close

[Album Review] The S.I.G.I.T – Detourn

16032013_Detourn
16032013_Detourn

What : Detourn

Label : FFWD Records

Genre :  Hard Rock, Psychedelic Rock, Garage Rock

Watchful Shot : Black Summer, Owl And Wolf, Tired Eyes, Conundrum

[yasr_overall_rating size=”small”]

Ketika The S.I.G.I.T merilis EP Hertz Dyslexia di tahun 2009, sebagian pihak mengira EP Hertz Dyslexia part 2 akan segera menyusul, dan materi kedua EP tersebut kemudian akan disatukan menjadi sebuah full album. Selang dua tahun berikutnya, Hertz Dyslexia part 2 benar-benar muncul memperkuat prediksi selanjutnya. Namun ketika akhirnya nama “Detourn”, teaser, beserta setlist lagunya dipublikasikan, terkuak jika ternyata album kedua band asal Bandung tersebut seluruhnya berisikan materi baru. Sempat disesalkan di satu sisi bahwa lagu-lagu dahsyat seperti “Money Making”, “The Party”, atau “Up And Down” ternyata harus berakhir di format EP. Di sisi lainnya, ekspetasi dan antusiasme penggemar merekah menyambut amunisi baru dari grup band yang beberapa kali meraih sorotan positif di Australia dan Amerika itu.

‘Indonesian Answer To Wolfmother’, adalah bagaimana media Australia sempat menjuluki The S.I.G.I.T, dan mereka sadari atau tidak, Detourn telah mengonfirmasi pernyataan tersebut. Sejak pertamakali melihat cover album dan judul-judul lagu Detourn yang bernuansa vivid- psychedelic, terlintaslah satu referensi dominan. Adalah Wolfmother, band asal Sidney yang konsisten merasuki track demi track dalam Detourn. Output berupa rentetan riff-riff kokoh berlapis sound gitar yang fuzzy bernaungkan spirit psychedelic, sebenarnya sudah terpantau arahnya sejak revolusi musikal dalam Hertz Dyslexia. Coba dengarkan Detourn secara bergantian dengan Wolfmother, album selftitled dari Wolfmother. Perbedaan yang tajam hanyalah pada karakter lolongan Rekti dan Andrew Stockdale. Saking identiknya, Detourn rawan menjadi incaran kritikus atas tuduhan orisinalitas.

Tak mudah untuk mengacuhkan album Wolfmother sebagai ladang inspirasi bagi Detourn. Bunyi berdengung yang mengawali “Detourn dalam track berjudul sama sudah sedikit memaksa memalingkan memori pada dengung di intro “Minds Eye”. Lalu nomor-nomor selanjutnya  menghujamkan distorsi bersama irama hard rock yang heavy seperti  “Let the Right One In” yang berperan sebagai “Woman” versi Detourn. Adapun riff pembuka dari “Son of The Sam” memiliki beat setipikal riff “Pyramid” yang kebetulan memang satu rupa dengan lagu kawakan The S.I.G.I.T sendiri, “Soul Sister”. Untuk yang pernah mendengar atau menyaksikan Wolfmother beraksi langsung diatas panggung, mungkin juga akan menyadari interlude dari versi live “White Unicorn” menampilkan apa yang kemudian diadaptasi dalam intro “Red Summer”. Gemericik suara gitar yang layak untuk membangun backsound munculnya peri-peri dalam sebuah film fantasi.

Cukup dengan ajang perbandingan, Detourn juga menghadirkan sensasi tak tertebak yang dinanti penggemar awal mereka. Sebut saja “Gate Of 15th”, sebuah kecakapan progresi dinamis sekaligus mengingatkan istilah ‘Zep Rock’ yang sempat disematkan oleh NME’s stereo pada The S.I.G.I.T. “Tired Eyes” memuat chorus paling beracun dalam album ini sebelum dikoyak dengan solo gitar terliar yang pernah diciptakan oleh duet Rekti-Fahri. “Owl And Wolf” menjadi lagu yang mendekati sempurna dalam menjemput bunga tidur di tengah malam, sebelum akhirnya “Black Summer” serta-merta menghantam kesadaran. Riff eksplosif adalah apa yang selalu diandalkan The S.I.G.I.T demi meraih eargasmic pendengarnya, dan “Black Summer” menunaikan tugasnya lebih dari cukup.

Setelah berfoya-foya pada Visible Idea of Perfections dengan garage rock ala Jet dan The Datsuns, album ini kembali berpotensi menyudutkan The S.I.G.I.T dalam stigma band yang barat-sentris. Namun itulah yang membedakan The S.I.G.I.T dengan band satu kiblat lainnya. The S.I.G.I.T merupakan peniru yang handal. Rekti cs mampu merampas dan mengadopsi elemen dari rolemodelnya dengan radikal, kemudian menampilkannya kembali secara total dan elegan tanpa harus terjebak lubang plagiarisme. Nama ‘Detourn’ pun yang disinyalir diperoleh dari istilah Detournement, mengacu pada sebuah metode merenggut esensi suatu orisinalitas dan mengubah haluannya menjadi sebuah senjata oposisif.

Tak sekedar menjawab statement media dari negeri kangguru, The S.I.G.I.T juga memenuhi prediksi sekaligus ekspetasi tinggi yang diemban. Dibanding bermain aman dengan plug n play dan riff-riff catchy ala Visible Idea Of Perfection, Rekti cs memilih meninggalkan pakem rock n roll garage yang kasar, menyiapkan instrumen baru dan segudang efek demi menyongsong variasi yang lebih ajaib. Termasuk mempersembahkan varian semilir permainan flute dan saksofon dari Azis Time Bomb Blues. Singkat kata, aransemen dalam Detourn jauh lebih detail,progresif, dan kompleks. Walau sebenarnya sekelebat sound mantap dan vokal rekti yang makin gila sudah cukup meyakinkan Insurgent Army (penggemar The Sigit) bahwa Detourn akan dapat wira-wiri di berbagai award dari cutting edge media. Muncul di bulan ketiga, Detourn terlanjur menyalakan alarm bahaya bagi album-album rock tanah air yang hendak rilis tahun ini. [Warn!ng/Soni Triantoro]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response