close

[Album Review] Tulus – Monokrom

Tulus
tulus - monokrom
tulus – monokrom

Label                                     : TulusCompany (2016)

Watchful Shot                   : “Ruang Sendiri”, “Tergila-Gila”, “Monokrom”

WARN!NG Level               : !!!!1/2

 

Akhir Februari lalu, belantika musik Indonesia dimeriahkan kembali dengan kehadiran Tulus. Solois asal Bukittinggi ini merilis sebuah lagu bertajuk “Pamit” yang digadang-gadang sebagai pembuka jalan menuju album ketiganya. Lagu ini cukup mengobati kerinduan Teman Tulus—sebutan penggemar Tulus—kepada karya sang penyanyi tambun ini. Pasalnya, terakhir kali Tulus melepas lagu-lagu baru dalam bentuk album adalah di tahun 2014 dalam Gajah. Single “1000 Tahun Lamanya” ciptaan Pongki Barata yang dinyanyikan ulang oleh Tulus di tahun 2015 juga sudah terlanjur sering terdengar di radio. Maka tak heran, Teman Tulus butuh sebuah karya baru dari Tulus.

“Pamit” memberikan suguhan yang berbeda dengan sajian Tulus biasanya. Kental dengan suara piano dan string section yang megah, Tulus seolah memperkenalkan sisi lain dari dirinya lewat nomor ini. Terbiasa menyuguhkan musik dengan nuansa pop, soul, dan sedikit sentuhan jazz, “Pamit” yang beraroma ballad-orkestra terasa cukup dramatis dan emosional. Bahkan, lagu ini seringkali disama-samakan dengan “Writing’s on the Wall” milik Sam Smith karena nuansa sedih dan kegagahan musik latarnya. Walaupun begitu, video musk “Pamit” di kanal YouTube resminya tetaplah menyita perhatian dengan total 8 juta lebih penonton yang mungkin tetap akan bertambah saban harinya.

Janji yang dilontarkan Tulus berbuah manis. Setelah lima bulan berlalu, akhirnya Monokrom hadir sebagai album ketiga Tulus pada awal Agustus lalu. “Pamit”-pun ada di sana bersama sembilan nomor lainnya. Album ini disampul oleh cover yang menampilkan wajah Tulus yang tidak menyamping dengan kepulan asap putih membumbung di antara wajahnya. Latar foto yang berwarna hitam dengan asap berwarna putih seolah menjelaskan judul album ini sehingga judul yang terpatri di bagian bawah sampul terasa tidak diperlukan lagi. Mengingat sampul dua album Tulus sebelumnya, Tulus (2011) dan Gajah (2014), telah dianggap menjadi ciri khas visual album Tulus, Monokrom terlihat sangat berbeda. Selain adanya penulisan tajuk album dan wajah Tulus yang menghadap lurus ke depan, tipografi nama Tulus yang biasanya tercetak dalam ukuran yang memenuhi bagian atas sampul tak lagi hadir seperti itu.

Semua kejutan yang dibawa oleh Tulus ini menimbulkan suatu tanda tanya besar: apakah Tulus yang sekarang memang benar berbeda dengan Tulus yang sebelumnya? Apakah Monokrom menghadirkan sesuatu yang benar berbeda dengan dua album sebelumnya?

Tiga nomor pembuka Monokrom dilatari oleh nuansa orkestra yang cukup kental. Tulus memang bekerjasama dengan The City of Prague Philharmonic Orchestra untuk melengkapi musikalisasi album ini. Orkestra klasik asal Ceko yang pernah bekerjasama dengan komposer kondang seperti Rachel Portman dan Alexandre Desplat ini juga mengisi dua trek lain di album ini. Nomor “Manusia Kuat” sebagai pintu masuk album ini terdengar megah dengan tempo yang bersemangat. Dengan lirik yang penuh letupan optimisme, trek ini sangat cocok untuk dijadikan lagu penyemangat sekaligus lagu kemenangan untuk berbagai kompetisi. Dilanjutkan oleh “Pamit”, kepala yang sudah panas oleh semangat seolah didinginkan kembali.

