close

Bob Dylan Menangkan Nobel Sastra 2016

bob-dylan
Bob Dylan
Bob Dylan

Bob Dylan pernah mengejutkan dunia dengan beralih haluan memasang instalasi listrik ke dalam gitar pribadinya, merajam pesan rakyat sampai hari ini, menjual jutaan kopi serta memecah pikir lewat lirik-liriknya yang memukau tiada dua. Lalu sekarang, hampir setengah abad selepas peristiwa monumental tersebut, ia kembali menjadi topik pembicaraan utama: namanya memenangkan Nobel Sastra 2016 sekaligus bersanding sejajar dengan sastrawan masyhur seperti T.S. Elliot, Gabriel García Márquez, Toni Morrison, dan Samuel Beckett yang sudah membawa gelarnya terlebih dahulu di masa lampau.

Menurut data resmi, Bob Dylan merupakan musisi pertama yang berhasil memenangkan penghargaan prestisius itu. Dapat dibilang, penunjukan Bob Dylan pada hari Kamis lalu (13/10) waktu setempat memberikan terobosan besar sepanjang sejarah helatan nobel, terutama di bidang sastra. Memang, Bob Dylan bukan orang pertama yang memenangkan Nobel Sastra dari golongan luar. Jika melihat sejenak ke tahun 1953, Nobel Sastra jatuh kepada Winston Churcill (Perdana Menteri Inggris). Churcill dipilih karena pidato-pidatonya yang merepresentasikan glorifikasi perjuangan tiada henti, terlebih saat terjadinya Perang Dunia. Pihak The Swedish Academy selaku penyelenggara kiranya tidak lagi kaku dalam mendefinisikan batasan pengertian sastra yang mana dengan kemenangan Bob Dylan semakin memperlihatkan bahwa kekuatan lirik yang ditulisnya mempunyai kekuatan tak kalah besar dari puisi dan novel.

Sekertaris The Swedish Academy, Sara Danius menyebutkan bahwa Bob Dylan memiliki “ekspresi puitik yang berlandaskan penulisan berdasarkan tradisi Amerika”. Tak hanya itu, ia juga menambahkan pujian sembari berkata Bob Dylan merupakan penyair berbahasa Inggris yang hebat, di samping keberhasilannya membentuk garis pararel yang menghubungkan kejayaan syair kata era imperium Yunani dan masa sekarang. “Jika Anda menengok ke belakang, mungkin sekitar 2.500 tahun dari sekarang, Anda akan menemukan Homer dan Sappho. Mereka menulis syair untuk diperdengarkan meski bukan berarti mereka harus tampil ke keramaian. Syair yang mereka tulis adalah personifikasi kekuatan itu sendiri. Dan Bob Dylan juga melakukan hal yang sama”, tegas Darius. Walaupun Dylan tak selalu berkutat dalam penulisan sastra sebanyak penulis lain, Darius meyakini bahwasanya keluaran kreatifnya selama lebih dari lima dekade merupakan bentuk konsistensi dari penemuannya sendiri. Dylan tetap berteguh pada patron perjuangan yang menitikberatkan pada penindasan dan ketidakadilan.

Bob Dylan dilahirkan dengan nama Robert Allen Zimmerman di tahun 1941. Memulai karir bermusiknya di Minnesota sebelum akhirnya berlabuh di kota besar macam New York. Ia dikenal sebagai musisi yang aktif dalam menyuarakan persamaan hak asasi dan menentang keras akan segala wujud diskriminasi terutama di medio tahun 1960 di mana Amerika sedang krisis-krisisnya. Dari sekian banyak manifestasi Dylan dan akar rumpun gitar kopongnya, himne ““Blowin’ in the Wind and The Times They are A-Changin’” adalah salah satu yang terbaik di antaranya; melantangkan provokasi anti-perang dan pergerakan spartan untuk mewujudkan Amerika yang lebih seimbang.

Musik dan lirik Dylan berbicara mengenai bagaimana cara untuk merawat generasi masa depan dari asumsi ketidaksamaan dalam hidup. Bahwa kesenjangan, penindasan, dan segala gestur yang berbau kepentingan merupakan alasan utama mengapa dunia tak lagi aman. Pengaruhnya bertahan hingga kini sampai menjalar ke akar musik pop, rock dan tentu saja folk. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.