close

[Album Review] Wilco – Schmilco

schmilco

 

 

Label: Dpbm Records
Watchful shot: “Someone to Lose”, “Happiness”, “Normal American Kids”
Year: 2016

Jika boleh berkata jujur, saya bersyukur besar tatkala konflik internal menghampiri Jay Farrar dan Jeff Tweedy yang memaksa Uncle Tupelo hilang dari tata peredaran. Kalau tidak melihat keduanya saling klaim kontribusi, mengedepankan ego pribadi, lantas mengakhiri kerjasama dalam satu formasi itu berarti saya, Anda, dan mungkin kita semuanya urung mengetahui kelahiran yang lebih masif dalam entitas bernama Wilco.

Apabila diminta untuk mendeskripsikan warna musik yang diusung Wilco, saya berpikir bahwa tidak terdapat patokan resmi yang menyertainya. Bagi Wilco, warna musik atau genre bukan hal yang kiranya esensial selama mampu menyuguhkan aksi maksimal. Tweedy pun sepakat walaupun hanya sebatas ucap formalitas penegas status eksistensi. Tapi yang jelas, menurut hasil pendalaman, akar rumpun permainan mereka terletak pada sumbu alternatif. Memadukan beragam keliaran instrumen yang terkadang mendapati pola tertentu atau memang dibiarkan terpaku begitu saja. Entah maksud hati ingin membebaskan diri atau memang tak mempunyai skema pasti di tiap momentum karya.

Semenjak era Uncle Tupelo yang digadang-gadang memercikan bara potensi menjanjikan sampai masa Star Wars yang berhasil menggondol ukiran Grammy untuk kategori Best Alternative Music Album, Wilco selalu berani menyelipkan bumbu-bumbu segar; meski sejatinya pijakan kaki tetap bertumpu pada roh Bill Fay dan Television. Ambil contoh saat Tweedy mencoba memasukkan marwah jazz yang terilhami kharisma Miles Davis dan kebesaran John Coltraine di Sky Blue Sky. Atau memfantasikan simetrisnya kebakuan pop dengan hook surf minimalis milik Brian Wilson di beberapa komposisi Yankee Hotel Foxrot. Bahkan sempat juga mengilhami kekuatan syair filosofis Neil Young yang cenderung katarsis lewat Summerteeth sampai melibatkan pesona Woody Guthrie yang diterjemahkan dalam kotak-kotak impian Mermaid Aveneu.

Sekitar dua atau tiga bulan silam, kabar tentang mereka kembali mengejutkan antusiasme khalayak. Adalah sebuah ilustrasi yang terbagi sembilan kotak dimana antara satu kotak dengan kotak lainnya memiliki keterkaitan cerita. Anak kecil yang ingin mendengarkan musik dari pemutar piringan berwarna agak gelap, sosok sang ayah yang mengenakan setelan jas bermotif polos, dan tragedi tersengatnya permukaan tangan ke aliran listrik yang berakibat ledak tawa riang dari sudut seberang. Apa yang mereka umumkan terasa spesial. Selain kesepakatan seni dengan Joan Cornella yang menggugah reputasi, terlebih kapabilitas Joan terhadap gambar sinisme kehidupan, juga menandai akan dilepasnya album terbaru Wilco bertajuk Schmilco.

Schmilco merupakan album ke sepuluh dari berandalan asal Chicago ini. Ekspektasi dan harapan banyak diapungkan mengingat kesuksesan mereka melalui Yankee Hotel Foxrot dan Star Wars yang melonjakkan posisi ke tingkat kehormatan di samping meraba segala ragam kemungkinan tentang kejutan apa lagi yang hendak diucapkan. Sah-sah saja opini bertebaran menciutkan nada kagum atau pujian seraya membiaskan objektifitas materi yang diproduseri Tweedy tersebut. Faktanya, Schmilco tak nampak terlalu istimewa; roh kudusnya dihisap sedikit demi sedikit oleh kedigdayaan album terdahulu.

