close

[Album Review] Arch Enemy – War Eternal

Arch Enemy
Arch Enemy
Arch Enemy

Arch EnemyWar Eternal

Century Media

Watchful Shot : Never Forgive, Never Forget, Time is Black

[yasr_overall_rating size=”small”]

Pergantian vokalis memang menjadi sebuah tantangan yang cukup berat bagi sebuah band, termasuk juga Arch Enemy. Dinahkodai vokalis cantik perkasa, Angela Gossow – kurang lebih 14 tahun lamanya – memang sulit ketika membayangkan jika posisinya harus tergantikan. Terlebih lagi nama Angela Gossow yang sudah sangat bersinar dijajaran vokalis metal wanita dunia menambah berat beban Allisa White-Gluz, sang vokalis baru untuk mampu bersaing.

Ketakutan dan keraguanpun dirasa akan mengiring perjalanan sang vokalis baru untuk menuju tangga setara dengan punggawa lama. Aura yang sensasional dari Angela nampaknya tak akan mampu tergerus begitu saja oleh Allisa. Namun, ketika mencoba menikmati album kesepuluh Arch Enemy, sekaligus album perdana Allisa White-Gluz dalam komplotan barunya, ketakutan maupun keraguan itupun tak sedikitpun dirasakan. Tarikan suara yang berat dan kuat khas Whita-Gluz seperti menjadi era baru bagi Arch Enemy untuk semakin berjalan jauh menuju kejayaan legenda.

Dibaptis dengan nama War Eternal, album ini seperti menjadi bukti, bahwa mereka tidak dihantui bayangan Angela yang resmi meninggalkan Arch Enemy sejak Maret lalu. Berisi 13 buah rangkaian nada yang cepat dan melodis – dengan tiga lagu sebagai intro, centro, dan outro – album ini terdengar searah dengan album Doomsday Machine, dimana hanya dibedakan oleh sentuhan suara vokal White-Gluz yang tampak garang, berat, sekaligus menawan. Masih kaya dengan riff-riff gitar melodis, perpaduan antara petikan Michael Amott dan Nick Cordle nampaknya tak akan habis kreativitasnya, bahkan setelah 18 tahun diperas dalam sepuluh album dan tiga EP.

Suasana gothic yang sengaja dibangun tetap nampak pekat dalam lagu-lagu yang dirangkai bagai amunisi yang siap dilesahkan ke dalam telinga. Nomor “Never Forgive, Never Forget” yang didaulat melagu setelah intro pun mampu mengejutkan dengan melodi yang cepat dan lapisan vokal yang padat untuk menghapus keraguan. Terus berjalan hampir serupa, suasana berubah hingga bertemu nomor berjudul “Time is Black”, yang dimulai dengan ketukan xylophone bernada horor, disambut dengan riff metalcore modern yang nampak disongsong untuk membangun era baru musikalitas Arch Enemy. Namun,pada era baru ini dan nantipun masih diperlukan kerja yang lebih keras untuk menjadikan karya mereka diakui sebagai karya terbaik dari yang terbaik. Karena diharapkan dengan adanya pergantian, tak lantas hanya menjadi setara, namun juga harus luar biasa dari batasan sebelumnya. [WARN!NG/Bayu Pratama]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.