close

Bin Idris: Melakoni Peran Delusional Lewat Temaram Nada

Bin Idris 730×487

 

Bin Idris

 

Wawancara oleh: Oktaria Asmarani & Muhammad Faisal

Lupakan sejenak permainan gitar yang dipenuhi lautan distorsi, melodi panjang yang meliuk tajam, ataupun kompleksitas aransemen yang terlampau rumit bahkan cenderung sureal. Jika nama Sigmun yang disebutkan, bolehlah referensi di atas menjadi rujukan utama. Akan tetapi, sang pentolan band stoner-rock dari Kota Bandung ini rupanya paham betul bagaimana memisahkan dua kehidupan yang dijalaninya. Dan sekarang saatnya untuk bergumul bersama entitas lainnya, yang menuntunnya kepada labirin pencarian berwujud Bin Idris.

Bin Idris bukan produk lama jika Anda ingin menelisik lebih panjang. Dibalik cekungan fase berkeseniannya bersama Sigmun, Haikal Azizi menyempatkan diri untuk mengembangkan tuah potensi yang ada di dalam dirinya. Orang-orang boleh menyebutnya sebagai kegiatan sampingan. Tapi ia tak ingin terjebak atas definisi klasik semacam itu. Baginya, entah Sigmun atau Bin Idris adalah dua hal yang wajib dilakukan sepenuh hati tanpa tendensi bermain sekenanya.

Menggunakan medium Soundcloud dalam menyebarkan ajaran serta manifestasinya dengan Bin Idris, Haikal konsisten mengunggah karya-karya solonya yang berlandaskan kebebasan ekspresi. Permadani instrumental dapat dibilang melakukan tugas pokoknya menjadi modular sekaligus penjaga marwah keseimbangan yang acapkali didengungkan. Dari petikan yang menyayat batin, perpindahan chord yang membiaskan nada, hingga deru resonansi yang saling bersikutan sembari mengawang ke angkasa dan menembus bilik-bilik kesepian.

Berbagai pengejawantahan makna timbul melalui corong karya-karyanya yang disulam secara terkonsep. Hal ini bukan tanpa dasar. Meski dianggap menjadi proyek solo, Haikal tak ingin melepaskan begitu saja unsur otokritik yang dirasa memegang kendali penting dalam menjaga beton kualitas. Jika kurang yakin, coba simak “Angin dari Timur” yang berhasil mendatangkan nafas budaya kontemporer. Dominasi banjo menyerang titik-titik krusial kemapanan seraya menemani ekspedisi para tuan pengembara; mengemban misi ekspansi atau justru melenyapkan diri.

Tak hanya itu, tengok saja bagaimana komposisi “Mahabarata” mengobrak-abrik struktur dan kaidah serta alur lelaku dengan konstruksi serba abstrak. Desahan ambigu yang merajam selama 20 menit lamanya ia gunakan untuk mengumpat bermacam teori-teori basi, melayangkan suar protes, sampai berujar lirih tentang sebuah penyesalan sebelum akhirnya berujung kulminasi kedamaian. Epos menakjubkan, yang hanya bisa ia ciptakan dalam dimensinya sendiri. Walaupun demikian, “An Invisible Bridge Above the Ocean” nyatanya lebih menggugah selera di antara jemari bebunyian yang lain. Desiran samudera yang mengalun lembut, sentuhan midas pada benang-benang berombak, dan irama merdu yang begurau beriringan telah menghanyutkan diri pada elemen katarsis manusia seutuhnya.

Di pengujung tahun yang suram ini, album penuh perdananya bersama Bin Idris telah keluar di pasaran. Menyematkan tajuk Dalam Wangi, ia masih mempertahankan patron identitasnya; menangkap fenomena lantas menuangkannya ke dalam gelas syair puitik dan harmoni perasa melankoli. Ada beberapa nomor yang sudah tersedia di kanal pribadinya, ada juga yang baru ia gubah khusus dalam rangka menyambut kehadiran anak pertamanya. Namun semua tak jadi soal selama Bin Idris meluapkan realita kisahnya ataupun berdendang mengenai fatamorgana kehidupan. Kepada WARN!NG, ia menuturkan banyak hal: dari ruang kreatifnya sampai anggapan bahwa Bin Idris dapat bertahan lebih lama di belantika candradimuka dibanding kolektif yang ia geluti bersama Sigmun.

 

Apa yang menjadi latar belakang dari adanya proyek Bin Idris?

