close

[Album Review] Bin Idris – Bin Idris

Bin Idris

Review overview

WARN!NG Level 8.2

Summary

8.2 Score

Label: Orange Cliff Records

Watchful shot: “Temaram”, “Rebahan”, “Tulang dan Besi”

Year: 2016

Sebelumnya saya tak menyangka jika ia akan merilis album penuh dengan identitas lain bernama Bin Idris. Haikal Azizi, begitu nama formalnya tertera, merupakan tipikal musisi yang gemar menggali diri dalam lautan luas potensi. Tujuannya hanya satu: mendapatkan orgasme suka-suka dibanding harus melepas karya sebatas pelengkap diskografi. Ia tak rela dikekang sekat penyesuaian yang dirasa mengganjal improvisasinya. Kanal pribadinya di halaman Soundcloud adalah bukti terkini yang mampu meyakinkan nurani kita semua. Suatu wahana di mana tebaran materi-materi bernas disusun sederhana menggunakan senar gitar dan lantunan menyejukkan.

Dikenal sebagai dedengkot band stoner-rock dari Bandung, Sigmun, tak menghalanginya untuk menampilkan dimensi yang lain secara sempurna. Jiwa liarnya menuntun ke sekian tangga langit yang membebaskannya dalam memasak kelezatan minor maupun mayor. Mendengarkannya bermain tak ubahnya mengadakan diskusi ringan dengan latar belakang lintas disiplin. Anda bisa meracau tentang apa saja baik filsafat, politik, sastra, atau enigma kehidupan sekalipun.

Beberapa komposisi yang ia ciptakan memuat banyak kontemplasi makna. “An Invisible Bridge Above the Ocean”, misal, menuntun karsa untuk menyelami kaidah kehampaan dengan desiran ombak yang lembut. Kemudian “Angin dari Timur” yang meniupkan kontradiksi pentatonik serta tak ketinggalan pula “Mahabharata” yang mencabik-cabik estetika selama duapuluh menit berjalan. Melihat hasil pengerjaannya itu, menegaskan akan satu hal: Haikal Azizi memandang serius suatu proses berkarya dibalik sikap jenakanya di media sosial. Begitu lantang ia memprakarsai bilik-bilik yang menyekat imajinasi dan realita terkini.

Hingga tiba pada masa album perdananya yang lepas ke pasaran. Terdapat sebelas nomor yang terdiri atas materi lama dan baru. Haikal mencoba menggabungkan pelbagai direksi di samping, tentu saja ide yang bernafaskan kesyahduan tertentu dari keenam senar gitarnya. Terkadang suasana batinnya tak mudah ditebak. Ia bisa bersikap serius dengan tatapan tajam ketika mendendangkan suar protes kezaliman tetapi tak lama berselang berubah penuh canda tawa bersimpulkan empat kord seadanya.

“Temaram” memulai segalanya dengan sedikit kemuraman. Suaranya mendayu menggetarkan dilema yang tak kunjung habis. Petikannya halus, merapat pada sudut yang ditetapkan, lantas menaiki interval yang runyam kala syair Di antara belantara asa//Kan ku semai bunga segala rupa dikumandangkan. Berdiri setelahnya “Rebahan” yang menyambut secara puitik. Iramanya menghunus tajam, warna melankolia sayup-sayup malu ia utarakan. Sepintas laiknya ode kepada perempuan yang muskil didapatkan (Angan-angan bersembunyi di bawah sadarmu).

Sedangkan di “Jalan Bebas Hambatan” ia berceloteh sekenanya. Gitar kopongnya mengajak mengamini rapalan doa sembari menyeduh kopi hitam dan bermain kartu remi. Simak bagaimana penggambarannya yang berbunyi Berbulan-bulan kau belum pulang//Aspal jalanan pun engkau terjang//Menuju rumah//Untuk bertemu papa dan mamah. Elok nan mengesankan.

Meski hanya bermodalkan perangkat tunggal, Haikal tak ingin termakan pada pengulangan ritme yang itu-itu saja. Secara bijak, ia menyelipkan nada, melodi, serta kompromi yang sejatinya merunut kompleksitas. Seperti halnya lewat “Pusara” yang menggabungkan tuas efek mistis berbau psikadelia. Atau “Tulang dan Besi” yang kental aroma delta-blues ala Adrian Adioetomo dengan iringan choir yang megah. “Dalam Wangi” pun setali tiga uang; meleburkan personifikasi Bimbo dalam tetesan tepat.

Kemampuan meracik kata Haikal pada departemen penulisan lirik patut diapresiasi. Pesona Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo muncul dengan lugas; menghasilkan presisi yang mengaburkan kesumbangan rima. Di antaranya menimbulkan tafsir bermacam rupa juga menghadirkan kekuatan perenungan tatkala ia menulis penggalan Tersebut cerita di atas tanah sengketa//Tentang sekelompok orang yang menolak diperkosa atau Kita terus bekerja kita terus berkarya//Sampai akhirnya habis tak berdaya.

Album ini menandakan momentum krusial dalam ekspedisi Haikal Azizi. Bisa dibilang, ia telah memenuhi keinginannya untuk melenggangkan kreasi dengan khidmat. Apabila ia memasang otoritas kritik yang terlampau keras bersama Sigmun, sekarang waktunya mengendurkan langkah itu. Namun bukan berarti ia menelurkan materi secara serabutan. Kala prinsip tak ingin kalah semakin mendominasi, ia justru mampu menyapa telinga lewat komposisi yang tak tergerus ironi. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response