close

[Book Review] Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia

arsipelago
arsipelago
arsipelago

[yasr_overall_rating size=”small”]

Judul: Arsipelago : Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia

Penulis: Anna Mariana; Erie Setiawan; Galatia Puspa Sani Nugroho; Gde Putra; Hafiz Rancajale; Helly Minarti; Janed Suryatmoko; Kathleen Azali; Muhidin M Dahlan; Rachmi Diyah Larasati

Penerbit : Indonesia Visual Art Archive (IVAA)

Tahun terbit: Mei 2014

Tebal Buku : xx +204 hlm

Menguak Kelamnya Dunia Arsip di Indonesia

Karena tumpukan dokumen itu bukan sekedar sampah. Sesuatu yang terarsipkan akan abadi. Tugas arsip bukan hanya sebatas tumpukan dokumen pengingat, ia punya fungsi jauh dari itu.

Berbicara tentang kerja arsip dan pengarisipan bisa dikatakan sebuah pekerjaan yang kurang diminati masyarakat kita saat ini. Permasalahan dalam dunia arsip pun kurang banyak dibicarakan baik oleh masyarakat umum maupun kalangan akademisi. Arsip merupakan salah satu elemen penting terutama bagi yang mereka berkecimpung di dunia akademik. Jika merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arsip adalah dokumen tertulis, lisan, atau bergambar dari waktu yang lampau, disimpan dalam media tulis, elektronik, biasanya dikeluarkan oleh instansi resmi, disimpan dan dipelihara di tempat khusus untuk referensi. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern tentunya kehidupan kita tidak bias lepas dari kerja arsip. Entah itu dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Sebagai contoh kecil, keluarga kita menyimpan Akta tanah, Akta kelahiran maupun kartu keluarga. Selain itu, sering kali keluarga kita bahkan diri kita sendiri mengabadikan momen-momen penting dalam bentuk foto lalu menyimpannya. Tanpa kita sadari kegiatan-kegiatan ini adalah salah satu bagian dari kerja arsip maupun pengarsipan.

Mengarsip sendiri memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan seseorang, salah satunya sebagai alat political of claim. Bisa dibayangkan jika kita memiliki anak tanpa akta kelahiran. Di sinilah salah satu peran arsip. Tentunya kita akan menyimpan akta kelahiran anak kita, jika dikemudian hari ada orang yang mengakui anak kita sebagai anaknya. Kita memiliki kekuatan hukum untuk mengklaim bahwa ialah anak kita.

Betapapun pentingnya arsip dan kegiatan mengarsip, ternyata negeri ini kurang memperhatikan hal tersebut. Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat bersitegang dengan Malaysia akibat klaim atas beberapa budaya Indonesia. Malaysia berusaha mematenkan reog, batik dan keris sebagai budaya mereka. Tidak hanya Malaysia, Jepang pun berusaha mematenkan tempe yang merupakan makanan asli Indonesia. Klaim ini muncul lantaran buruknya kerja arsip dan pengarsipan di Indonesia. Permasalahan utama inilah yang diangkat oleh buku yang berjudul Arsipelago : Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia. Dalam penyusunannya, buku ini ditulis oleh sepuluh orang yang memiliki latar belakang pendidikan berbeda-beda. Mereka menceritakan kondisi arsip ini dari kacamata yang berbeda-beda.

Dalam buku ini ada satu kritik yang sangat dalam untuk kita. Kritik ini ada dalam tulisan Muhidin M Dahlan yang terdapat di BAB I buku ini. Ia menceritakan tentang mulai hilangnya budaya mengkliping. Jika merujuk ke kamus kliping sendiri artinya guntingan koran. Menggunting koran per artikel kemudian dipisahkan sesuai dengan kelompok yang kita inginkan. Menurut Muhidin mengkliping tak semata dan menyusun peristiwa yang “menjadi berita” dalam bentuk kronik hari demi hari. Praktik mengkliping jauh lebih luas dari itu, yakni mengumpulkan dan menguratori serpihan gagasan atau ide tentang suatu hal yang terentang jauh. Mendokumentasikan gagasan tertulis bukan hanya memberi gambaran pergulatan pemikiran, tapi juga pertumbukan dan kesinambungan ide itu sendiri (hal. 9).

