ini juga menarik dalam musik. Kemunculan bass elektrik menggantikan kontrabass, membuat para pendengar bisa berteriak-teriak atau loncat-loncat saat mendengarkan lagu ini.

Lagu yang paling mengejutkan dalam album ini adalah “Unlearn the Fight”, dimana intro depan lagu ini begitu kalem dan Tika menyanyikannya seperti sedang bertutur bijak tapi diselesaikan dengan tidak biasa. Berangkat dari tema perdamaian untuk saling menghargai satu sama lain, lagu berdurasi 8.41 menit ini begitu nyaman ditelinga. Kalimat “I’ve grown out of your ism / won’t fit in your little box / wouldn’t say i’m left or right / i’m just grateful that i ain’t you / grateful that you ain’t me / trying to unlearn the fight” seakan melekat dalam memori setelah mendengarkan lagu ini.

Mengakhiri perjalanan 34 menit dalam mendengarkan Merah, saya tidak bisa memilih satu genre untuk mendefinisikannya. Merah bagi saya adalah seorang perempuan dewasa yang pintar, dia tahu bagaimana mengabungkan jazz, blues, rock dan sedikit punk dengan baik tanpa terkesan dipaksakan. Selain pintar, Merah juga peka terhadap isu-isu sosial yang ada disekitarnya, dengan cermat dia memilih kata-kata untuk berargumen demi mendobrak nilai dan tatanan mapan yang sudah ada. Meski pada akhirnya Merah tetap tidak mengobati kerinduan saya tetapi dia cukup akrobatik dalam menghibur dan itu menyenangkan. [contributor/Sekar Banjaran Aji]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response