close

[Book Review] Aruna & Lidahnya

aruna-dan-lidahnya
Aruna & Lidahnya
Aruna & Lidahnya

 

Pengarang: Laksmi Pamuntjak

Penerbit: Kelompok Penerbit Gramedia

Halaman: 426

 

Alkisah, dalam sebuah mimpi saya mendapati pesan berantai yang berisi hal-hal berikut ini: jangan mencoba steak wagyu sembarang waktu. Biasanya, mereka terpedaya harga murah akan tetapi justru itu yang bermutu rendah. Lalu, saat mengunjungi restauran Thailand, usahakan untuk memesan yang biasa-biasa saja. Paling aman adalah hidangan klasik semacam salad mangga, jeruk bali, kari daging hijau, bebek merah atau tumis ayam cincang dengan daun basil. Sempatkan mampir ke Izakaya di sudut pertokoan lama, lupakan sushi dan sashimi karena tempat ini tidak sebesar yang anda kira; berukuran kecil seperti tapas barnya Jepang. Pilih beberapa hidangan yang namanya sudah tertera di dinding. Jika tidak yakin akibat terkendala bahasa, cukup angkat tangan dan minta kepada pelayan untuk menyediakan beberapa hidangan ayam, tahu, terong umbi-umbian, sayur atau daging yang sering dipesan tamu-tamu kebanyakan. Namun di lain kesempatan cobalah hidangan yang tak akan dijamah orang lain; semisal pasta tipis berlumur caviar dari daftar makanan pembuka di kedai Italia. Kesan pertama membuat indera perasa terkagum-kagum. Meski porsinya superkecil dan harganya di luar jangkauan akal normal, hidangan tersebut nyatanya mengesankan; begitu harum dan bersih tanpa melenyapkan aroma bawang putih juga telur ikan yang meletup-letup di gurat lidah.

Kira-kira begitu cuplikan transkrip pembicaraan saya dengan Aruna, tokoh utama pada novel berjudul Aruna & Lidahnya karangan Laksmi Pamuntjak dalam sebuah mimpi yang linier di malam Sabtu yang tak terlalu sendu. Membaca novel yang topik utamanya berkutat soal makanan, makanan dan makanan membuat atensi saya tertarik begitu hanyut. Menyelami tiap gigitan yang lembut, menjilat kudapan yang beraroma abstrak atau berdecak nikmat kala menutup sesi jamuan makan siang di kompleks pecinan. Bagi Aruna, single metropolitan berusia tigapuluh lima tahun makanan tak ubahnya candu dunia yang melengserkan narkotika dan nafsu angkara di posisi satu sampai dua. Jejak hidup Aruna dipenuhi kebingungan akan misteri pencarian jati diri akibat kompleksitas masa lalunya yang tersusun dari kenangan tambal sulam hubungan keluarga. Ia seorang epidemiologist; bekerja di sebuah NGO yang berfokus pada permasalahan unggas, OneWorld. Tugas pokoknya adalah menjadi mitra pemerintah untuk menyelidiki kasus flu unggas yang kala itu merebak di segala penjuru. Sampai pada akhirnya kejadian aneh muncul secara tiba-tiba: flu unggas menyerang serentak di delapan kota Indonesia. Hal itu lantas memaksa Aruna musti mempelajarinya lebih lanjut. Sekaligus memastikan apakah memang benar kasus nyata atau hanya intrik belaka yang menghasut angin kebusukan korupsi, kolusi, konspirasi dan misinformasi yang sejatinya mengarahkan persepsi masyarakat semakin tereduksi tak menentu.

