close

Art Event Bali Tolak Reklamasi

2014-10-19 16.10.24

 

2014-10-19 16.10.24     pamflet Art Event

Masih membekas di ingatan saya bagaimana mini konser yang mengangkat isu reklamasi Teluk Benoa ini dimulai. Kala itu di sebuah kafe di daerah Denpasar Utara, tak lebih dari 30 orang berkumpul untuk menonton beberapa band yang didaulat menjadi penampil. Di pintu masuk sebuah komputer portabel disodorkan, berharap tanda tangan di petisi online yang mereka buat kian bertambah. Ternyata acara hari itu bukan yang pertama, sebelumnya acara sejenis pernah mereka adakan di sebuah bar tempat komunitas underground biasa berkumpul untuk sekadar mengobrol sambil menikmati arak orange yang jadi signature drink di bar tersebut.

Namun tanggal 19 Oktober 2014 kemarin semua sangat berbeda. Tidak hanya 30 orang, namun ribuan. Tidak hanya 5 band yang manggung tanpa panggung, tapi total 4 stage disediakan untuk mengakomodasi sekitar 250 seniman yang terdiri dari musisi, kelompok teater, street artists, digital artists, perupa, penari, dan lain-lain. Dari pintu masuk penonton sudah disambut Segara Stage. Panggung ini memang tak seberapa megah. Namun latar belakang laut dan tinggi panggung yang hanya selutut orang dewasa bagai menjanjikan rasa nyaman dan keintiman yang sebelumnya tak pernah ditawarkan. Di tengah venue tersedia 2 panggung, Flying Stage yang tergantung di sebuah mobil eskavator dan Moving Stage yang didirikan di sebuah truk besar. Bagian bawah Moving Stage dipenuhi mural mahakarya beberapa komunitas seni Bali maupun pribadi. Semuanya sepakat untuk menolak reklamasi. Sementara itu Giri Stage, panggung utama berukuran 8×12 meter berdiri kokoh di belakang. Di samping kiri dan kanan venue berjajar booth-booth makanan, minuman, serta merchandise yang 10% dari hasil penjualannya akan disumbangkan untuk mendanai kegiatan Walhi Bali, sebuah organisasi lingkungan hidup yang vokal menyuarakan penolakan reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa.

Acara yang dimulai sejak pukul 11 pagi ini mendapuk Rampegs, Poison and Rose, serta Fourfast sebagai trio pembuka. Kemudian acara sempat break sejenak untuk melakukan Puja Tri Sandhya. Kini giliran Ugly Bastard, unit punk/hardcore asal Denpasar, yang mengambil alih singasana Giri Stage. Dilanjutkan dengan band side project Made ‘Navicula’, Garden Grove. Gold Voice mengalihkan perhatian para homies yang sudah menanti sejak siang ke Segara Stage dengan nomor-nomor andalannya. Lalu secara bergantian The Bullhead yang mendapat julukan sebagai Green Day-nya Bali dan BATM mengokupasi panggung.

Di Giri Stage, penonton berambut mohawk dan berompi keling meringsek ke barisan depan mendemonstrasikan gerakan-gerakan pogo favoritnya mengiringi lantunan lagu The Djihard yang dilanjutkan dengan penampilan grup perkusi tradisional asal Jakarta, Kunokini. Setelah itu Geekssmile turut melagukan lirik-lirik sarat perlawanannya dalam “Yeah Yeah Yeah Indonesia” dan “Bayang Tak Berwajah”. “Omong Kosong” dari The Dissland yang seakan ditujukan kepada para investor yang bermain dibalik proyek reklamasi ini membuat lingkaran pogo penonton semakin besar, dan diakhiri dengan Ripper Clown yang me-medley-kan “Negeri Surga” dengan “Bali Tolak Reklamasi”.

