close

[Album Review] Will Butler – Friday Night

Will Butler – Friday Night
Friday Night
Friday Night

 

Label: Merge Records

Year: 2016

Watchful Shot: “Introduction”, “You Must Be Kidding”

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Menjalankan proyek sampingan di tengah kepadatan proyek utama merupakan jalan pintas tercepat untuk membunuh apa yang dibilang sebagai kebosanan. Hampir sebagian besar musisi mengambil langkah seperti ini. Bisa membuat proyek bersama kawan lain ataupun menempuhnya secara mandiri. Harapannya, dengan membuat proyek sampingan, sang musisi mampu menyalurkan sesuatu yang tidak bisa disalurkan secara bebas di proyek utama. Faktor yang mengganjal biasanya muncul karena platform utama sudah menentukan garis pembatas kolektif; artinya masing-masing anggota harus menekan ego pribadi demi terwujudnya visi dan juga misi yang kelak akan disampaikan lewat wahana musikalitas. Namun yang terpenting adalah musisi bersangkutan mampu meluapkan kejujurannya tanpa harus diinterupsi beragam urusan ini itu yang semestinya tak perlu.

Sama halnya dengan apa yang terjadi pada benak Will Butler. Dikenal sebagai pentolan sekaligus inspirasi terbesar Arcade Fire, membuatnya semakin sadar bahwasanya keberadaan band yang sudah dibesarkannya melalui proses panjang, membawa ekspektasi tinggi tiap tahunnya. Mengisi gelanggang yang menampung puluhan ribu pasang mata, menghadiri festival-festival ternama di musim panas sampai menjual rilisan album yang ditarget melampaui kesuksesan Reflektor. Tiap sendi ambisi Arcade Fire nampaknya memberi celah sekaligus noktah beban untuk memuaskan banyak pihak, melenggangkan senyum para pemilik label rekaman atau menarik atensi massa dari segala penjuru. Beranjak pada titik ini, Will berusaha keras menekan permadani abstrak antara fiksi dan realita. Sejenak menutup mata juga melarikan diri dari perputaran kehidupan Arcade Fire dan mengeluarkan karya solo terbarunya berjudul Friday Night.

Secara umum, Friday Night memuat total keseluruhan 13 (tigabelas) lagu. Terdiri atas beberapa lagu dari album Policy (karya solo sebelumnya) yang direkam langsung pada konser di Lincon Hall Chicago, setahun lalu dan memuat nomor-nomor baru yang direkam khusus olehnya untuk The Guardian. Namun tak hanya berisi materi lama, Friday Night juga memiliki unsur baru yang tak kalah eksepsional dibanding materi terdahulu. Will masih memegang kendali layar keberangkatan dengan para awak yang berdiri mendukungnya di belakang seperti Miles Arntzen (drum), Julie Shore (synth bass) serta Sara Dobss (synth lead). Mereka berempat bersepakat untuk melepas tanggung jawab Arcade Fire dan meramu aroma segar yang terdapat dalam pesona seorang Will Butler.

Album ini bisa dibilang Policy versi baru dengan sentuhan modern ala The National yang direkam di studio pojokan Bronx. Nomor-nomor yang mengandung keluh kesah Will; lugas dan menolak hasut persepsi pihak seberang. Bahkan saya cenderung menyaksikan bagaimana Will dapat lepas begitu jauh dalam memasak bumbu-bumbu alternatif ke formula kebisingan rock aneh yang sedang digelutinya. Selain cerdas meracik komposisi, ia juga diberkati kepintaran serta intuisi tajam dalam mengendus sisi emosional tiap lagu. Saat yang lain menyibukkan diri di tengah fatamorgana, ia hanya berkelakar singkat seraya menghisap cerutu Kuba tahun 1954 dan sebotol wine lezat dari perkebunan anggur milik Jean-Nelaude Bordeaux.

Friday Night mempunyai dua dinding encore yang dibangun pada tembok depan dan belakang. “Encore – Tell Me We’re Alright” sedikit tercampur soda baroque yang menyengat lidah. Dalam ketukan synth yang kelima, akan timbul kesenduan dibalik sekat jemari tangan. Sembari mengucap harap, Will menutup ruang pintu dengan chord menenggelamkan ragu. Lalu disusul “Introduction” dan “You Must Be Kidding” yang sarat penantian. Entah berwujud fantasi atau disleksia pikir yang memaksanya tunduk dalam balut konflik kepentingan. Sedangkan “Son of God” memicu ledak tawa satir kala membaca transkrip naskah pertunjukkan Hamilton di pinggiran Broadway. “Sun Comes Up” dipenuhi jejak ingatan mengenai Jack White yang merajam melankolia. Semacam jatuh dalam lubang perandaian elegi. Saat melantunkan “Madonna Can’t Save Me Now” Will seolah berbincang dengan Deacon di pinggir balkon. Sementara di ruang tengah Brian May dan Freddie Mercury memainkan repertoar klasik yang sudah lama tertimbun untuk sepasang pertemuan.

Lantas apa kabar sisi eksploratif seorang Will Butler? Tenang, di nomor “Public Defender” maupun “Something’s Coming”, Will memamerkan kebolehannya dalam memainkan irama acak; kombinasi antara pedal gitar custom yang membentuk awan gelap dream pop selepas Perang Dunia II. Di sisi lain ia juga menunjukkan kelihaiannya dalam mamacu ketepatan harmoni folktronika dengan magis lirik yang menyentuh nalar. Namun beberapa gores penyesalan ia tunjukkan tatkala menyanyikan “Anna” dan “Sing to Me”. Di kedua nomor itu Will seakan terjebak dalam paradigma kebingungan yang menahan hasrat melepaskan. Ia seakan terhambat untuk menatap depan atau meneruskan kiprahnya yang dilanda tekanan bertubi-tubi.

Karya solo Will Butler ibarat konjugasi sinema milik Paul Thomas Anderson. Laiknya Punch-Drunk Love yang diserbu kerancakan berpikir namun berujung menyengat roman seperti kisah semestinya. Pada suatu pemberhentian, Will berusaha keras membebaskan diri dari belenggu yang mengawang di sudut permukaan. Ketakutan melandanya berturut-turut tanpa jeda yang manusiawi. Kebanyakan mengenai Arcade Fire dan impiannya yang terkungkung dilematis. Dan untuk sekarang, Friday Night menjadi jawaban atas pertanyaan klise yang menguap begitu mudahnya; bukan sekedar pemanis memori belaka yang disimpan dalam peraduan batin atau pelarian semu yang tak jelas kemana perginya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response