close
best movie

best movie2014 adalah tahun yang tidak terlalu sepi tapi juga tidak begitu riuh di layar sinema internasional. Banyak judul film dengan berbagai genre berseliweran. Walaupun jika dipetakan, dominasi cerita sci-fi dan drama akan cukup mendominasi. Tahun ini film-film sci-fi yang mengandalkan kemegahan special effect penuh teori fisika harus bersaing ketat dengan kesabaran seorang sutradara yang merangkum 12 tahun hidup seseorang, atau kisah nyata tentang gerakan sosial yang berarti tanpa harus terlalu emosional.

10. Begin Again (John Carney)

Mendapat banyak atensi lewat kisah “dua hati yang dipersatukan oleh musik” terdahulu berjudul Once, John Carney kembali dengan formula yang serupa. Bedanya, kali ini ia menggaet nama-nama yang lebih dikenal – dan menjual – sebagai dua tokoh sentralnya; Keira Knightley dan Mark Ruffalo. Dua frontman sebuah band terkenal dan pernah terkenal pun tak luput diseret untuk mengisi dua kursi berbeda. Adam Levine memainkan tokoh pendukung dengan karakter yang kurang lebih sama dengan public persona-nya sebagai selebritas di kehidupan nyata. Sedangkan Gregg Alexander bertanggungjawab meracik lagu-lagu orisinal yang dalam film ini berhasil bertransformasi menjadi alat penceritaan yang ampuh menuntun plot. Satu momen ketika Keira Knightley bernyanyi akustik di sebuah bar dan disaksikan Mark Ruffalo, dimana dalam imajinasinya perlahan satu persatu alat musik bergerak sendiri dan ikut mengiringi sehingga menjadi sebuah lagu full band, merupakan sequence musikal termanis tahun ini. Tak banyak film musikal seperti ini, yang bisa ditonton berulang kali, seperti mendengarkan album musik melalui kaset atau CD.

9. Interstellar (Christoper Nolan)

Faktor Christoper Nolan tampaknya bekerja hebat pada film ini. Mengaku saja, banyak yang menonton ini karena rindu dengan karya-karya Nolan yang misterius dan berplot tak terrduga. Nolan pun sepertinya sadar akan hal itu. Eksperimen pada genre sci-fi yang tak biasa ia tangani ini digarap dengan bantuan ahli fisika betulan, Kip Thorne, berakhir dengan ending yang lumayan mengejutkan. Lumayan menyita akal sehat dan sedikit iman takwa. Ya, terima saja lah apapun keputusan Nolan bersaudara, berkat mereka kita bisa tambah satu aliran kepercayaan lagi soal cara kerja sistem tata surya. Meski tampaknya Interstellar bukan karya terbaik Nolan, tapi jelas ini adalah karya yang penting. Interstellar bisa membuat horizon berpikir meluas dan menyadarkan bahwa kita harus bangga hati terlahir sebagai manusia—yang dipastikan selalu berevolusi jadi sosok superior dari zaman ke zaman.

8.  The Dawn of the Planet of the Apes  (Matt Reeves)

Tidak ada yang disesali dari menonton film ini, terlepas interpretasi masing-masing soal aspek cerita atau efek spesial. Yang penting kalian bisa lihat betapa gaharnya para primata menunggangi kuda sambil pegang senjata—bukan, bukan mau masuk ke GBK, kok. The Dawn of the Planet of the Apes mengangkat kisah soal pertemuan pertama manusia dengan saudara terdekatnya yang sudah bermutasi jadi emosional dan ‘manusiawi’. Tentu bakal konfliktual ketika manusia yang katanya adalah makhluk yang sebaik-baiknya diciptakan oleh Tuhan punya tandingan lain dalam hal intelijensia. Ada yang bilang jika kebiasaan manusia saling bunuh sesama manusia itu karena mereka tak punya tandingan sepadan buat dilawan, kini setelah tandingan itu muncul di hadapan, kira-kira siapa yang menang?

