close

Book For Children, Music For Everyone

aDSC_0152

Acara yang dihelat oleh Divisi Kewirausahaaan dan Sosial Keluarga Mahasiswa Antropologi pada 31 Maret 2013 kemarin bisa dibilang cukup sukses. Sumbangan minimal satu buku merupakan ide yang cukup cemerlang untuk mengganti tiket masuk ke venue yang cukup menampung sekitar 300 manusia di dalamnya. Buku-buku tersebut nantinya akan disumbangkan ke Sekolah Gadjah Wong, Yayasan Rumah Belajar Kaki Gunung Merapi, dan Komunitas pensil Terbang.

Masuk ke gerbang yang terbuat dari susunan ranting kayu yang penuh hiasan bertema hewan-hewan laut dengan sebuah perahu yang penuh dengan buku sumbangan dari para pengunjung mulai mengusik pengelihatan. Masuk lebih dalam lagi kita bisa melihat sebuah jalur berpasir yang mengarahkan ke pameran foto bertema ‘dolanan bocah’ di sisi kanan venue. Beberapa space berpasir semakin menguatkan atmosfir yang dibangun oleh panitia acara yaitu “Santai Kaya di Pantai.” Mereka berhasil menyulap Jogja National Museum menjadi wadah bagi para penikmat musik dan fotografi untuk sejenak bersantai nyaman dan menggugah gairahnya dengan sajian musik dan pameran foto yang tersedia di venue.

Siang yang cukup cerah diisi dengan performance dari Tari Aceh Saka UGM disambung dengan penampilan dari adik-adik Band Ethnic IDC (Indie Drummer Club). Dengan lagu Dari Mata Sang Garuda, adik-adik kreatif IDC pun menutup perfomencenya yang menggugah para penonton untuk mengangkat kamera gadgetnya untuk merekam penampilan mereka. Dilanjutkan secara berturut turut penampilan dari ANT 48 (semacam pompomboys), Sanggar Sentro (Sanggar Seni Antropologi), dan Chiken Soup Band.

Charity Concert

Setelah penyerahan plakat dan pengumuman pemenang lomba pada sore hari, acara penutup yakni charity concert pun dibuka oleh Alit Jabang Bayi pukul 19.00WIB. Dibuka dengan penampilan dari Gajah Mada Chamber Orchestra, pengunjung mulai berdatangan dan menikmati gesekan Cello dan Violin. GMCO membawakan lagu Medley Tasya yang merupakan aransemen ulang gabungan dari lagu-lagu tasya seperti Anak Gembala, Libur Telah Tiba dan lain-lain dengan apik. Seolah mengikuti tema acara soundtrack dari Doraemon yang diaransemen ulang oleh Wilson Lisan dimainkan sebagai penutup penampilan dari GMCO yang akan tampil lagi di LIP esok tanggal 3 April 2013 dalam format Resital Cello.

Disusul dengan Band Indie Rock dari Jogja, Musim Penghujan menghangatkan malam dengan deretan lagunya. Dibuka dengan “Animal Fight Club” dan “I Am a Deer”, Musim Penghujan mulai membuat penonton mengangguk-angguk menikmati beatnya yang cukup cepat dan padat. Pada lagu Bebal, Bili sang vokalis mengekspresikan kebimbangannya terhadap isu-isu sosial dengan sangat emosional. Dan untuk lagu terakhir, lagu “Demi Tuhan” dibawakan oleh band yang terbentuk pada 2010 ini sebagai pembius yang akan membuat para pengunjung akan terus terngiang dengan penampilannya .

