close

[Book Review] Kambing dan Hujan

Cover Kambing dan Hujan

Cover Kambing dan Hujan

Judul                           : Kambing dan Hujan

Penulis                        : Mahfud Ikhwan

Penerbit                      : Bentang Pustaka

Tahun Terbit             : Mei 2015

Jumlah Halaman      : 373 halaman

Orang Indonesia pasti paham perihal konflik antar umat beragama, bahkan mungkin sudah banyak yang mengalaminya. Jangankan konflik antar agama yang berbeda, saudara satu agama juga bisa berselisih. Contohnya konflik Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang sejatinya satu agama tapi berbeda aliran. Konflik ini bahkan sudah terjadi sejak lama. Jika dirunut secara genealogis, konflik kedua kubu tersebut telah terjadi semenjak periode ‘60-an. Kedua kubu tersebut sering berkonflik, mulai dari masalah boleh tidaknya pakai bedug, perbedaan bacaan-bacaan salat, hingga perbedaan hari raya.

Latar konflik tersebut yang diangkat Mahfud Ikhwan dalam roman Kambing dan Hujan-nya. Ikhwan mengangkat cerita cinta dua pemuda-pemudi yang terhalang perbedaan paham kedua orang tuanya. Layaknya Romeo dan Juliet, dalam Kambing dan Hujan, Miftahul Abrar (Mif) dan Nurul Fauzia (Zia) terhalang oleh idealisme orang tuanya. Bukan oleh Montague atau Capulet, tapi oleh Fauzan dan Iskandar, dua tokoh keagamaan dusun Centong yang berseberangan aliran Islam. Fauzan, ayah Zia, adalah tokoh Masjid Selatan yang merupakan basis kaum NU. Sedangkan Bapak Mif, Iskandar, adalah tokoh Masjid Utara yang merupakan tempatnya orang Muhammadiyah. Kehidupan mereka yang penuh perbedaan, mulai dari masjid yang berbeda, sekolah yang berbeda, hingga aliran agama yang berbeda membuat Mif dan Zia tahu bahwa perjuangan cintanya tak akan mudah.

Dalam memperjuangkan cinta mereka, Mif dan Zia justru mendapati atau mungkin tertarik oleh mesin waktu kembali ke masa muda ayah-ayah mereka. Fauzan dan Iskandar, atau panggilan kecilnya Moek dan Is, membeberkan segala cerita mengenai Centong dan mengapa ada perbedaan-perbedaan di dalamnya. Mulai dari datangnya Cak Ali sang tokoh pembaharu, pembelotan kaum muda, pertikaian demi pertikaian yang terjadi, pembangunan masjid tandingan, hingga surat-surat lapuk yang masih tersimpan. Cerita-cerita yang menguak luka lama dan menyayat luka baru.

Kambing dan Hujan tak hanya menyajikan cinta dua anak manusia, melainkan konflik dua kubu aliran Islam di sebuah dusun kecil di Jawa Timur. Konflik antara kubu yang disebut ‘pembaharu’ dan ‘tradisional’ menjadi bagian yang justru sangat menonjol. Pergulatan dan dinamika kedua kubu tersebut memaksa Fauzan dan Is yang bersahabat untuk mengambil jalan yang berbeda. Perbedaan yang akhirnya memecah dusun Centong menjadi dua. Perbedaan-perbedaan itu pulalah yang pada akhirnya menciptakan tembok besar di antara Mif dan Zia. Tembok besar yang coba mereka rubuhkan—kalau tidak lompati.

Menurut saya, Mahfud Ikhwan sukses mengeksekusi cerita cinta Romeo-Juliet yang khas orang Centong. Kekhasan Centong dengan konfliknya, garis batas imajiner ‘utara’ dan ‘selatan’, juga ditambah dengan luka lama para bapak membuat Kambing dan Hujan spesial. Mahfud Ikhwan juga sukses menjelaskan logika-logika ‘orang desa’ sehingga pembaca paham bagaimana mereka—kedua kubu tersebut—bisa berseteru. Sama halnya dengan sulitnya Mif dan Zia untuk menikah. Konflik-konflik dibawa dan digambarkan dengan intens, sehingga kesedihan dan kegundahan Mif dan Zia serta kedekatan masa lalu Moek dan Is dapat dirasakan pembaca. Latar pedesaan Jawa Timur yang asri dapat diartikulasikan oleh Mahfud Ikhwan dengan deskripsi-deskripsinya yang detil juga subtil namun hidup.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah kelihaian Mahfud Ikhwan mengolah point-of-view. Ia menghadirkan empat aku yang mungkin akan membingungkan pembaca. Namun, kabar baiknya, Mahfud Ikhwan mampu menyajikannya dengan mulus dan tak membuat pembaca harus membolak-balik halaman karena kebingungan. Ia juga dengan lihai membolak-balik linimasa cerita. Alur maju-mundur yang disajikannya juga mengalir dengan lancer tanpa membikin pembaca sakit kepala. Saya rasa Mahfud Ikhwan memang punya magis sendiri dalam hal itu.

Meski mengangkat isu NU-Muhammadiyah yang cukup sensitif di kalangan muslim Indonesia, Kambing dan Hujan menarasikannya dengan cukup netral. Walaupun, Mahfud Ikhwan sendiri mengakui bahwa dirinya memijak di salah satu sisi. Memang ada dialog-dialog yang mengolok-olok salah satu pihak. Namun, saya kira, proporsinya netral dan tidak begitu timpang. Saya justru memandang bahwa Mahfud Ikhwan mengajak kalangan muslim yang berbeda-beda aliran ataupun ormas tersebut untuk hidup damai dalam perbedaan-perbedaannya. Seperti cuplikan pada halaman 338; “Dan, apa salahnya berbeda? Tuhan menciptakan makhluk juga berbeda-beda. Manusia juga berbeda-beda; beda rupa, suku, golongan, bahasa. Jadi, tidak ada yang salah menjadi berbeda.”.

Di balik seluruh kelebihannya, menurut saya, Kambing dan Hujan memiliki beberapa nilai minus. Salah satunya ialah penggunaan banyak kata atau frasa yang mungkin hanya akan dipahami oleh kalangan muslim. Seharusnya, dapat ditanggulangi dengan menggunakan catatan kaki atau penjelasan bagi kata atau frasa yang dirasa kurang umum. Mungkin saja kritik ini dapat dibela menggunakan argumen bahwa pangsa pasar Mahfud Ikhwan adalah muslim. Namun, bagi saya, alangkah lebih baik jika novel Kambing dan Hujan dapat dibaca dan dipahami dengan mudah oleh semua orang, terlepas apapun latar belakangnya. Lalu, akhir cerita novel Kambing dan Hujan terkesan seperti akhir-akhir film Disney di mana sang protagonis hidup bahagia selamanya. Walaupun tak se-cheesy film-film Disney, tetapi rasa-rasa itu saya dapatkan ketika mencapai penghujung buku. Namun, secara keseluruhan buku ini benar-benar berkelas. Tak perlu lagi saya ulangi memuji buku ini. Memang pantas jika buku ini memenangkan “Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta Tahun 2014”.

[contributor/Unies Ananda Raja]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response