close

[Book Review] All That is Gone

all-that-is-gone
all-that-is-gone

 

Judul: All That is Gone (Cerita dari Blora)

Penulis: Pramoedya Ananta Toer / Translasi oleh Willem Samuels

Penerbit: Penguin Books

Tahun terbit:  2005

 

Mungkin terasa tidak bijaksana membaca sastra Indonesia yang sahaja dalam bahasa Inggris yang konon nuansanya kurang membumi. Tapi toh tidak ada yang bisa membuatmu berhenti membaca hasil kerja Pram. Layaknya Alkitab, ia masih sah-sah saja dianut meski sudah disadur jadi bahasa Jawa atau Samin sekalipun. Berisi delapan cerita yang berlatar tanah kelahiran Pram di Blora, kumpulan cerita pendek ini dilabeli karya semi-autobiografi. Meski begitu cara tutur Pram tidak melulu menggunakan cara pandang ‘aku’. Ia juga meminjam hidup Sri yang kurus, si cacat Kirno, dan suami pengkhayal yang susah tidur karena besok lebaran. Membaca setiap ceritanya seperti diputarkan film nir-warna klasik yang diambil dari gudang berdebu menggunakan proyektor lawas.

Buku ini sedikit mengingatkan saya pada novela Bukan Pasar Malam, namun dengan dosis sentimental, pilu, dan romantis—tanpa meromantisir—berkali lebih tinggi. Saya jadi seperti balita yang baru saja melihat pesawat melintas pertama kalinya, menunjuk-nunjuk ke atas, berharap semua orang juga lihat. Bisa dibilang ini yang selalu saya lakukan selepas baca buku-buku Pram. Saya mau semua orang baca, saya mau semua orang tau rasanya punya emosi dijungkirbalikkan cuma oleh lembaran kertas. Mungkin karena beberapa ceritanya dikisahkan langsung dari sudut pandang penulis sendiri, buku ini terasa lebih sentimental. Alur pengurutan judul layaknya membaca buku coming of age, awalnya penuh cerita-cerita sederhana soal masa kecil lantas makin muram pun menggelap seiring pendewasaan sang penulis.

Pram bisa menghadirkan sisi lain cerita soal masa kolonial, ia tidak bercerita soal strategi perang dan gejolak politik di tengah tokoh elit, tapi kisahnya berkutat pada orang-orang papa. Mereka yang tak tahu siapa perang melawan siapa namun tetap kena getahnya. Salah satu cerita yang paling menguras emosi berjudul Acceptance, soal anak kedua dari lima bersaudara yang hidup di masa penjajahan Jepang dan transisi kemerdekaan Indonesia. Hidupnya begitu keras, saking terbiasa dikungkung penderitaan, dia berujar bahwa, “acceptance is a tool for survival, a means to get by.”

Cerita sebelumnya juga menarik, berjudul Independence Day, soal seorang laki-laki buta dan cacat akibat perang lawan Belanda yang benci dan hampir gila karena dengar pidato Soekarno dan gegap gempitanya parade kemerdekaan. Dia merasa dicurangi, karena kemerdekaannya sebagai manusia untuk melihat dan berjalan saja sudah terenggut. Pram menulis deskripsi yang bagus soal derita yang seakan jadi teman baik tokoh ini: “The suffering this caused him was real and because it had so intimately entwined itself with his life, whenever he now thought of his own existence and interest, he derived a strange comfort from its presence. Because he could suffer, he knew he was alive.”

Selain eksplorasi soal emosi tergelap manusia, Pram juga menyuguhkan gambaran-gambaran soal kejamnya masa perang. Soal usus yang terburai, logam yang sengaja ditancapkan ke mata seorang terdakwa, dan anjing-anjing kelaparan yang melahap bagian-bagian tubuh mereka yang disangka musuh dalam nomor Revenge. Di sini ia berujar dari mata seorang tentara rekruitan yang takjub menyaksikan kebrutalan sesamanya, betapa mereka menyenangi bermain hakim sendiri, menguak sifat alamiah manusia yang agresif.

Satu-satunya cela dalam buku ini adalah translasi yang kurang mumpuni, di awal-awal cerita, saya masih heran mengapa kemampuan literasi Pram disadur dengan diksi yang kurang ‘dalam’. Padahal ini buku dengan penerbitan skala internasional, yang bakal jadi pengenal Pram pada pembaca berbahasa asing. Sungguh disayangkan, namun meski terganjal translasi yang kurang memadai, buku ini tidak kehilangan warna penulisnya. Saya masih merasa diceritai oleh Pram dengan gaya penuturan, sudut pandang, dan sensasi realistis yang ditawarkan oleh penulis prominen ini meski disajikan dalam bahasa yang berbeda. Tidak ada yang bisa jadi ganti nikmatnya baca novel dengan latar negeri sendiri, apalagi ditulis oleh orang yang paling tahu kejamnya negeri sendiri. [WARN!NG/ Adya Nisita]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response