close

[Book Review] Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

Le Petit Prince
Le Petit Prince

Judul Buku: Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

Pengarang: Antoine De Saint E.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)

Penerjemah: Ellnovianty Nine Sjarif dan A. Fitrianti

Jumlah Halaman: 120

Bagaimana jadinya apabila kehidupan Anda dilihat dari perspektif seorang anak yang belum cukup kapasitasnya dalam menelan ekstasi makna dunia? Apakah sisi kedewasaan kita luntur tatkala pertanyaan-pertanyaan polos keluar begitu saja dari seorang anak kecil lantas menelanjangi kegagahan yang acapkali kita banggakan? Itulah beberapa hal yang terlintas setelah membaca Le Petit Prince; sebuah fantasi Antoine de Saint-Exupery yang dibungkus lewat kisah-kisah sederhana, satir dan juga penuh perenungan dari keberadaan tokoh tanpa asal usul pasti berwujud pangeran kecil.

Dikisahkan pada suatu masa Antoine (ia menggunakan sudut pandang  ‘aku’) jatuh terperangkap di medan panas Gurun Sahara. Pesawat yang ia tumpangi mengalami kendala mesin sehingga butuh waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Sampai pada suatu Subuh ia dibangunkan rengekan suara halus juga ganjil dari sosok anak kecil yang berparas dan berpakaian laiknya pangeran negeri seberang; jubah melantai dengan atribut kerajaan berwarna semi cerah. Rambutnya pirang, tatapannya penuh tanya dan pikirannya menerawang ke dimensi antah-berantah dimana ia sendiri terlalu sulit untuk mendefinisikannya. Dari situ semuanya dimulai.

Buku ini menceritakan sebuah laku utama tentang bagaimana dunia dari pandangan naïf juga lugu anak kecil dan seorang pilot yang berpacu melawan waktunya di Gurun Sahara. Tentang perbincangan dua tokoh yang mengalir penuh petuah esensial. Tentang planet asalnya yang tak lebih besar dari sebuah rumah. Tentang perjalanannya, asal muasalnya dan siapa gerangan dia sebenarnya belum diketahui dengan benar. Antoine juga menceritakan bagian subtil dari buku ini mengenai bagaimana si pangeran kecil melakukan ekspedisi di lingkar Asteroid 325-329 demi mendapat asumsi berjalannya pikiran orang dewasa. Ia bertemu raja berjubah merah berpinggir border bulu putih. Di atas singgasananya yang sederhana, terlihat aura kebesaran juga kesombongannya. Ia bertemu orang congkak di planet kedua yang gila akan nafsu pujian. Lalu bertemu pemabuk berat di planet ketiga; menghabiskan seluruh waktunya untuk tegukan arak. Bersua orang yang sibuk di planet kelima; seolah tak ada lagi kepentingan selain untuknya sendiri. Bertemu penyulut lentera di planet keenam; hidup dan matinya bergantung seonggok kebimbangan. Berjumpa penjelajah di planet selanjutnya lalu berada di Bumi sebagai planet terakhir yang didatanginya. Sebenarnya apa yang dialami pangeran kecil adalah sindiran kepada kita, manusia yang menyebutkan diri sebagai kaum dewasa. Dalam benaknya, kita, orang dewasa hanya diisi pikiran tentang kuasa, nama besar, diperbudak waktu, menyia-nyiakan hal dan ketakutan-ketakutan yang tak kunjung reda. Bagi pangeran kecil, hal tersebut sungguh ganjil. Ia dipaksa menyelami benih-benih kedewasaan yang nyatanya justru membuat ia goyah; kadang merasa aneh, antusias dan masa bodoh dalam satu fase.

Latar belakang dalam buku ini tidak jauh dari kebiasaan Antoine; terbang dan menulis. Kedua hal tersebut merupakan sumbu gairah yang memicu daya kreatifnya untuk menghasilkan karya-karya melegenda hingga sekarang. Le Petit Prince diilhami kisah nyata: tentang kejatuhannya di Gurun Pasir Sahara pada 30 Januari 1935 dan nyaris terbenam kehausan sebelum berhasil diselamatkan. Berawal dari kebiasaannya yang cukup berbahaya kala menerbangkan pesawat membuat karir dirgantaranya pupus selain faktor krisis keuangan yang dihadapi perusahaan tempat dimana ia melarung, Latecoere. Setelah itu ia mengasingkan diri di Amerika. Menghapus masa kelamnya selama berkelana di langit angkasa dengan menulis Lettre a un Otage dan Le Petit Prince di tahun 1941 sampai 1943.

Antoine menuturkan pertemuannya dengan pangeran cilik secara sederhana. Penggunaan bahasa dan pemilihan kata yang ringan namun disusun atas kemahirannya menyelipkan harfiah patut dicermati secara menyeluruh. Pun demikian juga dengan ungkapan-ungkapan populis, perumpamaan serta perbandingan yang ia katakan secara runtut menyulut munculnya metafora bahkan cenderung mengalami penghayatan hiperbolis yang nyatanya merupakan pembentuk utuh dari konstruksi cerita Le Petit Prince. Tidak berlebihan apabila menyebut karya Antoine sebagai langkah ujar yang mendobrak batasan mapan dengan pelenyapan ide-ide umum kebanyakan. Le Petit Prince adalah ragam fantastik dimana pembangunan ulang atau dekonstruksi terhadap isu konvensional yang tidak berpaku pada pola isme kesusastraan. Tapi yang jelas Antoine hanya ingin menulis dengan usaha yang paling dimengerti oleh pembaca agar abstraksi semu mampu diterima telinga orang awam.

Kita—lebih-lebih saya—bukanlah Antoine de Saint-Exupery  yang dalam kehidupan keseharian mampu mengeksplorasi hakikat kesepian, sehingga menemukan betapa puncak rasa sepi adalah kehendak untuk mencinta. Saya adalah manusia sangat biasa, yang dalam keseharian cenderung mengubur kesepian dalam ketertiban kehidupan karir dan seluk-beluk tak pasti yang nyaris beku.  Karena itu saya tidak kaget ketika di kehidupan lain (di dunia fiksi) sang maha-sepi muncul sebagai mumi atau arwah yang minta dibangkitkan secara terus-menerus. Maka menulis fiksi pada hakikatnya adalah bernegosiasi tak kunjung henti dengan sesuatu yang selalu kita sembunyikan atau bunuh dalam kehidupan. Dan saya pikir lewat Le Petit Prince, Antoine berhasil melakukan perundingan dalam kapasitasnya sebagai penulis maupun penyendiri. Antoine berhasil mengalahkan musuh besarnya berwujud dualisme pikiran yang di satu waktu memainkan peran malaikatnya namun di sisi lain ternyata bercinta dengan rong-rongan orgasme palsu dengan proses pendewasaan dirinya.

Pangeran Cilik adalah romansa yang tenggelam. Ia tak ingin dibangkitkan atau pun dibuatkan sesaji perenungan. Ia hanya ingin berjalan meredam masalah batinnya yang selalu menahan hasrat hidup panjang. Sebongkah gerak untuk mengingat momen-momen yang terekam di pikiran anak atau mungkin Le Petit Prince hanya pelarian akan kepergian Antoine yang masih menyimpan sejuta tanda tanya. [WARN!NG/ Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response