Proyek ini bermula semata-mata karena waktu saya sekedar ingin coba buat musik di luar Sigmun aja sih. Karena memang ada beberapa materi saya yang rasa-rasanya engga akan cocok kalau dipakai di Sigmun. Akhirnya, setelah menimbang dengan masak, saya mencoba membuat akun Soundcloud dan merilis lagu di sana. Ternyata cukup menyenangkan dan sampai hari ini masih terus saya nikmati.

 

Perbedaan yang cukup mencolok muncul di beberapa lagu Bin Idris. Ada yang tenang dan menghanyutkan seperti “Calm Water”, ada juga yang kentara unsur eksperimentalnya seperti dalam proyek kolaborasi Salon Vol. 1. Apa yang menjadi tema besar dalam musik Bin Idris?

Sejujurnya tidak ada tema besar yang mengikat. Tema besarnya justru adalah memperbolehkan diri saya untuk pergi ke arah manapun yang saya mau. Pada musik-musik  yang saya unggah di Soundcloud mungkin mendapati keberagaman itu bisa terlihat. Ini memang pendekatan yang teramat serampangan dan bisa jadi akhirnya malah membuat pendengar kebingungan dengan arah yang saya tempuh. Tapi itu resiko yang siap saya ambil. Toh, sejauh ini proyek Bin Idrid belum diarahkan untuk menjadi proyek yang menjual.

 

Apa yang mendasari pemilihan jenis musik yang dibawakan Bin Idris?

Jawabannya mungkin seperti pertanyaan sebelumnya ya bahwa semuanya dilakukan sesuka hati dan tergantung pada ketertarikan saya pada saat itu saja. Pendekatan ini bagi saya biarpun mungkin dari luar terlihat seperti tidak fokus, tapi pada prosesnya justru saya pikir mampu mempertajam atau setidaknya memberi saya perspektif yang lebih beragam; yang nantinya pasti bisa mempertajam proses penciptaan saya baik di Bin Idris maupun Sigmun.

 

Berbicara soal inspirasi, siapa yang berpengaruh dalam pembawaan musik Bin Idris yang cenderung mengarah ke musik eksperimental?

Sejujurnya saya pribadi tidak pernah benar-benar mempertimbangkan musik saya sebagai musik eksperimental karena pada dasarnya saya rasa pendekatan musik saya masih amat konvensional. Materi-materi saya pun sejauh ini saya rasa lebih banyak yang sifatnya konvensional; malah cenderung pop, ketimbang yang sifatnya “eksperimental”. Saya rasa kecenderungan itu muncul di set-set saya yang sifatnya improvisasi. Inspirasi sebenarnya masih beririsan dengan Sigmun karena di Sigmun pun elemen improvisasi cukup kuat kehadirannya. Cuma mungkin di set improvisasi Bin Idris lebih bebas dan kerap terlepas dari struktur lagu konvensional karena saya sendirian. Inspirasinya sih ya kembali ke nama-nama seperti Pink Floyd, Hawkwind atau nama-nama dari blues atau American folk seperti Son House, Jack White, Robert Johnson, John Fahey. Mungkin kesadaran saya untuk lebih eksplorasi ke arah eksperimental dipicu oleh keikutsertaan saya sewaktu di event Asian Meeting Festival tahun 2015 lalu. Konsepnya menarik banget sih, beberapa musisi dari Asia Tenggara dikumpulkan kemudian harus melakukan improvisasi satu sama lain. Di event ini pula saya menyadari banyak kemungkinan-kemungkinan baru yang ternyata bisa dijelajahi.

 

Bin Idris

 

Setiap mendengar karya-karya Bin Idris, dari yang sureal sampai yang paling pop sekalipun seperti pada “Rebahan”, terdapat nuansa jauh dan kesan transenden yang dapat dirasakan. Apakah ada maksud dan tujuan tertentu yang Bin Idris ingin capai melalui proses seperti ini? Atau apa yang sebenarnya Bin Idris ingin sampaikan kepada pendengar?

Musik-musik yang saya tulis sebelum menjadi konsumsi publik sudah terlebih dahulu menjadi konsumsi saya sendiri. Proses penulisan musik saya hampir selalu menjadi sebuah aktifitas yang amat pribadi dan memang ada kecenderungan refleksi dan kontemplasi yang cukup kuat. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu berupaya agar pesan (dalam lirik) tersampaikan dengan jelas; tapi cukup vibe musiknya yang kontemplatif dan reflektif itu aja. Semacam jadi platform nantinya.