7. Cesar chavez (Diego Luna)

Tidak sekedar menghadirkan kisah Cesar Chavez sebagai tokoh yang menginspirasi, film ini seharusnya ditonton oleh lebih banyak orang karena apa yang diperjuangkan Chavez kerap kita pandang sebelah mata, yang begitu saja berlalu. Tentang kehidupan buruh, hak-hak mereka yang terabaikan, kebrutalan dan lemahnya polisi di bawah kuasa pemodal, sampai ide tentang kekuatan gerakan sosial yang sanggup merubah nasib banyak orang. Michael Pena yang memerankan Chavez dengan apik menggambarkan perjuangan pemimpin gerakan serikat buruh perkebunan di Amerika tahun 1965-1970an. Dua bahasa –Inggris dan Spanyol— yang digunakan juga menjadi gambaran realis yang menambah kompleksitas penggambaran pihak-pihak yang terlibat kala itu. Pilihan Diego Luna sang sutradara untuk menghadirkan adegan-adegan yang tidak terlalu menguras emosi dan berlebihan justru menjadikan film ini lebih natural.

6. Transcendence (Wally Pfister)

Tidak seperti film sci-fi yang umumnya mempunyai lompatan keadaan yang jauh dengan saat ini, Transcendence menghadirkan plot cerita yang masuk akal. Cerita mungkin saja memang bisa benar-benar terjadi di masa depan yang mungkin sudah tidak jauh lagi. Relasi antara kemanusiaan dan teknologi yang dihadirkan lewat Dr. Will Caster yang diperankan dengan mempesona oleh Johnny Depp dan sebuah teknologi intelenjensi buatan. Juga kemungkinan saat kesadaran kita menyatu dengan dunia maya dengan informasi tanpa batas. Sang sutradara, Wally Pfister dengan bijak mengatur komposisi scene-scene agar tidak terlalu “fiksi”. Kecuali adegan di laboratorium bawah tanah Dr. Will Caster, latar film ini adalah potret sehari-hari. Film ini kaya dengan gagasan-gagasan yang menuntun kita untuk melontarkan pertanyaan seputar jiwa, conciousness dan masa depan kemanusiaan. Bahwa kemanusiaan mungkin tidak perlu hadir dalam wujud manusia –dengan daging, darah dan dua kaki yang berjalan— dan dengan begitu dunia akan sembuh dari kerusakannya.

5. Gone Girl (David Fincher)

Layaknya komik thriller rating “R” yang banyak terbit di Amerika pada awal 90an, film ini banyak bergantung pada pembalikan dugaan dan sudut pandang. Merupakan kisah tentang hilangnya seorang wanita, gone girl. Kenapa si wanita bisa ‘hilang’? Menjelaskan plot film ini akan mengurangi setengah dari kenikmatan pengalaman menontonnya, so go figure yourself. Thriller ini memperlihatkan horor didalam institusi pernikahan ketika cinta mulai mendingin dan dibubuhi drama balas dendam. Keduanya melibatkan eksploitasi dan pemanfaatan image dan asumsi-asumsi sexist, namun anda akan terkejut betapa lucunya film ini. Ketajaman intuisi David Fincher dalam mempercayakan peran utama untuk dihidupkan oleh pemain yang relatif belum punya nama juga makin terbukti. Melalui dua film sebelumnya, Fincher sukses meluncurkan karier dan menghantarkan Rooney Mara dan Jesse Eisenberg mendapatkan nominasi Oscar pertama mereka. Maka bukan suatu hal yang mengejutkan jika nama Rosamund Pike disebut saat nominasi Oscar diumumkan 15 Januari mendatang.

