close

[Book Review] A Brave New World

brn

 

Penulis : Aldous Huxley

Penerbit: Bentang Pustaka

Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto

Tahun terbit : Juli, 2015

Jumlah hal : xvi+268

 

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang ditulis Jeff Goodell yang berjudul The Rise of Intelligent Machines. Dalam artikel tersebut Goodell membahas tentang perdebatan teknologi kecerdasan buatan yang kini telah mencapai tahap yang revolusioner. Sebuah robot yang diberi kecerdasan buatan  tidak hanya terbatas menjalankan perintah-perintah yang sudah terprogram. Mereka sudah bisa belajar layaknya otak manusia. Maka, jangan heran jika kini anda melihat robot telah mampu mendiagnosis penyakit atau mengendarai mobil. Beberapa ilmuwan khawatir jika dengan segala inovasi yang makin maju, keberadaan robot akan mengurangi eksistensi manusia. Ditambah lagi jika teknologi ini dikembangkan untuk senjata.

Rasa pesimis akan kemajuan zaman maupun teknologi biasa disebut dengan distopia. Meski pada prinsipnya teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup manusia. Sekitar delapan dekade lalu seorang penulis Inggris Aldous Huxley, mencurahkan pandangan distopianya dalam sebuah karya berjudul Brave New World.

Cerita novel tersebut berlatar di sebuah masa depan pada tahun 632 After Ford (A.F.). Pada masa tersebut, manusia dibuat dan dikembangkan di laboratorium. Manusia dibuat dengan berbagai macam kasta sehingga dapat diatur dengan mudah. Dengan hal tersebut para Kontrolir Dunia menciptakan masyarkat ideal dengan slogan Negara Dunia: KOMUNITAS, IDENTITAS, STABILITAS. Akan tetapi ada seseorang  yang menjadi anomali di tengah  masyarakat yang stabil. Ialah Bernard Marx. Marx tidak berperilaku layaknya orang-orang dunia baru. Ia adalah seseorang yang senang menyendiri dan tidak memiliki kebiasaan mengkonsumsi somasuatu jenis tablet yang biasa digunakan masyarakat dunia baru agar terhindar dari stres, pemerintah dunia baru selalu memberi beberapa tablet setelah masyarakat dunia baru bekerja, soma memberikan efek tenang atau tertidur pulas.

Saat liburan tiba, Marx memilih mengunjungi Konservasi Orang Liar di New Mexico. Sebuah tempat yang dikunjungi tidak lebih dari selusin orang tiap tahunnya. Untuk mengunjungi Reservasi Orang Liar pun butuh izin khusus dari pemerintah dunia. Mendengar kabar Marx akan berlibur ke tempat tersebut, seorang wanita bergegas menghampirinya. Wanita yang bernama Lenina ini cukup tertarik dengan tujuan liburan Marx. Lenina pun meminta agar ia boleh ikut berlibur bersama Marx

Reservasi Orang Liar memang bukan tempat yang baik untuk menghabiskan liburan bagi orang-orang dunia baru. Lenina melihat sebuah pemandangan buruk yang tidak pernah dibayangkannya.  Melihat manusia masih melahirkan, orang-orang yang berkeluarga, menyaksikan orang yang berkeriput karena umur. Semua hal ini sungguh hina bagi orang-orang dunia baru. Lenina mengatakan kehidupan orang-orang liar ini menjijikan dan tidak beradab.

Di tempat ini mereka bertemu seorang pemuda bernama John dan  ibunya. Kedua orang tersebut merupakan orang asing di reservasi. Ibu John yang bernama Linda ditemukan orang-orang liar sudah dalam kondisi hamil. Dulunya Linda merupakan orang yang hidup di dunia baru. Ayah dari John adalah seorang Direktur Penetasan dan Pemeliharan bernama Tomakin. Oleh karena itu, Marx mengajak Linda dan John kembali ke dunia baru. Keduanya pun setuju.

Kembali ke dunia baru, bagi Linda ibarat kembali ke habitat aslinya. Namun, hal berbeda ditunjukan oleh John. Linda kembali menjalankan hidup di dunia baru  sebagaimana ia jalankan dahulu kala. Bagi John, hidup di dunia baru justru membuat ia muak. Ia begitu heran dengan budaya seks bebas yang ada di dunia baru. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai yang dipelajari dari Orang Liar. Di dunia baru menikah adalah suatu tindakan yang tidak beradab. Berhubungan bukan hal yang lagi sakral.