Ada 12 (duabelas) nomor yang dimuat dalam album ini. Masing-masing menggambarkan representasi personalitas tiap personil. Tapi Tweedy mengambil porsi lebih besar daripada yang lain. Topik pembicaraan tak jauh seputar diskursus mengenai pergulatan batinnya dengan masa lampau, kecintaannya yang tak terbatas untuk potret keluarga, hingga kecemasannya akan pengaruh ketidakpastian. Secara perlahan, ia mengajak rekan-rekannya menelusuri jalan terjal yang tersusun atas kepingan tak beraturan; kebanyakan berisikan gurat dilematis sampai pencarian identitas. Gleen Kotche mengawal fragmen ritmis yang ganjil, Nels Cline memetik dawai diagonalnya ke sumbu penghidupan, John Stirratt mencabik pola-pola liar yang melawan realisme, dan baik Pat Sansone maupun Mikael Jorgensen sama-sama terjebak di lorong labirin gelap; menyaksikan pertemuan nada synth eksepsional dengan vibrasi halus dari corong Korg klasik miliknya.

Perjumpaan mereka dibuka dua tembang pemenuh ruang nostalgia masa kecil; “Normal American Kids” dan “If I Ever Was a Child”. Dengan nada yang sedikit gusar, Tweedy seolah ingin menunjukkan betapa bahagianya raut muka yang dijejali rona kemerahan; berlinang gemerlap bianglala dan kereta mesin di pasar karnival setempat. Akan tetapi di lain sisi, ia sukar menyembunyikan noktah kegelisahannya yang bergumul khawatir; memandang tawa riang tergantikan piranti modernitas yang melumat beriringan. Kemudian “Cry All Day” menyambut di belakangnya. Kontemplasi nada yang subtil memaksa indera perasa bekerja lebih dari biasanya. Permainan gitar Cline berjalan tenang cenderung hanyut dan menerawang resonansi parau yang timbul bersautan. Lalu “Common Sense” berusaha mencabik-cabik tumpukan kertas transkrip kehancuran hati. Berujar jauh membungkus I slam my finger in the door of love//God damn the judging//Strangers judge dengan cukup sentimentil. Terlebih ketika komposisi yang dibawakan mengalun ke momentum rock yang sukar terdefinisi. Selanjutnya tiga sudut suci menautkan “Happiness”, “Quarters”, serta “Locator” menjadi satu konjugasi yang utuh. Laiknya “Box Full of Letters” yang dikemas dengan pewarnaan ala Charlie Kauffman; menyebabkan duka, suka maupun perasaan yang entah. Nomor favorit jatuh pada “Someone to Lose”. Sebuah soundtrack tentang hilangnya eksistensi personal yang dibalut metamorfosa sendu. Seperti melihat Tweedy, Tupelo dan Bill Fay yang sedang meramu monumen bangkit bertuliskan syair; Now where you gonna go like a cobra coiled//Sweating in a sweater, you got too much style//But you’re never alone//Some day they’re gonna get you.

Seperti apa yang sudah saya gariskan di atas bahwa Schmilco tak nampak istimewa secara keseluruhan. Benang merah yang sudah dieratkan Wilco selama satu dekade menghasilkan trek panjang berupa konsistensi bermusik. Wilco pastinya mengerti, proses yang musti dilakukan melibatkan selera, rasa, maupun daya intuisi tajam demi menelurkan manifes keterpaduan. Memang, Schmilco tidak mengecewakan. Namun sukar rasanya memendam gemilang kesuksesan Yankee Foxrot Hotel ataupun A Ghost Is Born yang melebarkan sayap kemasyhuran. Schmilco tak ubahnya permadani yang sudah diisi produk jemari lama yang sudah termaktub khasiatnya. Akan tetapi sekali lagi saya mencoba untuk tak ambil pusing. Karena menikmati Wilco adalah salah satu cara terus hidup sehat di semesta yang tak kunjung sehat. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.