close

[Book Review] Dangdut: Musik, Identitas, dan, Budaya Indonesia

901120531__194_274

Dangdut: Musik, Identitas, dan, Budaya Indonesia

Penulis: Andrew N. Weintraub

Tahun terbit : April 2012

Jumlah halaman : x + 302

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Mengupas budaya dan sejarah bangsa Indonesia lewat kacamata dangdut

Bagi anda pencinta musik, sudah tentu anda pernah mendengarkan musik dangdut. Terlepas itu inisiatif sendiri ataupun tidak sengaja mendengarkannya. Musik begitu mudah anda temui di Indonesia. Di lorong-lorong pasar, warung nasi, terminal, angkutan umum ataupun TV, Anda pasti bisa menemukannya.

Walaupun demikian, kini musik dangdut mulai terpinggirkan. Ada kesan bahwa musik ini kampungan dan hanya untuk orang kelas rendah. Kajian-kajian musikologis yang mentradisi semakin menyudutkan keberadaan musik ini. Dangdut dipandang sebagai musik yang bising, agresif, bebal, cangkokan, tidak otentik, serta miskin kreativitas dan imajinasi. Selain itu, ada juga kaum intelektual yang menganggap musik ini dekat denga praktik kekerasan, seks, mabuk-mabukan serta penggunaan narkoba. Citra yang buruk membuat dangdut tersingkir dari wacana keilmuan tentang kebudayaan Indonesia

Bagi Indonesia, dangdut bukan hanya sebatas musik hiburan. Lebih dari itu, dangdut memiliki kaitan erat dengan sejarah dan budaya masyarakat Indonesia. Hal inilah yang dicoba diangkat oleh Andrew N. Weintraub dalam bukunya yang berjudul Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Ia seorang professor musik di University of Pittsburgh yang jatuh cinta dengan dangdut. Weintraub juga mencoba membantah kajian-kajian musikologis dengan memahami praktik dalam pertunjukan, gaya, dan estetika dalam konteks historis tertenty

Musik dangdut diberi nama secara onomatopis dari tiruan bunyi gendang, “dang” dan “dut”. Musik dangdut berkembang mulai era pasca-kemerdekaan. Pada tahun awal 1970-an, dangdut dilecehkan sebagai bentuk rendah populer. Pada tahun 1980-an musik dangdut mulai dikomersialkan. Dangdut dimaknai ulang sebagai ragam musik pop nasional dan global pada era 1990-an. Musik dangdut terlokalisir di lingkup komunitas di era 2000-an. Selama 40 tahun dangdut telah memunculkan berbagai macam makna, fungsi, dan penggunaan sosial di Indonesia.

Perkembangan musik dangdut, tidak bisa lepas dari kondisi sosial, ekonomi, maupun politik. Semasa era Soekarno, musik-musik populer kurang begitu berkembang karena penolakannya akan pengaruh-pengaruh barat termasuk dalam musik. Pada masa orde baru, musik dangdut berkembang pesat. Diawali dengan orkes-orkes melayu yang melayu memainkan musik Indonesia yang mengkristal menjadi musk dangdut. Dukungan pemerintah, ekspansi kapital gaya barat, serta berkembangnya budaya kosumerisme, membuat popularitas dangdut semakin meningkat. Dangdut mulai dikenalkan sebagai alat kampanye penarik massa. Pasca-reformasi dangdut-dangdut lokal berkembang. Efek krisis moneter di akhir era soeharto membuat produksi rekaman nasional kesulitan uang. Dangdut lokal merupakan sebuah cara bertahan musik dangdut dari keadaan tersebut. Mereka menjangkau penikmat-penikmat lokal. Para musisi dangdut mempertahankan dangdut dan juga hidupnya melalui cara tersebut

Kepopuleran dangdut mulai menurun yang ditandai dengan jatuhnya rezim orde baru. Buku ini menceritakan kejatuhan dangdut diawali dengan ketenaran Inul Daratista sang ratu ngebor. Pedangdut ini sempat dikecam oleh golongan islam konservatif karena goyangannya yang dianggap erotis. Menurut golongan tersebut, goyangan Inul bertentangan dengan nilai agama islam. Gaya manggung inul ini mempopulerkan tledhek (penari) dalam pentas tayuban, yang keduanya berasal dari Jawa Timur. Tingkah-laku yang sama-sama genit, memikat, menggoda dan seksual di panggung. Dangdut mulai dikenal sebagai musik yang “porno” yang memiliki kesan tidak bermoral karena lebih menjual sisi erotis dari seorang penyanyinya. Sewaktu zaman soeharto, pengawasan media begitu ketat. Lagu yang dianggap “porno” atau “cengeng” akan disensor.

Weintraub sebagai penulis buku ini berhasil menceritakan dangdut secara historis, etnografis juga musikologis. Weintraub melakukan analisis lagu-lagu dangdut yang sempat populer di setiap eranya. Baik secara nada, irama, maupun liriknya. Menurut saya ini adalah salah satu keunggulan Weintraub dalam menganalisis dangdut secara keseluruhan.

Dangdut memang sudah hilang masa keemasan. Dangdut kini sudah terpinggirkan. Akan tetapi, kita tidak bisa begitu saja menyingkirkan dangdut dari Indonesia. Dangdut merupakan sebuah kekayaan sebagai musik asli Indonesia. Setidaknya, kehadiran buku ini membuat kita terbuka bahwa dangdut bukan lah sekedar sampah di belantika permusikan Indonesia. [Rifky Afwakhowir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.