4. Under The Skin (Jonathan Glazer)

Under The Skin tidak menawarkan cerita, tapi pengalaman. Ini bukanlah film yang vivid memperlihatkan maksud ceritanya, melainkan membawa kita pada sebuah kejadian. Dengan gambar, suara serta situasi yang menangkap esensi dari bagaimana rasanya berada dalam ‘pengalaman’ itu. Science fiction yang banyak menyinggung tentang peran gender dan sexism melalui sunyinya pengadeganan. Sebagai alien yang berburu pria di sekitar kota Glasgow untuk memenuhi tujuan yang, entahlah, dalam satu scene terlihat keji di scene lain kita dibuat simpati, Scarlett Johansson tampil karismatik. Ditambah fakta bahwa banyaknya reaksi orang-orang yang direkam menggunakan kamera tersembunyi menambah keotentikan film ini.

3. Nightcrawler (Dan Gilroy)

Jake Gyllenhaal berperan sebagai Lou Bloom, seorang penyendiri yang termarjinalkan, sociopath dengan intelejensia yang cukup tinggi untuk mampu membaca peluang bisnis dari situasi paling tidak manusiawi. Film ini memperlihatkan keganasan indsutri media era TMZ, kalau tidak dapat kejadian yang news worthy, kenapa tidak ciptakan sendiri? Dinilai dari adegan finalnya saja, first time director Dan Gilroy benar-benar tau dan mengenal siapa itu Lou Bloom dan bagaimana dia bereaksi terhadap berbagai situasi. Menjadikan Lou dalam jajaran karakter antihero sekelas Travis Bickle dan Peeping Tom. Kerja kamera Robert Elswit juga tak kalah impresif, berhasil memotret sudut-sudut LA yang jarang terlihat di film-film lain dan membuat pergerakan Lou nampak seperti coyote yang mengincar mangsa.

2. The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson)

Karya Wes Anderson memang sangat distingtif. Selain dibintangi oleh aktor yang itu-itu saja, ciri khas terdapat pada kemampuannya mengatur estetika film sehingga terkesan ‘Instagram-is’. Uniknya, dalam film kali ini ia menggunakan aspek rasio atau ukuran layar yang beragam. Anderson memuat potongan-potongan gambar di filmnya dengan tiga aspek rasio yang berbeda-beda. Lewat film ini, Anderson semakin menegaskan jati diri karyanya: tak biasa, teliti, dan dramatis. Terinspirasi cerita-cerita pendek terbitan pengarang Austria, Stefan Zweig, yang kala itu hidup pada masa pendudukan Nazi, Anderson bisa mengubahnya menjadi film yang sama-sama tragis namun jelas ditunjukkan lewat proyeksi yang berbeda. Penokohan Zweig yang selalu menempatkan lakonnya pada situasi-situasi depresif diubah Anderson menjadi rangkaian petualangan artistik dengan sentuhan warna-warna pastel.

1. Boyhood (Richard Linklater)

Melihat karakter-karakter dalam film ini menua secara alami didepan mata menjadikan Boyhood tidak seperti film coming of age kebanyakan. In fact, it’s not. Walaupun terdengar seperti gimmick, proses pengambilan gambar selama kurun waktu 12 tahun menyediakan elemen utama yang merupakan nyawa dan basis film ini: waktu. Tanpa ada letupan dan lonjakan grafik plot dalam strukturnya, pada saat film berakhir anda akan menyadari betapa cepat waktu berlalu. Bahwa tiap era bisa diwakilkan oleh, bukan hanya peristiwa besar seperti wisuda atau pernikahan, melainkan momen-momen kecil yang dilalui bersama orang-orang paling berarti dalam hidup. Dimana di saat bersamaan dunia sekitar terus berputar; gejolak politik, evolusi video game, pemilu hingga kemungkinan munculnya film Star Wars baru. Film ini berjudul ‘Boyhood’, tapi dunia yang Richard Linklater ciptakan cukup besar untuk memuat salah satu penggambaran tertajam dari sosok single mother yang pernah ada.

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response