close

Belajar Mencintai Indonesia dari Romo Mangun

Romo Mangun

 

Ia terlahir sebagai seorang humanis. Tak sekedar menjadi Romo, ia juga menggeluti dunia beton penyangga dan khazanah keterkaitan antara satu elemen dengan elemen lainnya lewat arsitek. Ia tak sebatas membangun tapi juga mengabdi atas nama kemanusiaan; di mana secara tidak langsung ia sudah menyerahkan duniawinya pada kehendak kebaikan. Perpaduan latar belakang itu pula yang membuat namanya muncul atas dalil kemanusiaan dan bagi mereka yang tertindas pembangunan. Gunung Kidul, bantaran Kali Code, hingga Wonogiri telah menjadi saksi bahwa perjuangannya memberikan tempat yang layak bagi kaum marginal mencengkeram kuat di benaknya. Tak terhalang beton penolakan termasuk kala pemerintah menyudutkannya dengan cap golongan kiri.

Romo Mangun, begitu ia biasa dipanggil. Kecintaannya terhadap Indonesia berada di taraf ketulusan yang teramat. Segenap raganya seolah hanya untuk negeri tercinta. Membangun dari hal yang esensial, menguatkan kemanusiaan, ataupun mendedah khayal makna nusantara. Laiknya Pram, Romo Mangun memiliki cara sendiri untuk mengajarkan kita, generasi era kini, dalam menyikapi keharusan mencintai bangsa dalam balut kata nasionalisme. Apakah itu lewat teks yang terlampau formil dan baku seperti khazanah undang-undang? Saya pikir tidak demikian adanya.

Burung-Burung Manyar dan Burung-Burung Rantau merupakan dua contoh aktual kala buah pikiran Romo Mangun tentang Indonesia berpadu dengan narasi pembatas zaman. Lewat kedua buku tersebut, Romo Mangun dengan jelas, eksplisit, dan terkadang menggunakan banyak perumpaan, membentuk konstruksi utuh definisi nasionalisme. Kehendaknya menciptakan kekokohan dalam memandang sebuah fragmen kebangsaan terkunci tanpa tedeng aling-aling. Sejatinya, nasionalisme merupakan hal yang tak bisa diukur secara pasti, mutlak, dan jelas perhitungannya.

Dua karya penanda zaman yang juga termasuk dalam buku sastra monumental tersebut menyimpan beragam penjelasan tentang Indonesia. Meski diambil dari perspektif personal, lewat pemikiran- pemikirannya yang menerobos sekat kenyataan pada masanya, nilai nasionalisme dituturkan menempati ruang abstrak di mana tak seterusnya, tak selamanya, nasionalisme bertumpu pada gerak hormat kepada sang merah putih atau teriak lantang menyoal ganyang Malaysia.

Memang, tak salah apabila menyebutkan keduanya sebagai contoh riil dalam implementasi nasionalisme. Indikator yang sejatinya sudah direkam dalam wujud doktrinasi laten sejak era lampau; nasionalisme adalah kekakuan terstruktur. Tak dapat diubah secara serabutan dan serampangan. Tapi seiring berkembangnya zaman, hal-hal semacam itu beralih fungsinya dengan temporer, sementara. Dan menganggap nasionalisme hanya dengan melihat aktifitas mata saja tak ubahnya menyimpan keusangan yang tak lagi relevan.

Dalam Burung-Burung Manyar, Romo Mangun meledakan pikiran lewat tokoh Teto. Mengambil latar cerita yang dibagi menjadi sepasang masa, era sebelum dan sesudah kemerdekaan, pergulatan batin Teto berputar tanpa menemui ujung yang diharapkan. Fakta menunjukan persimpangan yang dilematis. Ayahnya serdadu KNIL, sedangkan ibunya yang masih keturunan ningrat menjadi gundik para penjajah Jepang memaksa (atau membuat) Teto beralih haluan ke tentara Belanda. Faktor pembalasan dendam atas kondisi keluarganya menjadi alasan utama.

