close

[Album Review] Ansaphone – Dancing In The Colours

ansaphone (2)

 ansaphone (2)

Empty Space Records

Watchful Shot : Sirenical – Dread – All Alone

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Jika Anda mendengarkan Sigur Rós, Ólafur Arnalds, Röyksopp, Tame Impala, The Milo atau ME 85, Anda juga harus berkenalan dengan unit dari Bandung ini. Ansaphone boleh diberi label band shoegaze karena nomor-nomor yang penuh delay dan distorsi. Boleh juga dilabeli post-rock karena melodi instrumennya yang dramatis. Atau reverb-dreamy karena lagu-lagunya yang meruang dipadu dengan vokal yang mengawang-awang. Simpelnya, mari labeli band ini dengan ‘band yang CD-nya seharusnya ada di barisan koleksi Anda’.

Setelah EP Morning Lights Recover yang cantik dan saklek di jalur post-rock, Dancing in the Colours secara keseluruhan terdengar seperti Ansaphone yang sedang rajin menyambangi kotak-kotak genre lain, lalu mencampurkannya ke musik mereka. Menjadikan noise musik mereka lebih bertenaga dan variatif. Maka seperti judul album ini, suara-suara itu melebur dan seolah menari bersama menampilkan warna unik yang catchy.

Dibuka dengan “Play” yang bernada spontan dan bahagia, mood dibawa naik turun melalui jeda-jeda sesaat yang muncul tiba-tiba. Lalu “Sirenical” menyuara dengan intro manis selama dua menit sebelum akhirnya vokal Jajat muncul. Eargasm dari klimaks lagu muncul di akhir, hasil dari ramuan seluruh instrumen yang beradu distorsi. Perasaan nikmat menanti seseorang dalam ketidakpastian coba disampaikan di lagu ini. “Sirenical” sendiri menjadi single pertama dan sudah bisa diunduh gratis sejak Oktober 2013 lalu.

“Dread” kemudian dimainkan dalam parade seru drum progressive dipadankan dengan denting keyboard yang dreamy. Eksperimen masih berlanjut di jamming panjang di tengah “Kites” yang memasukkan unsur psychedelic yang ‘selo’ tapi kuat. Belum cukup, permainan synth menyusup di “Man In The Ocean”, maka sensasi musik digital elektroniklah yang muncul di nomor ini. Sedangkan ibarat sebuah perjalanan, “Frame” membawa unit ini pulang kembali ke genre shoegaze yang nyaman. Lalu ada “All Alone” dengan melodi repetitif yang muncul sedari awal lagu akan mengingatkan kita pada kesendirian yang jamak. Di ujung playlist, sebuah distorsi megah mengakhiri “Fading Away” yang juga merupakan nomor terpanjang di album ini.

Suara-suara yang diramu Ansaphone dalam album ini memberi pilihan bermain dengan emosi yang disembunyikan dalam distorsi gitar, deru drum, denting keyboard atau celah manapun yang Anda suka. Sayangnya untuk band yang sudah mengusung genre tidak biasa, artwork untuk rilisan albumnya masih terlalu biasa. Tidak ada tambahan detail-detail yang spesial. Mungkin Jajat dkk terlalu berkonsentrasi menggarap lagu-lagu unik mereka. [WARN!NG/Titah Asmaning]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.