Malam semakin gelap, Jalan Pulang membuat para pengunjung menikmati malam dengan musiknya yang romantis. Margi Ariyanti, Pianis nya yang cantik ini langsung menyita perhatian sejak pertama naik ke atas panggung. Band yang beraliran pop ballad ini membawakan “Naik Kereta Api” sebagai pembuka, lagu ini mengingatkan kepada masa kecil yang belum lama lewat dihiasi dengan aransemen yang apik khas Jalan Pulang. Dilanjutkan dengan Selamat Jalan dan Jalan Keluar, sang vokalis Irfan R. Drajat memainkan Harmonika dan Suling secaramengagumkan. Ditutup dengan lagu yang berjudul sama dengan nama band nya, Dwiki sang gitaris Jalan Pulang memainkan Glockenspiel yang membuat alunan musik terdengar ringan dan menghanyutkan.

Selanjutnya para punggawa The Everyday yang juga kerap bermain musik sebagai penghidup di Jazz Mbensenen di Bentara Budaya ini, menyihir penonton untuk turut bergoyang dengan jamming dari para personilnya. Setelah memberikan buku sebagai donasi secara langsung kepada ketua panitia, Riri sang vokalis memulai mengalunkan suaranya yang merdu dalam Gambang Suling. Selanjutnya band groovy ini menunjukkan duet keyboardistnya Itonk dan Gilang yang sangat apik dalam “Kembali Rindu”, dan “Kapan Ke Jogja Lagi”. Suasana semakin memanas ketika Dj Itonk memainkan keahliannya dalam memainkan tuts-tuts di keyboardnya. Untuk memenuhi permintaan penonton, Everyday menambahkan satu lagu terakhir sebagai hadiah untuk Charity Concert ini.

Sekarang giliran Javablanca yang mencoba memanaskan suasana konser. Mereka membawakan lagu-lagu bertema cinta dan persahabatan seperti “Salam Untuk Sahabat”, “Kasih Untuk Mereka”, “Berbagi Cerita”. Sebagai penutup Javablanca membawakan lagu Tentang Diriku yang menyampaikan rasa rindu seseorang terhadap mantan kekasihnya. Namun sayang penampilan maksimal javablanca tidak cukup memanaskan penonton, yang justru terlihat lebih asik berduduk ria sembari memegang handphone.

Dan yang dinanti-nantipun tiba, tanpa dikomando para penonton pun berdiri menyambut kedatangan Ugoran Prasad yang berkaos hitam, celana hitam, kacamata dan rambut berantakannya dengan sebatang rokok kretek yang menjadi teman setianya diatas panggung. Melancolic Bitch(Melbi) sebagai band pamungkas pun melepas rasa kangen dari para penggemarnya setelah sekian lama tidak bertemu muka. Dibuka dengan “On Genealoghy of Melancholica”, selanjutnya Melbi menyihir JNM untuk mengikuti dongengnya tentang Balada Joni dan Susi. Setelah sedikit bercakap dengan penonton, band yang berdiri akhir 90-an ini membawakan “7 Hari Menuju Semesta” , “Tentang Cinta”, dan “Mars Penyembah Berhala”. “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi” para penonton turut terlarut dalam pemikiran-pemikiran Melbi yang membius. Lagu selanjutnya “Requiem” diekspresikan dengan sangat emosional oleh Ugo dan gitarisnya Yosef, yang terlihat sangat atraktif dengan gitarnya. Sebelum membawakan “The Street” Ugo sempat memberi kabar gembira bagi para fansnya, mereka akan segara merilis CD Reanamesis bulan April ini. Antusias para penonton pun tak kunjung turun hingga Ugo membawakan lagu terakhirnya Menara sebagai penutup pertemuan yang sangat memorable dengan ratusan pasang mata yang menyaksikannya. “Lagunya kurang banyak, antiklimaks mas, tapi mas Ugo udah maksimal, keren lah” tutup Bram Amang, salah seorang penonton.  [Warning/Baharrabani]

Event by: Keluarga Mahasiswa Antropoologi

Venue : Jogja National Museum

Man Of The Match : Buku sebagai tiket masuk konser musik

Rating : ●●●

Date : 31 Maret 2013

© Warning/Noor
© Warning/Noor

 

Foto-foto konser ini bisa di cek disini

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.