Buku ini tak hanya membahas tentang pergulatan arsip cetak saja. Ada juga cerita tentang arsip tari, musik, dan musik yang jauh lebih miris keadaanya. Miskinnya arsip fisik di tiga bidang ini, membuat sulit melacak kepingan penting sejarah di masing-masing bidang. Hal ini membuat penelitian-penelitian yang dilakukan oleh kaum akademisi sering kali menemui kesulitan karena banyak kekosongan arsip.

Merawat dan menyimpan arsip bersejarah bukan perkara yang mudah. Dibutuhkan dana tentunya agar arsip tersebut terus dalam kondisi baik dan dapat digunakan. Tidak sedikit lembaga-lembaga atau perseorangan yang menyimpan arsip-arsip bersejarah tidak merawat arsip tersebut akibat kurangnya sokongan dana. Buku ini mencoba menggambarkan permasalahan tersebut salah satunya melalui tulisan Hafiz Rancajale mengenai H. Misbach Yusa Biran. Pak Misbach merupakan salah satu tokoh arsip film Indonesia. Ia bersama tiga orang rekannya merupakan pendiri Sinematek Indonesia (SI) yang bergerak di bidang pengarsipan film Indonesia. SI berdiri secara resmi pada tahun 1975. Pada awalnya SI mendapat dukungan dari pemerintah pada masa itu, hal ini dikarenakan Pak Misbach memiliki hubungan baik dengan rezim orde baru (Orba). Setelah runtuhnya rezim Orba ini SI mulai tidak mendapatkan perhatian lagi dari pemerintah. Saat ini dari ribuan koleksi SI berada dalam kondisi memprihatinkan. Roll film koleksis SI pun banyak yang tergores sehingga ada bagian yang tidak dapat ditonton. Dapat dikatakan ada sebagian kecil dari sejarah Indonesia yang sudah hilang.

Kurangnya dukungan dari pemerintah membuat kerja arsip dan pengarsipan di Indonesia dilakukan oleh individu dan komunitas. Misalnya kisah Oei Hiem Hwie yang mendirikan perpustakaan Medayu Agung, di daerah Rungkut, Surabaya. Perpustakaan yang didirikan olehnya banyak menyimpan arsip penting sejarah Indonesia. Banyak wartawan, mahasiswa, dan peneliti dari dalam negeri pernah berkunjung kesini. Nama-nama tersebut diantaranya Charles Coppel, Daniel S Lev, Benedict Anderson, Roger Tol, Mira Sidharta, Pramoedya Ananta Toer, dan masih banyak lagi. Hingga tulisan dalam buku ini dibuat perpustakaan Medayu Agung tidak pernah mendapat daya dukung dari pemerintah dan lembaga formal lainnya. Perpustakaan Medayu Agung adalah salah satu contoh perpustakaan yang mampu bertahan di tengah sulitnya keuangan untuk lembaga pengarsipan. Tidak sedikit perpustakaan atau lembaga pengarsipan tutup akibat tidak adas okongan dana. Terakhir salah satu perpustakaan bersajarah di Yogyakarta tutup. Perpustakaan yang berdiri sejak tahun 1968 tutup akibat tidak ada sokongan dana dari pemerintah. Lebih miris lagi ketika koleksi perpustakaan tersebut akhirnya dijual pada umum. Mungkin ,masih banyak lagi perpustakaan atau lembaga arsip yang senasib di daerah lainnya

Hal-hal serupa dapat saya rasakan ketika masih ikut menghidupi salah satu pers mahasiswa tingkat universitas di Yogyakarta. Banyak sekali arsip penting terutama terkait sejarah universitas itu sendiri. Akan tetapi, banyak di antaranya yang rusak. Arsip-arsip tersebut dirawat oleh uang mahasiswa yang pas-pasan, sehingga perawatanya pun seadanya. Selama beberapa tahun saya di sana tidak ada perhatian khusus dari pihak universitas untuk merawat arsip itu.

Jika kondisinya seperti ini terus kepingan-kepingan sejarah yang sudah tersusun menjadi kesatuan kembali terpecah. Kepingan yang tadinya sudah terkumpul dalam sebuah lembaga arsip.Sejarah yang akan menjadi kepingan akan tercecer dan tidak menutup kemungkinan untuk hilang. Budaya yang tadinya sudah terarsip milik Indonesia kini berpindah tangan ke negeri orang. Maklum rakyat kita baru mulai marah dan peduli ketika hal tersebut terjadi. Memang masyarakat kita lebih senang mengobati daripada mencegah.

Tulisan ini dikirim oleh: Rifki Afwakhoir

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response