close

[Album Reviw] The Lumineers – Cleopatra

the lumineers cleopatra album
the lumineers
the lumineers

Label                     :               Dualtone (2016)

Watchful shot    :               “Gale Song”, “Ophelia”, “Patience”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Sebelumnya orang hanya mengenal Mumford and Sons saja yang piawai dalam memainkan folk khas; dominasi gitar kopong, nyanyian perubahan, dan sayup-sayup sedikit menebar cerita cinta gadis tani. Jemari mereka menancap begitu kuat seketika bersanding bersama kharisma yang selalu dielu-elukan. Singkat kata, Mumford and Sons menjadi raja dari sekian raja yang ada.

Namun pandangan itu mulai bergeser semenjak kemunculan The Lumineers. Bak mesin roket mereka melesat begitu cepat menuju instalasi orbit yang sudah dipetakan. The Lumineers terdiri dari Jeremiah Fraites, Neyla Pakarek serta Wesley Schultz. Membentuk grup ini pada medio 2002 di Denver, mereka mengusung konsep folk-rock sensual yang bertumpu pada daya magis Schultz dalam meramu racikan tepat guna. Membutuhkan waktu cukup lama agar musik mereka bisa dikenal ke permukaan sampai akhirnya album perdana yang bertajuk Self-Titled rilis di tahun 2012. Debut mereka berakhir menyenangkan; tangga runner up Billboard 200, berstatus platinum di Amerika dan Irlandia lalu mendapatkan sertifikat emas untuk penjualan di Australia, Inggris sampai Kanada. Semenjak itu pula popularitas mereka naik sejalur penyematan pujian untuk kualitas yang dibawa; kesederhanaan musik penuh esensi di setiap notasi.

Karya studio pertama mereka bisa dibilang sukses secara kualitas maupun kuantitas. Daya popularitas mereka sudah membentuk penggiringan opini yang jujur. Terlebih corak musikalitas The Lumineers dianggap mampu mengurangi dominasi Mumford and Sons yang ragam akan banjo. Mereka memberikan keyakinan sendiri tentang apa yang disebut folk-Americana; indah tapi penuh determinasi. Album pertama merupakan pembuka jalan untuk karir mereka yang masih panjang, perwujudan potensi yang tak sebatas muncul di awal lalu tenggelam akan buaian sindrom bintang.

Empat tahun berselang, The Lumineers datang memberi karya baru bertajuk Cleopatra. Album berbalut monografis hitam putih dengan sampul eksotis wanita berpakaian Ratu Mesir yang dikenal sebagai sosok aktris Theda Bara ini dilepas untuk meneruskan kiprah mereka yang sudah terjalin secara harmonis sejak momen perjumpaan, sekaligus mengikis kesuksesan The Lumineers dan membuat ledakan lain. Akan tetapi bayang-bayang terang dari album pertama masih sulit untuk ditinggalkan. The Lumineers dengan album terbaru agaknya belum berani eksplorasi lebih; dominasi gitar Schultz, lengkingan dan paras manis Pakaret juga hentakan ritmis Fraites masih jadi perbincangan utama bagi para fans The Lumineers. Folk mereka tak ubahnya pemanis ingatan terdahulu yang tetap berjalan di pola simetris.

Saya justru melihat kecenderungan The Lumineers mewarnai lagu-lagu Cleopatra dengan sedikit goresan pop minimalis. Beberapa lagu cukup menggambarkan akan hal itu. Jika saya tidak salah mendengar “Long Way from Home”, “Sick in the Head” serta “Patience” dapat disebutkan sebagai preferensi riil akan proyeksi pop yang masuk. Peran Fraites dan Pakaret juga terlihat lebih menonjol meski otoritas tertinggi masih berada di pucuk pikiran Schultz. Akan tetapi porsi mereka yang sudah mencakup proses pembuatan lagu membuktikan adanya terbukanya keran kepercayaan. Cleopatra dibuka dengan “Sleep on the Floor” yang cukup meneduhkan. Gitar pelan seperti mencumbu ruang-ruang kesepian. Lalu “Gun Song” masuk memberikan nafas penyesalan; tentang harap waktu yang tidak berbanding lurus dengan kenyataan. “In the Light” dan “Gale Song” lebih bertenaga. Sedikit bertempo kencang di batas penjagaan. Kemudian “My Eyes” tidak boleh ditepikan begitu saja; harmoni yang syahdu menuai kecaman protes dan ingin kembali dibangkitkan.

Apabila ditelisik lebih jauh kadar lirik berbau percintaan klasik memang berkurang dibanding album pertama. Cleopatra adalah penjamuan agung kepada tiga sosok yang ditasbihkan melalui syair puitis: “Angela”, “Cleopatra” dan juga “Ophelia”. Ketiga sosok tersebut seakan dipuja dengan perkawinan lirik yang ambisius dan intim. Semacam pertemuan yang selalu dinantikan. Semacam kebencian yang terus disebarkan. Semacam narasi menyeramkan dalam Perjanjian Lama yang menarik untuk dikisahkan. Tentang ode untuk Paman Sam yang teruntai makna serta hidup dalam patah hati tak kunjung sembuh.

Bagaimanapun juga keseluruhan lagu masih bisa dinikmati sembari melihat debat kusir Hillary melawan Trump, menganalisa kenaikan bunga perbankan, ataupun menghitung resiko ancaman bahaya aborsi juga tax amnesty. Terlalu klise apabila saya mengindahkan sebuah anekdot untuk menyelami Cleopatra dengan menunggu senja terbenam dan seduhan kopi hitam pekat. Tidak adanya mantra patronus bukan berarti album ini layak untuk dilabeli kegagalan kedua. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response