Puncaknya, saat mendapat kabar bahwa Linda masuk Rumah Sakit Park Lane untuk Orang Sekarat, John bergegas mengunjungi ibunya. Sebagai seorang anak, John tak kuasa menahan kesedihan ketika menyaksikan langsung tarikan nafas terakhir dari ibunya. Seketika John berkabung, muncul anak yang sedang dalam program pengondisian. Seorang perawat memarahi John karena menunjukan kesedihan di depan anak-anak yang sedang menjalani program tersebut. Dalam dunia baru, kematian adalah hal yang dianggap biasa. Bukan sesuatu yang mengerikan atau layak untuk ditangisi. Anak-anak yang melihat John menangisi jenazah Linda sama sekali tidak menunjukan rasa simpati. Anak-anak tersebut malah mengomentari fisik Linda yang tua dan menjijikan. Karena itulah John membuat kekacauan di rumah sakit ini.

Setelah apa yang diperbuat John, Mustapha Mond,  sang Kontrolir Dunia memanggil John, Marx dan Helmhotz. Helmhotz adalah teman Marx dan seseorang yang paling akrab dengan John di dunia baru. Sebuah perdebatan terjadi antara Kontrolir Dunia dan John. Kedua orang tersebut membicarakan konsep peradaban manusia dari dua sisi yang berbeda dan saling bertentangan. Pada ujung pembicaraan mereka, Sang Kontrolir memberikan pilihan pada John untuk hidup kembali liar atau menjadi bagian pemerintah dunia. John memilih kembali menjadi manusia liar. Marx dan Helmholtz diberi hukuman dipindahkan tugas ke kepualuan Falkland.

Setelah membaca karya ini, kita mendapatkan beberapa pandangan pesimis Huxley tentang masa depan.  Menurut Huxley di masa depan aktivitas masyarakat tidak lagi diawasi dan dibatasi oleh aparatur negara. Dalam buku ini, Huxley menggambarkan bahwa masyarakat dikondisikan pemerintah ketika kesadaran mereka belum terbentuk. Masyarakat dilahirkan dari gen yang sama, dan diberi perlakuan khusus sejak balita. Saat di laboratorium, bayi-bayi manusia dikondisikan untuk menjauhi buku. Ketika ada satu bayi mendekati buku, maka seluruh bayi di laboratorium tersebut diberi hukuman. Sebuah setruman kecil dan diperdengarkan suara-suara yang mengganggu telinga.

Dalam dunia baru, pemerintah menyediakan sarana dan kebijakan hiburan sebanyak-banyak pada masyarakat.Tentunya hal ini diciptakan agar masyarakat apatis terhadap politik dan tercipta dunia yang stabil. Seks bebas dan soma menjadi sarana eskapisme masyarakat. Dalam dunia baru juga tidak mengenal cinta. Tidak ada cinta antar keluarga maupun terhadapap pasangan. Cinta adalah sesuatu yang menjijikan.

Teman mudaku terkasih,” kata Mustapha Mond. “Peradaban sama sekali tidak membutuhkan kemuliaan atau heroism. Hal-hal ini adalah gejala tidak efisiennya politik. Dalam satu masyarakat yang terorganisasi dengan baik seperti masyarakat kita, tak seorang pun punya kesempatan untuk jadi mulia atau heroik. Kesempatan itu baru bisa muncul jika kondisi betul-betul tidak stabil. Tempat ada perang, tempat ada kesetiaan yang terbagi, tempat ada cobaan untuk dilawan, objek cinta untuk diperangi atau dipertahankan--di sana, jelaslah, kemuliaan dan heroism punya suatu arti. Tetapi, sekarang ini tidak ada perang. Kepeduliaan terbesar diambil untuk mencegahmu terlalu mencintai siapa pun”. ( hal. 241-242)

Karya Huxley ini mampu dijadikan sebuah refleksi terhadap realita kehidupan masyarakat saat ini. Huxley berhasil meramal apa yang menjadi kegusarannya di masa lampau. Bagi sebagian masyarakat seks bebas adalah hal yang sudah dianggap wajar. Konsumsi soma sebagai sarana rekreasi sangat mirip dengan penggunaan obat-obatan terlarang di masyarakat. Sarana hiburan diciptakan sebanyak-banyak agar masyarakat tidak peduli dengan sekitar.

Menurut saya pribadi, buku ini salah satu bacaan wajib bagi anda yang hidup di abad 21. Secara pribadi, Huxley berhasil mengajak saya berefleksi sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di masa depannya. Beberapa pertanyaan seketika menghantui pikiran saya.  Apakah dunia sekarang ini lebih baik dari hari kemarin? Apakah masa depan akan lebih baik dari hari ini? [WARN!NG/Rifki Afwakhoir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response