close

AriReda: Mencintai Puisi dengan Sederhana

AriReda-3
AriReda-
AriReda-

Wawancara oleh: Yesa O. Utomo

Liriknya puitik, bikinan sastrawan besar Indonesia. Petikan gitarnya sederhana, namun aduhai membuai. Lengkingan dari slot vokal begitu khidmat. Meski tak setenar genre-genre lain, rasa dari sebuah puisi begitu hebat bila dinyanyikan. Tak bisa dinisbikan lagi. Maka, menghilangkan lamunan sambil menikmati sentuhan magis musikalisasi dari AriReda, mubah hukumnya. Telah 34 tahun bermusik menggeluti musikalisasi puisi, dua album telah dilepas; Becoming Dew (2007)—yang berisi puisi-puisi Sapardi D. Damono, dan AriReda Menyanyikan Puisi, awal 2015 lalu.

Selama seminggu di pertengahan bulan Mei lalu mereka melakukan tur di enam kota besar Indonesia untuk pertama kali. Banyak yang bertanya, mengapa baru di umur yang sekarang mereka melakukan tur.  Padahal semenjak 1982 mereka telah bernyanyi, meski lebih banyak mengaransemen ulang lagu-lagu Simon & Garfunkel, John Denver, Cliff Richard, Carpenters, dan lain-lain. Baru pada 1987 mereka mulai menyanyikan puisi. “Gagasan ini diwujudkan tahun 1987, ketika itu Fuad Hassan menjadi menteri pendidikan kita. Dari sana, Sapardi membuat album musik khusus puisinya,” ujar Reda Gaudiamo menyinggung sejarah dimulainya karier di bidang musikalisasi puisi ini.

Karya andalan, “Aku Ingin”—puisi milik Sapardi, direkam pada 1987 dan masuk pada album musikalisasi puisi milik Sapardi juga, Hujan Bulan Juni (1989). Dalam beberapa kesempatan di panggung, Reda selaku frontman juga menjelaskan bahwa lagu-lagu mereka banyak dikomposisi oleh Ags. Arya Dipayana dan Umar Muslim. “Mereka berdua adalah penyumbang terbesar lagu-lagu kami,” kenang Reda ketika tampil di Jogja, (16/5). Juga nomor “Hujan Bulan Juni” gubahan Umar Muslim, kini telah dikonversikan dalam media lain; komik, novel, dan menurut kabar terkini bakal diangkat dalam layar lebar.

Dalam turnya yang lalu, AriReda tampak membawa beberapa rilisan untuk dijual ke publik. “Di setiap kota kami menjual CD. Dan hasilnya menyenangkan sekali (tertawa). Karena banyak yang menonton tanpa mengenal kami, maka biasanya CD laris setelah konser selesai.” Tak menyangka Ari dan Reda terhadap hasil penjualan album karena pada awalnya pembuatan album hanyalah untuk membantu alat pengingat. “Supaya tidak lupa, harus didokumentasikan. Juga supaya anak-anak kami tahu,” ujar mereka berdua sepakat.

Di tengah-tengah kesibukan Reda dan Ari, WARN!NG berkesempatan untuk mewawancarainya, tentang; tur, proses kreatif, dan bagaimana sederhananya puisi itu bekerja. Simak penuturan Reda yang juga mewakili Ari Malibu!

 

AriReda
AriReda

Halo, selamat atas rangkaian tur yang dijalani kemarin. Apa yang menarik selama #StillCrazyAfterAllTheseYears di beberapa kota itu?

Banyak sekali yang menarik dari tur ini. Pertama, tentu saja dari sisi persiapannya. Ini adalah tur pertama; kesehatan. Ini penting karena kami main di enam kota, setiap malam. Jadwal sangat padat. Pagi datang, siang check-sound, malam main. Paginya pun kami berangkat sangat pagi, jadi jam tidur pasti sedikit, jadi kesehatan nggak bisa ditawar.