 

Jika tidak salah, beberapa waktu lalu Bin Idris diundang untuk turut meramaikan program musik Tokyo Performing Arts Market (TPAM) di Yokohama. Bisa diceritakan bagaimana kesempatan bermain di Jepang tersebut didapatkan?

Sederhana saja sebenarnya. Saya berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Partisipasi saya di TPAM berawal dari pertemuan saya dengan salah satu kuratornya (Aki Onda) pada tahun 2015 di Tokyo. Waktu itu kebetulan saya sedang perform di sebuah event bernama Asian Meeting Festival. Setelah show beliau menghampiri saya lantas kita ngobrol sejenak kemudian bertukar kontak. Di akhir tahun 2015 beliau mengabari saya kalau dia tertarik untuk mengundang saya perform di TPAM.

 

Dapat diakui bahwa tidak semua kalangan memahami musik dari Sigmun dan Bin Idris yang cenderung kompleks. Cukup optimiskah untuk tetap sintas di kancah musik tanah air? Atau Haikal Azizi tidak begitu peduli dengan penerimaan pendengar?

Persoalan penerimaan pendengar bagi saya belum menjadi persoalan yang urgent. Karena memang berkarya di musik belum terlalu bertujuan untuk menghidupi secara finansial. Sejauh ini belum ada masalah sih di situ. Karena ternyata biarpun kita menulis lagu secara egois dan sesuka hati tanpa mempertimbangkan selera dan kondisi pasar tapi malah penerimaannya cukup baik. Saya rasa publik sekarang sudah lebih terbuka dan lebih siap terutama dampak serbuan referensi dari internet yang begitu masif.

 

Bagaimana proses kreatif seorang Bin Idris? Apakah lebih disebabkan secara spontan, atau melalui kontemplasi panjang terlebih dahulu?

Saya rasa dua-duanya bisa berjalan beriringan atau malah berteriak serentak. Proses penciptaan saya dalam musik memang seringkali titik awalnya berasal dari dorongan motorik, spontan dan juga intuisi. Tapi untuk menjadikan dorongan tersebut menjadi satu lagu yang utuh pasti harus ada pertimbangan-pertimbangan logisnya. Kedua hal ini saling mengisi satu sama lain. Kadang mulainya dari intuisi, kadang dari pertimbangan-pertimbangan dan kontemplasi. Saya rasa tidak berbeda jauh dengan musisi lain.

 

Dalam karya musik, hal apakah yang dianggap penting bagi Bin Idris? Segi lirik, musik, filosofi, atau teknis?

Konteksnya saja sudah “dalam sebuah karya musik” jadi sudah jelas bahwa seharusnya yang paling penting ya musiknya. Mungkin konteks soal musiknya lebih luas dalam artian bukan cuma soal instrumentasi, pemilihan nada, aransemen dan sebagainya. Maksud saya di sini elemen lirik, filosofi, musik dan teknis seharusnya sudah jadi satu kesatuan integral; tidak ada yang lebih penting dari yang lain karena untuk membuat musik bagus semuanya harus penting. Lirik lagu yang baik tentu berbeda dengan, misalnya teks pidato atau puisi yang baik. Karena lirik lagu tidak akan bisa lepas dari fungsinya sebagai bagian dari musiknya. Kalau dalam proses penulisannya sih saya selalu memulai dari musiknya baru setelah itu teksnya. Kadang penulisan musik tersebut mendapatkan trigger juga oleh tema tertentu.

 

Selain menjadi musisi Haikal Azizi juga seorang dosen seni rupa di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Adakah sisi akademisi yang identik dengan kekakuan, turut mempengaruhi gaya bermusik Haikal Azizi?

Saya rasa tidak sih. Karena saya sudah menulis lagu dan perform jauh sebelum saya menjadi pengajar.

 

Karya saya di Sigmun maupun Bin Idris saya rasa bisa dibilang karya yang egois, dalam artian prioritas paling utamanya adalah memuaskan diri sendiri terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan penerimaan publik.

 

Apakah Sigmun dan proyek solo Bin Idris merupakan sebuah pelarian dari kehidupan akademisi?

Mungkin akan lebih tepat kalau kata “akademisi” dihilangkan saja. Sigmun dan Bin Idris merupakan sebuah pelarian dari kehidupan.