“Ruang Sendiri” sebagai nomor ketiga sekaligus single kedua dalam Monokrom layak mendapat sorotan lebih. Dibuka dengan genjrengan gitar dan suara drum yang lembut, “Ruang Sendiri” sudah dapat menarik pendengar untuk diam dan menghayati isinya. Lagu ini mengingatkan pentingnya sebuah jeda; sebuah ruang untuk diri sendiri dalam semua lini kehidupan manusia dalam relasinya dengan sesama. Seperti yang Tulus sempat ungkapkan, bahwa ruang membuat jarak, jarak membuat rindu, rindu membangun nilai. Pada akhirnya ruang sendiri memang sesuatu yang baik untuk setiap manusia. Ruang ini adalah luasnya sama dengan ruang intim dan ruang damba kepada orang-orang terdekat. “Kita tetap butuh ruang sendiri sendiri // untuk tetap menghargai oh rasanya sepi..” Nomor ini seolah diciptakan Tulus untuk didengarkan sambil memandang langit dan berintrospeksi diri. Kemudian, suara harmonika yang ditiupkan Rega Dauna di tengah lagu bisa didengarkan sambil menutup mata, meresapi makna yang dikandungnya.

Mendengarkan Monokrom, kita diajak mengingat kenangan-kenangan yang sudah kita lewati dalam hidup. Kekuatan dan ketangguhan terdengar pada “Tukar Jiwa” dan “Lekas”. Masa-masa penasaran terhadap pasangan terkisah dalam “Tergila-Gila”. Cerita patah hati tertuang dalam “Langit Abu-Abu”, dan semangat untuk hidup ada pada “Cahaya” dan “Mahakarya”.

Sama seperti dua album sebelumnya, Tulus masih ditemani oleh Ari Renaldi sebagai produser. Kali ini, mereka sangat kentara tengah mencoba banyak eksperimen untuk menghadirkan nuansa baru. Terbukti dengan hadirnya unsur string section, harmonika, ukulele, hingga banjo dalam Monokrom. Hal-hal yang tak pernah terjadi di album Tulus lainnya. Bagian terbaiknya, eksperimen ini nyatanya berhasil dengan sempurna. Semuanya terdengar matang, tidak tersisip keraguan. Tulus memang sudah benar-benar mengerti seperti apa dan bagaimana karya-karyanya ini akan ditampilkan ke pendengarnya.

Orkestra yang mengisi celah di sebagian album ini menjadikan warna musik Monokrom melompat—namun tak cukup jauh—dari dua album sebelumnya. Hampir semua nomor terdengar megah, namun tetap easy listening dalam waktu yang bersamaan. Walaupun musikalitas Tulus semakin matang, ciri khasnya tak jua menghilang. Lirik-lirik lagunya masih sederhana dan humanis, dengan makna yang tetap berhasil tersampaikan ke pendengar. Tema tentang manusia dan kehidupannya sehari-hari dibalut dengan syair yang manis tapi tak memualkan ataupun klise.

“Monokrom” menutup album ini dengan sangat apik. Terasa ungkapan terima kasih yang sangat dalam dari Tulus kepada semua orang yang telah membentuknya sejauh ini. “Monokrom” juga membawa aroma nostalgia yang sangat kuat, menguar dari segala lirik yang meluncur dari mulut Tulus. Kita diajak untuk mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi di masa lalu. Bait pertama di lagu ini memang dipersembahkan untuk ibunda Tulus. Sedangkan bait berikutnya mengingatkan hari ulang tahun ketujuhnya, ulang tahun yang pertama kali dirayakan dan diabadikan dalam foto hitam putih. Terlepas dari apapun yang menjadi pemicu lahirnya lagu ini, “Monokrom” sangat berhasil menarik kita ke masa lalu. Dengan melodi yang ringan, “Monokrom” menuntun jalan kita tanpa genggaman memaksa; kita dibiarkan berjalan ke memori manapun yang terlintas di pikiran saat mendengarkannya.

Dari segala keindahan yang tertata rapi dalam album ini, “Monokrom” yang diletakkan sebagai lagu terakhir menjadikan garis besar Monokrom jelas sudah. Monokrom membuat kita menerawang sambil melakukan kilas balik kehidupan, kaleidoskop masa lalu. Kenangan yang selama ini mungkin belum terjamah, terhimpit lipatan-lipatan otak. Monokrom tidak semata-mata hitam putih seperti apa yang kita bayangkan. Di dunia yang ditawarkan oleh Tulus, monokrom adalah spektrum yang penuh dengan warna-warni hidup. Monokrom adalah awal bagi kita untuk bersyukur atas semuanya yang menjadikan kita saat ini. Singkatnya, Monokrom adalah tanda terima kasih yang tulus. [WARN!NG / Oktaria Asmarani]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.