Persiapan lain: barang bawaan. Kami menyiapkan album EP khusus untuk tur ini. Dibuat dalam waktu singkat sekali, hanya dua minggu, termasuk urusan desain dan lain-lain.

Begitu tiba di tempat konser, penonton adalah hal yang paling menarik. Kami bertemu dengan teman-teman baru yang sangat antusias menikmati musik kami. Ada yang sudah mengenal lewat Youtube, ada yang dikenalkan oleh teman, pacar, ibu dan bapaknya, atasan. Ada yang baru saat itu mengenal kami. Penonton dengan segala reaksi mereka adalah berkat dan kebahagian yang amat sangat buat kami. Jumlah penonton beragam, tetapi semua memberi energi positif dan sambutan amat sangat hangat buat kami. Itu luar biasa. Banget.

Hal menarik lagi; di setiap kota kami menjual CD. Dan hasilnya menyenangkan sekali, [tertawa]. Karena banyak yang menonton tanpa mengenal kami, maka biasanya CD laris setelah konser selesai. Menarik, kan?

Di beberapa kota, Anda selalu menjelaskan tentang setlist yang sudah tertata sebelum tampil dan berubah saat di atas panggung. Apakah ini bagian dari improvisasi?

Mood dan energi yang dikirimkan penonton membuat kami mengubah setlist. Beberapa lagu, setelah dinyanyikan, mengantarkan penonton dan juga kami pada mood yang berbeda, yang rasanya lebih cocok bila dilanjutkan dengan lagu lain. Yang berbeda dari setlist yang telah kami susun. Kadang-kadang, mood saya dan Ari pun berbeda sehabis menyanyikan beberapa lagu, sehingga kami jadi diskusi di panggung. Memilih mau pilih lagu usulan Ari atau saya. It’s an open set list all the time, I guess.

Dalam Becoming Dew (2007) dan Menyanyikan Puisi (2015) lebih banyak diisi oleh penyair-penyair lama seperi Sapardi D. Damono, Goenawan Mohammad, Amir Hamzah, dll. Apakah ada hubungan tertentu dengan mereka?

Penyair lama hanya Amir Hamzah.

Kalau hubungan khusus, dengan Sapardi kami cukup dekat. Karena sejak awal kami membawakan karya-karya beliau. Bahkan musikalisasi puisi adalah gagasan beliau bersama Fuad Hassan yang ingin mengenalkan puisi kepada orang muda. Gagasan ini diwujudkan tahun 1987, ketika itu Fuad Hassan menjadi menteri pendidikan kita. Dari sana, Sapardi membuat album musik khusus puisinya. Kami ikut lagi. Dan terus sampai sekarang. Dengan Goenawan Mohammad, kami juga sudah kenal lama, karena beberapa puisinya termasuk dalam proyek musikalisasi awal tahun 1988. Kami sedang mengerjakan beberapa puisinya untuk album berikut kami.

Masih seputar proses kreatif. Dari 34 tahun berkarya, apa yang membuat Anda tetap bersemangat untuk tetap menyebarkan keindahan puisi melalui lagu, dan akhir-akhir ini menjalani tur?

Kami mulai menyanyi tahun 1982. Musikalisasi puisi masuk di tahun 1987-88. Setelah itu, kami masih menyanyikannya hingga tahun 1996. Lalu berhenti. Kami melihat saat itu, tak banyak yang tahu, tak banyak yang mengapresiasi ini. Tetapi kemudian di tahun 2000 awal, kami kaget melihat begitu banyak komentar di internet tentang musikalisasi puisi. “Aku ingin” dan “Hujan Bulan Juni” ternyata cukup populer. Bahkan sering jadi lagu pengantar menuju altar/pelaminan. Itu yang membuat kami tersadar bahwa kami sudah melakukan sesuatu. Harus diteruskan. Kesungguhan itu dikuatkan setelah waktu berjalan lagi dan kami bertemu dengan banyak anak muda, sahabat anak-anak kami, yang begitu mati-matian mencintai musikalisasi kami.