Crowd kemudian berbondong-bondong menuju Segara Stage untuk menonton penampilan Mom Called Killer yang telah bersiap. Cukup ganjil menyaksikan sebuah band metalcore bermain di atas panggungrendah yang sebenarnya akan lebih cocok untuk penampilan akustik atau semacamnya. Kemudian sebuah band bergenre garage rock ‘n roll yang baru saja menelurkan album EP pertamanya bertajuk Atlantis, Deep Sea Explorer, memanggil penonton untuk kembali ke Giri Stage dengan single-singlenya yang catchy.

Belum puas berdansa, di tengah venue Bali Guitar Club sudah mencuri perhatian dari atas Flying Stage, panggung melayang yang dikaitkan pada sebuah mobil eskavator untuk mengangkatnya ke udara. Penampilan Bali Guitar Club sebagai performer perdana di panggung ini kontan saja menarik setiap kamera dan gadget untuk mengabadikannya. Bisa ditebak setelahnya, postingan instagram pasti akan dipenuhi foto mereka. Terlepas dari gangguan teknis pada sound vokal yang tidak optimal, mereka sangat memukau. Mengakhiri pentas dengan meng-cover Stairway To Heaven milik Led Zeppelin yang diikuti aksi sing along dari penonton, Penampilan Bali Guitar Club sukses menjadi salah satu momen tak terlupakan di Art Event Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa ini.

Seiring terbenamnya matahari, Morelia menghibur penonton dari Segara Stage. Sayangnya mereka hanya mendapat kesempatan membawakan satu lagu dikarenakan ketatnya durasi. Selanjutnya ada Riwin Ami Monos membuka penampilan dengan “Close To You” yang membuat suasana semakin romantis dengan petikan gitar dan alunan flute-nya, cocok dengan rona senja dan hembus angin laut sore itu. Seakan tak terima melihat penonton terbuai, Criminal Asshole memaksa penonton kembali memacu adrenalinnya lewat dentuman hits-hits lawas mereka. Kemudian tabuhan drum “DIY” dari Bali Xtreme Drummers mengiringi langit yang mulai gelap.

Sementara itu, barisan penonton sudah duduk rapi di hadapan Segara Stage menanti penampil berikutnya, Dialog Dini Hari. Butuh waktu cukup lama dan kaki saya sudah beberapa kali mati rasa hingga akhirnya Dadang “Pohon Tua” naik ke atas pentas. Tanpa banyak basa-basi ia segera melantunkan “Pohon Tua Bersandar” sebagai nomor pembuka. Penampilan DDH ditutup cantik oleh “Terbang Melayang” yang kembali memancing penonton untuk kembali ber-sing along. Masih dari tempat yang sama, Mekar Buana sudah bersiap dengan gamelannya, menambah syahdu suasana. Yang menarik perhatian tentu saja seorang anak kecil keturunan yang lihai sekali memainkan gambang.

Aksi Ayu Laksmi & Svara Semesta yang berkolaborasi dengan seorang sastrawan ternama, Cok Sawitri, sukses menggetarkan hati serta membuat bulu kuduk berdiri. Dari Moving Stage, Made Bayak, yang sebelumnya telah melakukan aksi teatrikal menimbun dirinya sendiri dengan tanah, berorasi dengan lantangnya membakar semangat setiap yang hadir. Acara ditutup oleh Nosstress dan Superman Is Dead sebagai penampil terakhir.

Pernyataan bahwa para penolak reklamasi hanya segelintir terpatahkan melihat massa yang memenuhi venue malam itu. Pantai Padang Galak sendiri dipilih menjadi lokasi pelaksanaan Art Event Bali Tolak Reklamasi karena ia merupakan saksi sejarah perjuangan masyarakat Kesiman menggagalkan rencana reklamasi yang pernah dicanangkan sebelumnya. Berharap bisa mengulang kesuksesan yang sama, tidak salah jika ia dipilih menjadi lokasi pelaksanaan Art Event Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa ini. [Dian Trifinanti]

2014-10-19 19.07.49
2014-10-19 16.25.35
2014-10-19 17.24.20
2014-10-19 18.16.47
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response