close

Ash-Shur: Sangkakala dari Tanah Sunda

IMG_4513 (compress)

Gelap, penuh misteri, dan tak bisa ditebak kedatangannya; nyaringlah suara yang datang dari langit. Bergetarlah tanah di bumi dan gunung-gunung memuntahkan lahar panas. Sedang empat pemuda masih bermain musik; memutar kadar distorsi, meliukkan riff gitar pada gebukan drum, dan mencipta fantastika psikedelia. Ash-Shur menyematkan experimental/gypsy pada musiknya, penuh dengan misteri dan gelapnya psikedelik.

Andi William (gitar, vokal), Galih Dwi Rizki (gitar), Daniel Pratama (bass), dan Gifran Aria (drum) membentuk unit musik ini pada 2016 didasarkan pada kesukaan musik yang sama. Suara-suara eksperimental tahun 60-an dan 70-an mendominasi. “Setiap suara yang kami dengar setiap hari secara tidak langsung akan mempengaruhi alam bawah sadar kami. Tapi mostly, kami sangat terinspirasi dengan musik-musik pada tahun 70-an,” ujar mereka.

Tak salah, suasana psike itu bisa kita dengarkan pada “The Great Depression”. Salah satu single yang bercerita tentang suatu fase hidup. Dalam fase tersebut, terdapat sebuah persimpangan antara kehidupan remaja dan dewasa. Karakter yang diceritakan dalam nomor tersebut mempunyai penyakit mental dan tidak siap menghadapi masa dewasa. Sehingga perbedaan antara impian masa kecil dan realita yang berbeda membuatnya frustasi. Pendengar akan dibuai intro dengan melodi yang terkesan oriental sebelum disadarkan vokal William; “I was blessed by the moon / And then cursed by the sun / ‘Looks you’ve trapped at the holy doom’”. Beberapa bagian plot yang acak pada bentuk lagu dan terkesan meloncat justru menambah kesan misterius “The Great Depression”. Delay pada riff gitar dan membentuk suasana suara angin sangat kental dalam nomor ini. Mengingatkan saya pada pada album Meddle milik Pink Floyd, tetapi dengan gaya yang lebih agresif.Dengan menit yang cukup panjang, Ash-Shur serasa menolak hanya memberi satu sudut pandang bentuk musik.

“Kami terinspirasi pada Pink Floyd, Santana, Led Zeppelin, Jethro Tull, King Crimson, dan lain-lain dalam pembentukan musik kami. Banyak sekali kalo disebutkan semua. Semua band memberikan inspirasi terhadap kami. Baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujar mereka ketika diwawancarai WARN!NG. Pada akun resmi Souncloud-nya, ada “Temple of Zumbi” dan “Storm Coming”.

“Temple of Zumbi” bercerita tentang sebuah kuil yang bisa menyelamatkan orang dari realita kehidupan. “Setiap orang yang mampir ke kuil Zumbi, nantinya bakal bersih seperti baru dilahirkan kembali”, ujar mereka. Zumbi mengingatkan kita pada sosok pahlawan lokal di kota Palmeiras, Brazil, yang berusaha keluar dari bentuk perbudakan kolonialisme Portugis abad ke-16. Di awal, geberan psikenya langsung terasa, tak memberi kesempatan untuk melepas pendengaran. Baru pada beberapa bagian, temponya diturunkan lalu meroket lagi hingga akhir nomor, dan ditutup dengan melodi gitar yang lembut. Berbeda dengan dua nomor sebelumnya yang lebih instrumentalia, “Storm Coming” menyediakan lebih banyak porsi bagi vokal. Ia merupakan nomor yang bercerita tentang  keadaan saat ditempa berbagai prahara. “Lagu ini semacam lagi benci-bencinya sama hidup.” Temponya lebih lambat jika dibandingkan “Zumbi” dan “The Great Depression”.

Sebagaimana unit musik yang baru tumbuh, masalah finansial pasti menghinggapi. “Kesulitan yang kami hadapi sih cukup klise ya, yaitu masalah finansial, disamping harus mempunyai karya yang bagus. Faktor itu sangat berpengaruh kami rasa,” tutupnya. Meski harus berbenturan dengan masalah keuangan, namun mereka berencana merilis EP pertengahan tahun ini.

Ash-shur adalah musik psikedelik 70-an yang lebih modern. Ia masih bersih dari “LSD”-nya The Doors tapi hampir menyentuh Mercury Rev. Mereka tidak warna-warni hippie, tapi hitam-putih agresif—lebih menendang.Dan dengan hadirnya sangkakala dari Bandung ini, manusia-manusia harus segera ‘bertobat’ sebelum bunyi-bunyi sangkakala lain terdengar! [WARN!NG/Yesa Utomo]

Download Ash-Shur “The Great Depression” di WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017 DI SINI!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response