Sungguh keterlaluan dan tidak bertanggung jawab kalau kami berhenti menyanyikan puisi. Kami sudah mulai, dan ketika tumbuh kami pergi, itu sungguh perilaku yang tak bisa dibenarkan. Sehingga kami putuskan untuk lanjut. Sampai selamanya.

Bagaimana Anda memilih puisi yang ‘ini’ dan bukan yang lain untuk dinyanyikan?

Pilihan puisi ada pada rasa ketika membacanya. Kami sangat tergantung mood, rasa, feeling, apalah itu namanya, ketika bertemu dengan puisi. Khusus untuk puisi yang lagu-lagunya sudah dibuatkan oleh sahabat-sahabat kami, juga kami pilih. Kami rasakan melodinya. Ada yang memang tidak pas buat kami. Jadi tidak kami pilih/rekam.

Di album Menyanyikan Puisi (“Gadis Peminta-minta”, “Tuhan Kita Begitu Dekat”, “Lanskap”) tampaknya tema yang diangkat cukup beragam dibandingkan dengan Becoming Dew. Apa yang menarik dan membedakan dari dua album ini?

Becoming Dew adalah album musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono. Tak ada penyair lain. Di AriReda Menyanyikan Puisi, kami memilih menyanyikan puisi banyak penyair. Biar semakin banyak karya penyair kita yang dikenal teman-teman.

Apakah ada rencana untuk menambah perbendaharaan lagu dan menjadikannya album ketiga? Mengingat Menyanyikan Puisi dirilis untuk kepentingan Frankfurt Book Fair.

Album Menyanyikan Puisi tadinya sudah jadi rencana lama sekali. Bahkan sebelum ada undangan untuk ikut Frankfurt Book Fair. Tapi kami tak punya deadline, tidak punya rencana yang jelas untuk itu. Semua ada di daftar, tapi tak kunjung diwujudkan. Urusan dana, waktu, dan lain-lain, membuat rencana itu tertunda terus. Tiba-tiba ada ajakan ke Frankfurt dan kami diminta untuk membuat rekaman dari beberapa karya penyair Indonesia. Rencananya album itu akan dibiayai panitia. Dalam perjalanannya, semua berubah. Biaya tidak jadi muncul, sementara undangan tetap jalan terus. Dalam ketidakpastian itu, David Karto dari Demajors mengajak bekerja sama. Lalu datang dari Groove Box Studio, milik Canga Anton dan Candra Widanarko yang bersedia membantu kami dalam merekam, mixing, mastering. Lahirlah AriReda Menyanyikan Puisi.

Apakah ada rencana membuat album ketiga? Terus terang kami sudah punya draft untuk album ketiga dan keempat.Tinggal dijalani mana yang lebih dahulu. Jadwal konser yang cukup padat dan kegiatan ngantor saya yang tidak menyurut, membuat kami mundur beberapa bulan untuk mewujudkannya.

AriReda
AriReda
AriReda
AriReda

Setelah mengakrabi puisi cukup lama, bagaimana komentar Anda tentang puisi-puisi yang dibuat oleh penyair-penyair muda kita? Ada kritik dan saran tertentu?

Penyair muda kita hebat-hebat. Media sosial membuat karya mereka bisa dikenal lebih cepat dan lebih menyebar. Musikalisasi puisi yang dulu diniatkan untuk mengenalkan puisi karya penyair Indonesia, mungkin bisa diteruskan oleh penyair muda kita. Alangkah indahnya kalau penyair muda kita bekerja sama dengan musikus dan pelaku musik yang juga muda-muda di tanah air kita. Atau bekerja sama dengan band dan pemusik dari main industry/major labels. Wah, pasti liriknya jadi keren-keren, musiknya dahsyat. Mungkin ke depannya, kita akan bisa menikmati lagu-lagu indah dengan lirik yang tak lagi membuat kita gregetan, gemes karena isinya yang entah mau bilang apa dan bagaimana.

Anda berdua berkuliah di fakultas sastra. Apa pengaruh yang didapat dari pembelajaran di sana dan kini berkarya di musikalisasi puisi?