 

Pertimbangan-pertimbangan apa yang dimiliki Haikal Azizi ketika akan menelurkan sebuah karya? Misalnya, kala Crimson Eyes milik Sigmun yang butuh waktu lama untuk merilis ke pasaran.

Pertimbangan-pertimbangan apapun yang muncul sebelum sebuah karya akhirnya dirilis selalu bermuara dari satu pertanyaan “apakah ini karya yang bagus?”. Pertanyaan ini bukan menyoal bagaimana nanti resepsi publik tapi lebih ke integritas kita sebagai musisi.  Pada kasus Sigmun memang saya rasa kami cenderung cukup keras kepada diri sendiri, banyak materi yang sudah setengah jadi lantas tidak jadi kami gunakan karena rasanya belum cukup baik saja.

 

Bisa dibilang hal tersebut membawa otokritik dalam fase bermusik Haikal Azizi?

Bagi saya otokritik sangat penting karena sebelum karya saya menjadi konsumsi publik tentu terlebih dahulu karya tersebut jadi milik saya sendiri. Lantas kalau saya sendiri merasa karya tersebut belum cukup baik ya buat apa saya lepas ke publik? Baik di sini tentu amat relatif dan sangat tergantung tujuan awal penulisan lagunya juga. Contohnya misal tujuannya adalah membuat lagu yang catchy maka baik di situ harus memenuhi kriteria tersebut. Karya saya di Sigmun maupun Bin Idris saya rasa bisa dibilang karya yang egois, dalam artian prioritas paling utamanya adalah memuaskan diri sendiri terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan penerimaan publik.

 

Album solo terbaru dari proyek Bin Idris sudah keluar. Secara garis bagaimanakah album tersebut digambarkan?

Hmm.. Saya rasa album ini adalah album yang manusiawi, baik secara materi lagunya maupun proses penciptaannya. Kalau di Sigmun, konsep awalnya sudah start dari surealisme dan memang ada intensi juga untuk menjauh dari realita. Jadi kesannya lebih berjarak, banyak ambigu dan seakan-akan perlu diterjemahkan. Sedangkan di album Bin Idris ini saya mencoba untuk lebih mendekat kepada realita.

 

Butuh berapa lama proses untuk melepaskan album tersebut?

Proses penciptaannya tidak memakan waktu terlalu lama. Karena materi-materinya sebenarnya sudah ada tinggal disusun struktur dan dibentuk aja. Kira-kira 3-4 bulan.

 

Bin Idris

 

Adakah rekan-rekan musisi lain yang membantu proses pembuatan album Dalam Wangi?

Tidak ada, semua materinya ditulis, dimainkan dan direkam sendiri. Awalnya sih sempat kepikiran buat mengajak teman-teman untuk ikutan dan kolaborasi tapi setelah berproses dan semua materi lagu selesai saya jadi bertanya sendiri “apa perlu ditambah lagi?”. Pada awalnya niatnya mau membuat album yang grande, megah dan penuh ditambah kolab sana sini tapi setelah berproses malah jadi banyak banget yang saya tone down dan disimplifikasi.

 

Memasang ekspektasi tertentu dalam album ini?

Ekspektasi itu hal yang berbahaya sih, lebih enak santai aja daripada ekspektasi terlalu banyak nanti kecewa sendiri. Everything in moderation, ini berlaku ke proses penciptaannya juga.

 

Bagaimana Bin Idris menyebut kategorisasi genre bermusik dalam proyek ini?

Saya menduga karena formatnya yang vokal dan gitar tanpa drum orang-orang bakal mengkategorikannya pada folk. Tapi dari awal intensi saya pop sih. Banyak cari celah buat hook dan engga terlalu sibuk menyusun aransemen yang kompleks.

 

Sepertinya Haikal Azizi menggarap Sigmun dan proyek solo ini secara sama-sama serius. Apakah Bin Idris mampu bertahan lama atau memang untuk senang-senang belaka dibalik rutinitas utama bersama Sigmun?

Bin Idris justru menurut saya lebih mampu bertahan lebih lama justru memang karena ada faktor bersenang-senangnya di sana, ini paling mudah bisa dilihat di lagu-lagu di Soundcloud. Soal materi saya rasa selama saya masih bermain musik maka Bin Idris pun akan terus menelurkan karya.

 

Dokumentasi foto oleh Robby Wahyudi Onggo

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response