Lalu, selepas perang berakhir dan Indonesia mendapati kemerdekaannya, Teto melanglang buana ke lain benua; bekerja dengan perusahaan minyak asing, berubah fungsi sebagai teknokrat komputer, sebelum akhirnya menyadari hatinya tak pernah meninggalkan Indonesia terutama kala jiwanya tertambat oleh gadis pujaannya, Larasati. Meskipun alasan manipulasi data dan pengerukan keuntungan besar-besaran tempat di mana Teto bekerja kepada negerinya juga tak bisa ditepikan begitu saja.

Kemudian di Burung-Burung Rantau, kompleksitas lebih terasa marwahnya. Romo Mangun menempatkan Wiranto sebagai tokoh sentral. Pensiunan Angkatan Darat yang pernah menjabat Duta Besar Inggris Raya cum Komisaris Bank Sentral. Memiliki lima orang anak yang mewakili pemikiran Romo Mangun sekaligus kegundahan Wiranto dalam memandang Indonesia. Anggraini, wanita karir kaya raya yang meneguhkan diri untuk tak peduli dengan status jandanya; Wibowo, pakar fisika nuklir dan astro-fisika laboratorium CERN di Jenewa; Candra, pilot instruktur pesawat pemburu; Marineti, sarjana antropologi dan sosiawan penuh idealism; lalu Edi yang tewas karena pengaruh morfin-heroin.

Bersama keempat anaknya, Wiranto memutar diskursus mengenai Indonesia bagi mereka. Keterkaitan cerita masing-masing melenturkan arti nasionalisme secara harfiah yang dibumbui komposisi sains, pergerakan uang, pertempuran udara, dan rasa simpati terhadap lingkungan sekitar. Walaupun memberi porsi kepada tiap tokoh, Romo Mangun menambahkan tetesan sedikit banyak pada tubuh Marineti yang tergerus pikiran traumatik oleh kematian Edi.

Dari karya Romo Mangun yang fundamental itu, kita mengetahui benang nasionalisme akan melaju seperti apa. Nasionalisme yang terjadi di luar hal-hal kebanyakan, tak boleh dibiarkan begitu saja. Semua dapat menjadi pijakan kehidupan apabila kita memandang dari persepsi yang luas. Romo Mangun menulis refleksi panjang tentang Indonesia masa lalu dan pedoman masa kini. Apakah memang wajib melihat nasionalisme dari sudut sempit? Apakah harga nasionalisme memang musti ditebus dengan petuah formal yang kadang kelewat tak sesuai?

Tentu saja anggapan-anggapan semacam itu mampu melenyapkan jati diri nasionalisme sesungguhnya. Dengan Burung-Burung Rantau, Romo Mangun memprakarsai pandangan filosofis roman dari sosok Teto yang rapuh. Lalu lewat Burung-Burung Manyar, Romo Mangun memenuhi semesta Wiranto dengan ekspedisi yang dilakoni anak-anaknya. Menggempurkan ide-ide yang sesungguhnya tak pernah terlintas di benak Wiranto. Entah hanya sikap atau pemanis belaka, pastinya nasionalisme dalam wacana Romo Mangun merupakan kondisi alam bawah sadar yang menggaet evolusi kebangsaan tanpa harus berpaku pada wujud baku.

Romo Mangun telah memaparkan kondisi batin yang dialami tokoh-tokoh bentukannya merupakan bias dari hal-hal yang berpendar jauh di sumbu normal. Tak selamanya, tak seterusnya, asumsi mengenai nasionalisme dapat dilengserkan oleh praduga serta prasangka kita dalam menerima kenyataan baru di zaman yang terus berkembang, bergerak, lalu menumbuhkan sistem terkini yang dapat kita sadari harus diterima dengan sikap terbuka. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response