Yang kuliah di sastra hanya saya, Reda. Sedangkan Ari dari Akademi Pimpinan Perusahaan. Saya belajar menyukai puisi karena terlibat dalam proyek musikalisasi puisinya Pak Sapardi dan Pak Fuad Hassan. Dan baru menyukainya setelah menyanyikan puisi beberapa tahun kemudian. Puisi –dulu—menakutkan buat saya. Sulit rasanya memahami puisi. Teori/asumsi Pak Sapardi bahwa musik akan membantu orang lebih suka puisi, saya buktikan. Puisi “Aku Ingin” saya suka lagunya. Suka menyanyikannya. Tapi saya baru benar-benar memahami maknanya setelah menyanyikannya dua tahun kemudian.

Pembelajaran puisi, berangkat pada memahami bunyi yang muncul pada setiap kata dari puisi itu. Setiap puisi menyuarakan pesan, dan kita menangkapnya. Kalau nggak tertangkap, ya berarti puisi itu tidak bicara pada kita. Atau kita sedang tak ingin “mendengarkan” apa yang ingin disampaikan puisi itu.

Banyak membaca, tidak hanya puisi, membantu kita memahami puisi. Kaitan kata yang satu dengan yang lain membantu saya memahami bagaimana membawakan puisi ini, bagaimana menyanyikannya, emosi mana yang tersentuh dan ingin kita bagikan kepada yang lain. Khusus untuk membuat musik dari sebuah puisi, saya perlu membaca puisi itu beberapa kali. Kadang-kadang ada puisi yang begitu cepat kita pahami. Bahkan melodinya pun berlompatan, tinggal ditangkap dan dinyanyikan. Tapi ada juga yang lama, tak kunjung muncul padahal puisinya begitu indah dan menggoda untuk dinyanyikan.

Jadi, kembali ke pertanyaan: apakah ada pengaruh pembelajaran di sastra yang membantu memahami puisi? Buat saya, tidak. Karena saya secara sengaja menjauhi sastra dengan mengambil linguistik. Saya merasa saya tidak punya bakat untuk memahami sastra.Tetapi proyek musikalisasi puisi Sapardi – Fuad mengubah semua itu. Pembelajaran itu datang kemudian. Dan terus sampai sekarang.

Mengingat bentuk musikalisasi puisi yang hanya dimainkan beberapa orang atau kelompok. Apa tantangan Anda sebagai musikus yang bergenre musikalisasi puisi di Indonesia?

Tantangannya: untuk kalangan tertentu, musik kami dianggap terlalu serius. Terlalu mengawang-awang. Tetapi kami tak peduli benar. Karena yang suka, yang menikmatinya, ternyata banyak banget. Dan untuk itu kami tak putus bersyukur, berterima kasih.

Mungkin kalau ada tantangan lain, musikalisasi dianggap sebagai genre super serius, yang tidak semua orang bisa lakukan.  Sebetulnya, kami ini sama dengan grup folk atau akustik lain. Kebetulan saja kami menyanyikan lagu yang syairnya kami ambil dari puisi. Seperti yang dilakukan Banda Neira atau Frau

Oke pertanyaan terakhir. Siapa musikus atau penyair muda Indonesia yang karyanya seksi menurut Anda?

Saya suka banyak sekali musikus muda saat ini: Frau, Mr. Sonjaya, Silampukau, Stars and Rabbit, Scaller, Banda Neira, Barasuara, White Shoes & The Couples Company, banyak sekali!

Saya suka semua lirik lagunya Frau dan Silampukau. Menurut saya, mereka musisi sekaligus penyair muda. Untuk penyair masa kini, saya suka Hanna Fransisca, Zeffry Alkatiri, Zen Hae.

 

AriReda-
AriReda-

photo by: Aditya Adam

Gig Report –>  Rampai Indah Musik dan Puisi AriReda
Gallery –> Still Crazy After All These Years Tour [Yogyakarta]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response