Sesungguhnya apa yang diceritakan Laksmi lewat Aruna & Lidahnya lebih menyoroti kebobrokan sistem kesehatan masyarakat yang diisi pemikiran kolot konservatif berbasis kepentingan pihak-pihak bermodal banyak. Merupakan refleksi lampau semasa tragedi flu unggas yang popularitasnya meroket naik di obrolan ramai. Lempar tanggung jawab, birokrasi yang berbelit, permainan licik yang menyeret pihak ketiga sampai lambannya penyelesaian untuk mengulur tenggat waktu keputusan; dimanfaatkan segelintir (atau sekumpulan) pihak dalam meracik strategi guna memenangkan alih pikir masyarakat umum. Meski demikian, Laksmi mampu mengemas fluktuasi problematika Aruna & Lidahnya menjadi semakin menarik. Menggunakan latar variasi makanan, ia menguraikan satu per satu objek kasus supaya saling bertautan. Sosok Aruna yang bertindak sebagai pusat dari segela koneksitas antar bagian, membawa persona dirinya dalam bingkai pemahaman utuh. Entah romansa anehnya bersama Farish, pertarungan batinnya dengan situasi rumit keluarga atau integritasnya yang ternoda harum busuk kasus unggas ternak. Tapi yang mencolok adalah kecintaannya terhadap segala jenis masakan dan makanan yang melebihi cintanya kepada hal lain di alam semesta.

Tak hanya Aruna, Laksmi juga turut serta menceritakan dua tokoh pendamping dalam wujud Bono dan Nadehza. Bono, karibnya laki-laki merupakan chef handal yang tak segan bertempur di kawah bumbu dan komplikasi resep jitu sembari menelusuri langkah menuju posisi laiknya sang guru. Ambisinya mengelana tanpa batas yang meniupkan udara penjelajahan ke London, Paris hingga New York demi mengetahui langsung detail dan proses pembuatan konstruksi pangan; komposisi, tekstur serta visual pengindahan. Sedangkan kawan satunya Nadehza. Feminis tulen, wanita karir, alpha-woman sejati atau sebut saja lainnya merujuk pada kapabilitasnya yang menempatkan kekuasaan perempuan di atas segalanya. Perempuan harus bisa mandiri tanpa bantuan lelaki, katanya. Menurutnya, tak ada yang lebih mengerikan dibanding berucap sepakat dalam gelembung atap ikatan suci. Seleranya yang tinggi, relasinya yang tersebar di kota-kota ekslusif di dunia, dan wawasan luasnya yang merangkak prestisius menjadikan Nadehza ikon, termasuk ketertarikannya terhadap kuliner yang kata Aruna juga diselipi pemikiran-pemikiran kritis ala budaya Sorbonne.

Pengambilan lokasi dalam Aruna & Lidahnya cukup beragam. Laksmi sengaja memotret wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik sendiri. Baik secara geografis, sosial-politik maupun segmentasi konflik. Seperti halnya penyertaan nama Madura yang kental dengan dinamika bermotif agama. Secara runtut, Laksmi memaparkan kekayaan kuliner Nusantara yang memiliki nilai jual tinggi; nanjura ikan mas hitam di Parapat, rujak pisang batu di Aceh, pempek kapal selam otentik di Palembang, pengkang pecinan di Pontianak sampai bebek Pamekasan yang masyhur. Di lain sisi, Laksmi selaku penulis pun mengemas alur novel ini secara mengalir dan menyenangkan. Total terdapat 36 (tigapuluh enam) bab yang ia tulis sedari awal perjumpaan hingga akhir perpisahan. Tidak membosankan. Beragam latar belakang, sebutan, trivia, metode teknis serta kebiasaan umum mengenai khazanah kuliner lokal ataupun mancanegara melaju deras ke selaput ingatan. Selain juga menggerus identitas tokoh di dalamnya sebagai subjek komunitas urban.

Walaupun begitu, ada beberapa celah yang ditimbulkan dalam gaya penurutan Laksmi. Sehingga menyudutkan posisi pembaca seperti menonton tayangan bedah makanan yang cilakanya cukup sering timbul menjelang fase pemungkas. Tapi itu bukan soal siginifikan karena dengan kehadiran Aruna, perbincangan seputar kehidupan yang dibingkai dari perspektif makanan jauh lebih menggugah rasa sembari mungkin menikmati potongan poulet roti di rumah makan yang biasa-biasa saja. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response