close

[Album Review] Vira Talisa – Self Titled (EP)

Vira Talisa

Label: Orange Cliff Records
Watchful shot: “If I See You Tomorrow”, “Walking Back Home”, “Into Dust”
Year: 2016
WARN!NG Level: !!!!

Saya selalu suka berimajinasi tentang bagaimana hembusan angin semilir menyapa ombak rambut di kepala. Juga mengenai kicauan burung yang saling berdendang seakan tampil di panggung pementasan opera; menarik lembut gendang telinga. Kala keduanya menetap dalam sumbu kelengkapan, langkah kaki berdetak seirama; menuntun hasrat dan kesenduan dibalik serbuk pasir putih di ujung pantai.

Ini bukan hanya perkara menikmati. Bukan juga menyoal memahami semesta hidup yang seharusnya dapat berlangsung sekenanya. Saat pikiran sedang beradu debat yang tak pasti, seketika bongkah memori mengingat balada-balada di kotak pengarsipan; tersimpan rapi, mengenyahkan kurang sedikitpun. Tanpa pikir panjang, rangsang motorik diri memutar untaian dari lengkingan dara manis yang terlampau mempesona tatkala membawakan “Surfer Girl” milik The Beach Boys. Begitu lihai, begitu tenang.

Suaranya merdu melantunkan fantasi, meraba kenyamanan yang seyogyanya masih dicari. Kata-katanya lugas layaknya makna kehadiran. Di sisi lain, petikan yang keluar dari gitar kopongnya memeras bayangan semu akan deretan lanskap tak bertuan di jaman kejayaan. Perkenalkan, ia adalah Vira Talisa; solois menjanjikan yang baru saja merilis EP perdana bertajuk self-titled.

Awal mula perkenalan dengan penyanyi ini terjadi secara tidak sengaja. Jika tak membuka SoundCloud pada sore itu, mungkin saya bakal tertinggal informasi cukup jauh. Bagi para penikmat setia aplikasi musik berbasis streaming, nama Vira Talisa sudah tidak asing lagi. Ia dikenal rajin mengunggah cover lagu dari bermacam bintang seperti Brian Wilson, Frank Sinatra, hingga White Shoes and The Couples Company. Tingkat popularitasnya berada di atas rata-rata; pengikutnya menyentuh puluhan ribu, tanda likes untuk tiap postingannya mencapai ratusan buah.

Vira Talisa tak ingin berhenti sebatas ekspektasi. Langkah ambisius diambilnya dengan menciptakan nomor-nomor terbarukan; bukan sekedar membawakan ulang komposisi lama dengan piranti pribadinya yang direkam lewat kotak mesin Silicon Valley. Perlahan, ia berhasil menghidupkan nafas yang disertakan, seolah ingin menuliskan pesan maupun kerinduan yang sulit tersampaikan.

Karya debutnya memuat 5 (lima) buah track yang mempunyai cita rasa tersendiri. Ada harum kontemplasi Eropa di tiap kontur nada yang ia selipkan. Sinar mentari di musim panas, parade kebahagiaan yang termaktub tawa di kafe pinggiran Paris, serta kocokan dawai yang bersautan riuh rendah dengan keramaian malam pengakraban mahasiswa baru. Tak cukup bersenandung gembira, terkadang Vira berucap jamak mengenai fase pencarian.

Kunjungan singkat pada EP dibuka dengan “If I See You Tomorrow”. Tempo yang diketuk tetap disambut dentuman yang menelusuri lautan bossa. Vira berandai-andai menyembunyikan harap untuk arti pertemuan. Tak heran apabila rekam ingatan meruntut ke belakang; sosok Jane Birkin yang menari bebas di pelataran Amours des feintes. Lalu “Walking Back Home” terbakar petuah sentimentil. Mengawang alunan permai ke bilik-bilik peraduan sejurus bersama harmoni yang ia hasilkan penuh kuasa. Kemudian aroma sunshine pop yang kental muncul dalam “Get Up, Get Down”. Irama jangle menyamarkan teriak manis dari seberang California seturut menegaskan keriaan yang mengharu lara. Jika anda menyebutnya terinspirasi warna musik She and Him, saya lebih senang apabila Bunky and Jake, The Clique, The Pepperment Rainbow jadi sumber pengaruhnya.

Dua balada berikutnya merupakan panorama Vira dan persepsi mengenai hal-hal yang muskil diutarakan. Dalam “Whirlwind”, ia memacu resonansi sendu yang menutupi sekelumit drama asmara. Selayang soundtrack dengan iringan Gibson Les Paul yang diseduh lambat namun mendaya kuat. Bagaikan ikat kimiawi yang terbukti sahih oleh kasih bertuah. Sedangkan “Into Dust” meraih kapabilitasnya untuk mendongeng lepas. Menjelaskan duduk perkara yang dibelai lembut jemari mimpi; pertanda menyemai benih kebersamaan. Putar berulang kali di pojok kamar yang menghadap langsung reruntuhan arsitektur bergaya lama. Di tengah cuaca yang membiaskan kelabu, lupakan sejenak raga yang membelenggu. Ambil ukulele dan coba tiupkan untaian yang menyeduh kebimbangan.

Apa keindahan dari karya ini? Jawabnya jelas persona Vira Talisa itu sendiri. Ia berterbangan sejalur bersama angin yang menyapa hijaunya perkebunan di pelupuk mata. Mengalirkan derasnya air melalui lintasan berkelok yang membuat terkesima.  Bermetamorfosis dalam setumpuk roman yang ditasbihkan melalui proses berkesinambungan. Kemampuannya dibungkus keelokan Neulliy-sur-Seine karena musiknya menggambarkan kesederhanaan; lugas, tak berbelit, dan merasuk tanpa tedeng aling-aling. Alhasil, suatu kewajaran jikalau karirnya terpampang cerah dan kita semua tak sabar melihatnya di kesempatan selanjutnya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response