close

[Album Review] Blood Orange – Cupid Deluxe

blood-orange-cupid-deluxe1-500×500

blood-orange-cupid-deluxe1-500x500

Blood OrangeCupid Deluxe

Label: Domino

Watchful Shot : Uncle ACE – Chosen

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Anda pasti pernah berpikir apa saja hal-hal yang menurut orang tua atau kakak Anda itu keren pada zaman mereka masih muda dulu. Fashion, musik atau game apa yang akan membuat mereka bilang, “Okay itu keren.” Blood Orange, yang merupakan nama panggung dari proyek Lightspeed Champion, akan membuat Anda mengerti perasaan itu dari album keduanya dengan judul Cupid Deluxe.

80’s synthpop adalah kesan pertama yang didapatkan apabila mendengarkan album ini secara keseluruhan. Namun di track pembuka “Chamakay”, justru lagu dengan nuansa tropical yang akan terdengar. Suara dari Caroline Polachek membuat lagu ini lebih gelap tapi bukan dengan cara yang membuat depresi pendengarnya.

Coba perdengarkan “You’re Not Good Enough” dan “No Right Thing” ke keluarga Anda yang besar di tahun 80-an, maka mereka akan bilang, “Ini rekaman lagu Lionel Richie, Michael Jackson, atau Prince sih?” Cara menyanyi Dev memang membuat kita teringat dengan penyanyi-penyanyi pop kulit hitam di era 80-an dengan falsetto dan permainan tangga nada yang variatif.

Uncle ACE” menjadi lagu yang paling kuat di album ini dimana bagian sepertiga akhir dari lagu ini benar-benar membuat Anda mengatakan kalau ini harusnya menjadi soundtrack film Star Wars berikutnya. Sementara  “Chosen” adalah lagu favorit saya di album ini yang berhiaskan suara saxophone dan synth yang gelap dan tidak membuat depresi.

Always Let You Down” adalah satu-satunya track di album ini yang menurut saya kurang matang, Lagu ini harusnya bisa memberikan lebih, sementara “On The Line” memberitahukan apa yang harusnya dilakukan oleh track itu. Time Will Tell” adalah track penutup yang juga menjadi versi reprise dari “It Is What It Is” dan Anda harus melihat tarian plus permainan piano dari  Dev di video klip “Time Will Tell.

Saya adalah orang yang percaya bahwa ‘less is more tapi di album ini, Blood Orange seharusnya bisa memberikan lebih dari lirik lirik yang dia tulis. Penulisan lirik album ini seperti berhenti di tengah antara simpel dan kompleks. Namun bagaimanapun Blood Orange sukses membawa perasaan familiar namun baru di album ini lewat musiknya. Bahkan familiarnya sangat jelas dengan penyanyi pop tahun 80-an tapi sama sekali tidak ada kesan bahwa dia ingin meniru. Dia hanya menjadi dirinya dan membuat Anda serta orang tua atau kakakmu mempunyai suatu album yang mewakili generasi masing masing, baru dan lama di saat bersamaan.

[Contributor/Asad Gibran]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response