close

Bekraf dan Irama Nusantara Arsipkan Era Piringan Hitam Indonesia

Irnus X Bekraf (3)
Irnus X Bekraf
Irnus X Bekraf

Berangkat dari kecintaan terhadap musik populer indonesia di masa silam, segelintir orang yang terdiri dari pekerja dan penikmat seni menggagas sebuah gerakan pengarsipan musik populer Indonesia dari format piringan hitam menjadi berkas digital. Musik populer Indonesia yang diarsipkan lebih tepatnya yang rilis di era tahun 1920-an hingga 1980-an. Secara swadaya, sejak tahun 2013 para penggagas Irama Nusantara yang juga hobi mengoleksi rilisan musik ini mulai mengarsipkan, selanjutnya hasil digitalisasi piringan hitam musik populer di Indonesia tersebut akan diunggah ke dalam situs iramanusantara.org.

Bertempat di Rolling Stone Café Jakarta, pada hari Rabu 1 Juni 2016 lalu menjadi sebuah langkah besar bagi gerakan Irama Nusantara setelah Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf meresmikan program kerja sama pengarsipan dan pendataan hasil industri rekaman di Industri rekaman di Indonesia. Nantinya hasil kerja dokumentasi ini akan dapat dengan mudah dinikmati melalui situs iramanusantara.org. Situs arsip musik populer Indonesia tersebut dapat diakses secara interaktif melalui perangkat elektronik berbasis internet karena selain dapat mendengarkan seluruh koleksi musik secara gratis. Pengunjung juga dapat menikmati sajian karya visual dalam bentuk salinan digital sampul album yang dirilis saat itu.

Irnus X Bekraf
Irnus X Bekraf

Minimnya ketersediaan piringan hitam dengan kondisi layak menjadi tantangan tersendiri selama proses alih bentuk musik Indonesia dari fisik menjadi berkas digital. Menemukan piringan hitam dalam kondisi baik adalah sebuah keberuntungan karena proses alih bentuk akan menjadi lebih mudah dan murah. Oleh karena itu, upaya dokumentasi musik era tahun 1950-an ke bawah menjadi prioritas dan mendesak untuk dilakukan dibandingkan dengan upaya pengarsipan musik era selanjutnya. “Plat-plat dari era tersebut untuk menemukannya saja susah, apalagi dalam kondisi baik. Bahannya juga bukan vinil, sehingga mudah sekali pecah. Ditambah keadaan cuaca Indonesia serta metode penyimpanan yang sederhana, situasi ini tidak memungkinkan piringan hitam berumur panjang.” Ujar David Tarigan seorang penggagas gerakan ini. Kini Irama Nusantara bersama Bekraf sudah memulai upayanya, salah satunya dengan pendataan ke seluruh Radio Republik Indoensia (RRI). Langkah yang sedang dijalankan adalah survey materi rekaman musik Indoensia, sebab RRI adalah radio pemerintah tertua yang disinyalir banyak memiliki rekaman dan materi mengenai musik Indonesia yang sangat berguna untuk upaya pengarsipan tersebut.

Menurut rilis resmi yang diterima WARN!NG, saat ini situs iramanusantara,org telah memiliki pengarsipan dalam bentuk digital, sedikitnya 1.000 rilisan fisik musik Indonesia di era tahun 1950-an hingga 1980-an. Melalui peluncuran program dokumentasi musik Indonesia, ungkap Triawan, Bekraf dan Irama Nusantara diharapkan dapat menambah arsip musik sejumlah 1.500 rilisan dari era tahun 1920-an hingga 195-an. “Kami optimis ingin menyediakan 100 rilisan digital disetiap bulan,” katanya.  Dengan dukungan Badan Ekonomi Kreatif ini diharapakan akan semakin banyak pihak yang turut serta dalam upaya pengarsipan dan pelestarian musik Indonesia bersama Irama Nusantara, serta semakin banyak generasi muda yang semakin mengenal musik populer Indonesia dari masa ke masa. [WARN!NG/Dadan Ramadhan]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response