close

[Movie Review] Avengers: Age of Ultron

lots-of-new-avengers-age-of-ultron-character-details

Director                : Joss Whedon

Cast                       : Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Scarlet Johansson

Durasi                   : 141 menit

Studio                   : Marvel Studios

age of ultron
age of ultron

Film-film superhero mendapatkan pamornya kembali di awal tahun 2000-an. Film seperti X-Men dan Spider-Man membawa kembali keyakinan studio untuk membuat film superhero live action. Sampai di tahun 2008, Iron Man mulai diputar. Tanpa disadari, film yang dibintangi Robert Downey Jr. itu telah melahirkan raksasa baru dalam industri perfilman, Marvel Cinematic Universe (MCU). Tercatat sudah 11 judul film yang termasuk ke dalam bagian MCU. Setelah 11 film itu, Marvel sendiri belum mau berhenti dan merencanakan 11 film lagi yang akan dirilis satu per satu hingga 2019.

Sementara itu, “tetangga” Marvel, DC, juga terinspirasi oleh kesuksesan Marvel untuk membangun semesta yang menampung superhero-superhero kondang mereka. Dimulai dari Batman vs Superman yang akan rilis tahun depan, DC sendiri telah mantap dalam membawa Justice League ke layar lebar. Dengan begini, tren film superhero yang dimulai dari awal millennium rasanya belum akan berhenti untuk waktu yang masih panjang. Di tahun ini, salah satu judul terbesar dari film-film superhero yang akan diputar adalah Avengers: Age of Ultron, film ke-11 dari MCU.

Sama seperti film sebelumnya, Age of Ultron masih membawakan lakon perjuangan Iron Man, Captain America, Thor, Hawkeye, Hulk, dan Black Widow untuk menjaga Bumi dari berbagai ancaman. Kali ini, ancaman itu datang dari Ultron, sebuah sistem pertahanan yang sejatinya dibuat oleh Tony Stark/Iron Man sendiri. Konflik yang terjadi juga datang dari dalam The Avengers sendiri yang dihadapi oleh sisi gelap dirinya masing-masing. Sementara itu Ultron menganggap kalau bumi hanya bisa dilindungi jika seluruh manusia dimusnahkan.

Dalam film ini, The Avengers juga menemukan rintangan dalam diri Pietro dan Wanda Maximoff, saudara kembar yang memiliki kekuatan manusia super. Para penggemar komik superhero tentunya sudah tahu kalau Pietro Maximoff tak lain adalah Quicksilver, mutan dengan yang memiliki kecepatan di atas rata-rata. Sementara Wanda adalah Scarlet Witch, dengan kekuatan manipulasi benda dan pikiran. Si kembar Maximoff sendiri merupakan anak dari Magneto. Namun, karena isu hak cipta antara Walt Disney Studio yang menaungi Marvel dan 20th Century Fox yang memegang hak atas franchise X-Men, tak ada satupun detail di atas yang disebutkan dalam film.

Secara keseluruhan, Age of Ultron sama sekali bukan film superhero kacangan yang dapat begitu saja diabaikan. Joss Whedon memberikan sebuah tontonan yang cerdas dan menghibur berkat penaskahan dan penyutradaraannya. Meskipun dalam durasinya sepanjang 141 menit, Age of Ultron terasa seperti terus menerus mencari dan membangun titik klimaktik yang tak kunjung hadir hingga film selesai. Tapi sisi komedi dan hubungan antar setiap karakter telah cukup menutupi kekurangan ini. Hubungan tarik-ulur yang canggung antara Bruce Banner/Hulk dan Natasha Romanoff/Black Widow menjadi satu contoh poin menarik yang bisa dinikmati pada Age of Ultron.

Kemudian, dengan datangnya karakter baru seperti The Vision, dan juga karakter dari film-film sebelumnya seperti War Machine dan Falcon, Age of Ultron terasa terlalu berlebihan dan rumit. Memamg harus dipahami kalau ide pokok dari The Avengers sendiri memang merupakan kesatuan superhero yang bersama-sama melawan satu musuh, kurang lebih seperti Power Rangers. Namun, penambahan tokoh-tokoh baru ini tidak dibarengi dengan signifikansi yang cukup terhadap cerita secara keseluruhan. Sehingga tokoh-tokoh seperti War Machine atau Falcon yang sebenarnya menarik menjadi terlalu mudah untuk dilupakan. Begitu pula dengan The Vision.

Dengan 11 film yang akan datang, setiap karakter rasanya akan semakin berdesakan untuk mendapatkan pengaruh yang lebih di sequel The Avengers berjudul Avengers: Infinity War. Namun, selama masih dinahkodai oleh Joss Whedon, rasanya para penggemar The Avengers akan terus rela mengantri untuk menyaksikan filmnya. Jujur, Kedua film The Avengers bukanlah film terbaik dalam jajaran film-film MCU. Captain America: The Winter Soldier atau Iron Man bisa dikatakan jauh lebih baik. Namun, posisi The Avengers sebagai ujung tombak MCU tentu tak akan tergantikan.

Di sinilah masalah muncul. Seperti yang kita tahu, Walt Disney telah menguasai Marvel Studio, hal ini yang mau tidak mau menurunkan kualitas film-film Marvel. Namun, Marvel sendiri sepertinya terselamatkan oleh dogma kalau penonton akan menonton apapun dengan label Marvel di depannya. Akan sangat mengecewakan kalau film The Avengers berikutnya hanya akan mengandalkan dogma ini untuk melindungi reputasinya. Semoga saja hal ini tidak berpengaruh pula pada film-film Marvel lainnya. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response