close

Boja Krama #5: Habis Gelap, Terbitlah Riang

Cotswolds 5
Lust
Lust

Pada Kamis, 11 Agustus 2016 lalu, perhelatan Boja Krama kembali di gelar oleh Rumah Gemah Ripah. Memasuki episode ke-5, seperti biasa, Boja Krama hanya menampilkan empat band saja, namun dengan hasil kurasi terpercaya. Lust, kuartet psychedelic rock/post-punk asal negeri Jiran, berkesempatan untuk mencicipi ‘sumuk’nya Surabaya, sekaligus berbagi panggung dengan local heroes layaknya Cotswold, Indonesian Rice, serta unit garage rock yang tengah mempersiapkan debutnya, Timeless.

Waktu tengah menunjukan pukul 7 malam, Cotswold ditunjuk sebagai band pertama yang berkesempatan mencicipi panggung Boja Krama. Kali ini, gedung bersejarah studio Merdeka FM dipilih sebagai venue terselengaranya acara rutin sebulan sekali ini. Cotswold unit soaked-pop asal Surabaya ini, membuka set mereka dengan apik. Denting rendah gitar yang berpadu dengan vokal yang penuh reverb, sekilas mengingatkan kita akan DIIV dan Beach Fossil.

Atmosfer Gelap, murung namun tanpa mengingkari sisi chillin’, telah Cotswold ciptakan sedari awal. Ramuan soaked pop yang dikombinasikan dengan post-punk berdosis tinggi, sontak menyihir para audience untuk turut larut dalam ke-ngawang-an yang telah Cotswold rapalkan. Di tengah penampilan, penonton pun semakin mabuk kepayang kala Cotswold mulai memainkan nomor andalan mereka yakni, “European Ocean”. Didukung visual khas psychedelic yang epic, Kali ini Boja Krama menawarkan set pembukaan yang super memabukkan.

Memilih “Marra” sebagai track penutup, adalah pilihan yang tepat dari band yang baru saja melakukan split album dengan Bedchamber beberapa saat lalu. “Marra” merupakan track favorit bagi saya secara pribadi. Dalam track yang juga menjadi single mereka kala promo split album “Portside” ini, Cotswold membawa musik mereka pada level selanjutnya; lebih,gelap dingin nan misterius dari materi sebelumnya.

Habis gelap terbitlah riang. Usai Cotswold menutup set dengan ciamik, kini giliran Indonesian Rice yang ditunjuk untuk mengokupasi panggung. Band yang memiliki banyak personil ini, mulai meniupkan sihir melalui trombon yang kontan menyulap panggung Boja Krama malam itu menjadi lantai dansa hanya dalam sekejap mata.  Alunan dub-reggae yang Indonesian Rice bawakan, membuat audience tak kuasa menahan hasrat untuk turut menari dan bergabung dalam lantai dansa yang secara ciamik berhasil Indonesia Rice ciptakan. Aksi sahut-sahutan dan koor-koor panjang pun tak dapat terelelakan, ketika band berpersonilkan lebih dari 7 orang ini menyulut nomor “Ghetto”. Tanpa merasa terisolasi di ruangan yang cukup pengap, penonton pun tetap asik bergoyang meskipun bersimbah keringat.

Indonesian Rice
Indonesian Rice

Band yang baru saja merilis debut album yang dibaptis dengan nama Prolog ini, menuntaskan penampilan mereka dengan kondisi tensi atmosfer yang kadung meninggi. Dan Timeless, mendapat giliran untuk meledakanya. Dan benar saja, moshpit langsung terciptak sejak chord pertama dari Bima dan Fajri didengungkan. Diawali nomor dengan “Golden Age”, Timeless mengokupasi panggung Boja Krama dengan ledakan garage rock era 90’an yang membawa kita bernostalgia seolah tengah menikmat aksi Dinosaur Jr era empat album awalnya. Lagu-lagu andalan seperti “Lonesome Street”, hingga single promo album ke-2 mereka “Ride Into The Sun” pun tak lupa mereka bawakan. Atmosfer memanasa, Timeless patut ditunjuk sebagai biang kerusuhan yang menyebabkan penonton ber-sing a long-ria dan berjingkrak-jingkrak tak karuan.

Jam telah menunjukan pukul 10, dan akhirnya kita telah sampai pada saat yang ditunggu-tunggu. Kini saatnya Lust, kuartet psychedelic/math rock asal Negeri Jiran ini yang mengambil alih pertunjukan. Dimulai dengan trek berjudul “Naga”, Lust membuka penampilan mereka dengan bermain sangat impresif, enerjik sekaligus emosional. “Amphibia”, ”Abardeen St” pun tak ketinggalan mereka lantunkan. Aksi ramah dari sang frontman Fariz yang berusaha menyapa audience dengan melayu-Indonesia yang terbata-bata, disambut gelak tawa. “Terimakasih Surabaya, disini sumuk ya? But keren.” Pasca menutaskan penampilan, Lust langsung menorobos pintu keluar dan menyapa hangat dan ngobrol ringan dengan para penonton yang kebetulan tak lebih dari 100 orang.

Cotswolds
Cotswolds
Cotswolds
Cotswolds

Surabaya, merupakan destinasi ke-6 bagi tour promo EP mereka. Pasca menikmati ‘hangat’nya kota pahlawan, Lust langsung terbang ke Bali untuk menutaskan titik terakhir dari tour mereka, sebelum kembali ke Malaysia dengan segudang cerita dari Indonesia. Yang selalu dirindukan dan tak dapat digantikan, dari gigs kecil seperti Boja Krama ini, adalah kehangatanya. Dan semoga, kita masih dapat bersua di Boja Krama selanjutnya. [WARN!NG/Reno Surya]

 

Event By: Rumah Gemah Ripah

Date: 11 Agustus 2016

Venue: Radio Merdeka FM

Man of The Match: Aksi mantap dari Costwold

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery –> Boja Krama #5

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.