close

#BALIASIK: Reklamasi Adalah Kejahatan Lingkungan

IMG_0489

IMG_0489

 

Solidaritas musisi yang tergabung dalam #BALIASIK kemarin (3/9) menyatakan dukungan terhadap gerakan tolak reklamasi. Mereka menyebut reklamasi Teluk Benoa adalah kejahatan lingkungan hidup.

Dukungan terhadap gerakan Bali Tolak Reklamasi terus mengalir. Kali ini datang dari solidaritas musisi dan pegiat seni yang tergabung dalam #BALIASIK. Mereka ialah Melanie Subono, Kojek Rap Betawi, Marjinal, Brianna Simorangkir, Happy Salma, Djenar Maesa Ayu, Coky, Marcello Tahitu, Pongky Barata, Deni Frust, Tony Q, Steven Jam, Superglad, Glenn Fredly, Nosstress, Wanggi Hoediyatno, Superman is Dead, Andreas Iswinarto, Sandrayati Fay, The Hydrant, The Bullhead, Made Mawut, Navicula, Soundbowy Dodix, Taring Babi, Iksan Skuter, Alit Ambara.

Melalui konferensi pers yang berlangsung di Jakarta kemarin, mereka secara tegas menyatakan dukungan terhadap forbali dan menolak reklamasi Teluk Benoa. Ada tiga hal yang menjadi penyataan sikap mereka;

  1. Menyatakan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa
  2. Menginginkan Bali seperti adanya kini: lekat dengan budaya, hangat serta ramah secara sosial kemasyarakatn, didukung lingkungan yang asri-hijau tanpa manipulasi ekologi.
  3. Menyatakan solidaritas setinggi-tingginya kepada para pejuang lingkungan dan desa adat yang saat ini sedang brutal diintimidasi, dikriminalisasi.

Sikap ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Pertama,  eksotisme Bali yang mencengangkan kini berujung pada serbuan investor. Berlomba-lomba mereka mencoba meraih sekeping hingga segepok pundi-pundi keuntungan. Dengan mengatasnamakan “pembangunan” serta “kemajuan” pulau Bali berkembang begitu pesat. Namun, kompetisi untuk merebut profit mulai mengarah ke wilayah tak sehat: “pembangunan” dan “kemajuan” tergelincir menuju “eksploitasi” dan “degradasi”.

Kedua, #BALIASIK juga mencontohkan bagaimana ketamakan investor tercuat vulgar di rencana reklamasi Teluk Benoa. Demi menggaet keuntungan berlipat-lipat para pemilik modal menggelontorkan niat mengurug laut lalu membuat pulau-pulau baru. Segala fasilitas modern turisme hendak dibangun di situ. Ini bukan saja berarti berkhianat pada spirit Bali yang lekat dengan adat dan budaya, juga jahat pada kelestarian lingkungan hidup. Belum lagi Bali yang sudah kelebihan ribuan kamar—tak perlu lagi dibangun hotel sebab sudah amat berlebih—serta trauma yang belum hilang atas kegagalan reklamasi Pulau Serangan yang terbukti menghancurkan garis pesisir dari Serangan, Sanur hingga jauh ke timur.

Bahkan mereka juga menyebut, demi mencapai tujuan mengurug Teluk Benoa investor tiada segan-segan menempuh jalur lancung. Yang paling mutakhir, mereka berupaya mengkriminalisasi aktivis penolak rencana reklamasi I Wayan “Gendo” Suardana sekaligus membungkam perlawanan desa adat. Para pengemban jabatan penting di pemerintahan, aparat bersenjata, serta barisan ormas pun ramai-ramai dikerahkan untuk mengintimidasi gerakan anti investor rakus tersebut. [WARN!NG/Umaru Wicaksono]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.