close

Bertamu di Semesta Stars and Rabbit

IMG_9092

Seperti pengembara, setelah lima tahun melalui pahit-manis semesta di luar sana, Stars and Rabbit pulang ke Jogja, dan menyuguhkan penampilan istimewa mereka di Grow Concert.

Stars and Rabbit
Stars and Rabbit

Tirai hitam yang menutup panggung terbelah membuka diiringi suara gemerincing lonceng, menampilkan sebuah set dengan pohon kering di pojok kanan panggung, awan-awan dan tirai bulan. Elda Suryani dan Adi Widodo berdiri di sana, memakai pakaian dengan warna-warna earthy a la shaman, membuka konser mereka dengan “Old Man Finger”. Dengan liriknya yang deskriptif, mereka seperti sedang membangun setting konser di kepala 250 penonton yang memenuhi Societet Militair TBY, pada 21 Januari 2016 malam itu.

“We’re so happy you are here! Welcome to our world!” ujar Elda berseri-seri. Selama hampir 2 jam, Stars and Rabbit menyuarakan konstelasi nada mereka sambil berbagi banyak cerita tentang Stars and Rabbit yang terus tumbuh, dan Jogjakarta, rahim bagi lahirnya duo dreamy-folk ini. Tentang “Like it Here” yang merupakan lagu pertama Stars and Rabbit, “Rabbit Run” yang diciptakan di Jalan Kaliurang, sampai cerita tentang mereka yang hampir berhenti main musik. “Nek iki ora dadi, aku dadi tukang kembang wae,” (Kalau ini –Stars and Rabbit= tidak berhasil, aku mau jadi tukang bunga aja) curhat Elda. Di “Rabbit Run”, Elda ‘memaksa’ penonton untuk jadi choir dadakan mengiringinya bernyanyi. Selain berjoget, sesekali lompat-lompat dan melantur di panggung, Elda berganti-ganti alat musik. Sebuah meja kecil di samping mic memang dipenuhi alat musik seperti pianika, maracas, tamborin, sampai gelang lonceng. Tidak seperti Stars and Rabbit terdahulu, kali ini divisi musik digarap secara full band, selain mereka berdua ada tiga additional player di panggung. “Cry Little Heart” lalu menutup sesi satu konser ini.

Sesi dua berlangsung lebih atraktif. Sesi ini dibuka oleh “The House” yang makin bertenaga dengan tambahan gebukan drum elektrik yang mempertebal hawa-hawa celtic folk di lagu ini. Apik. Mereka juga membawakan satu lagu yang tidak ada di album Constellation, yaitu “Not Another Man Sad Sight”. Tensi makin naik saat “Summer Fall” dan “Worth It” dinyanyikan berikutnya. Mereka berpamitan, lalu terjadilah hal paling klise yang ada di konser-konser musik. Terang saja klise, pasalnya nomor andalan “Man Upon The Hill” belum dikeluarkan. Teriakan “We Want More! We Want More!” memang seolah sengaja diminta oleh Stars and Rabbit.

Stars and Rabbit
Stars and Rabbit
Stars and Rabbit
Stars and Rabbit

Encore session ini yang justru paling menyenangkan. Elda, Adi dan penonton sudah sangat luwes. Curhat-curhat Elda dan Adi yang sedari tadi seperti ngobrol seperti berhasil memangkas jarak antara Stars and Rabbit dan penonton di ruangan itu. Kejutan lalu diberikan saat mereka menampilkan “Dia dan Aku”, lagu milik band yang digawangi Elda sebelum ini, EVO. Seru-seruan tribal-ish dari Elda lalu mengawali “Man Upon The Hill” yang memungkasi Grow Concert dengan apik. Hampir seluruh penonton memberikan standing ovation.

Saya percaya konser tunggal bagi siapapun musisinya, adalah sebuah momentum penting. Sebuah konser tunggal mesti dibuat sesempurna mungkin, dengan semua detil yang disiapkan secara maksimal. Tapi patut disayangkan bahwa penampilan super atraktif dan berenergi dari Stars and Rabbit sendiri tidak diimbangi dengan unsur konser lain. Penampilan Pieter Lenon sebagai pembuka misalnya. Meski diakui jadi musisi legenda di Jogja, tapi membawakan hampir 10 lagu The Beatles secara nirvokal tanpa interaksi sama sekali di panggung justru menurunkan tensi di awal pertunjukan. Ekspektasi sureal yang sudah muncul sejak melangkah masuk lewat gate yang disulap jadi lemari pakaian a la Narnia sempat pudar. Dibandingkan dengan konser-konser tunggal lain yang dilangsungkan akhir-akhir ini, tata visual panggung juga terasa biasa. Walaupun memang dibangun untuk mendapatkan kesan sureal, tapi untuk ukuran band se-imajinatif Stars and Rabbit kesemuanya justru terasa terlalu eksplisit.

Namun bahwa konser ini telah disiapkan secara maksimal dan Stars and Rabbit yang tampil all-out adalah hal yang patut diapresiasi. Apalagi jika sebuah konser ditujukan sebagai rasa terimakasih untuk rumah yang telah jadi pondasi mengantarkan mereka melalang buana. [WARN!NG/Titah Asmaning]

Galeri konser ini bisa dilihat di –> Grow Concert Stars and Rabbit

Event by: Kongsi Jahat Syndicate

Date: 21 Januari 2016

Venue: Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta

Watchful Shot: “The House” dan penampilan super maksimal di “Man Upon The Hill”

WARN!NG Level: [yasr_overall_rating size=”small”]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response