close

[Book Review] Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Hamsad Rangkuti

Hamsad Rangkuti

Pengarang : Hamsad Rangkuti

Penyunting : Tia Setiadi

Penerbit : Diva Press (2016)

Jumlah Halaman : 236 halaman

 

Hamsad Rangkuti bukanlah pemain baru di jagat sastra Indonesia. Lelaki kelahiran Titikuning, Medan, Sumatera Utara ini sudah tak diragukan lagi kualitasnya. Berbagai penghargaan telah diterima, di antaranya adalah pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1981 dan Khatulistiwa Award pada 2003. Hamsad rangkuti juga pernah mendapat “Anugerah Kesetiaan Berkarya” dari Harian Kompas.

Walaupun mempunyai nama besar di dunia sastra, Hamsad Rangkuti tidak berasal dari kota atau daerah yang mendukung apa yang digelutinya. Ia berasal dari kota kecil, Kisaran, yang jauh dari Medan. Tak ada perpustakaan di kotanya. Keluarganya pun tak mampu membeli koran. Namun, ketertarikannya kepada dunia sastra hadir tatkala ia mulai rajin membaca cerpen-cerpen di koran yang dipasang di papan tempel kantor Wedana. Setiap pulang sekolah, ia mampir ke kantor Wedana untuk membaca sastra-sastra terjemahan mulai dari karya Chekhov, Gorky, Hemingway, dan penulis-penulis asing lain. Jaman dulu, di Medan, ada sebuah surat kabar bernama Mimbar Umum yang setiap minggu memuat karya-karya terjemahan.

Mungkin dari latar belakangnya sebagai orang desa Hamsad rangkuti mendapatkan ciri kepenulisannya. Sebagai seorang cerpenis, ia menuliskan cerpen-cerpennya dengan sederhana, seperti yang ada pada buku kumpulan cerpen “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?”. Buku tersebut berisi 16 cerpen Hamsad Rangkuti dari tahun 1979 hingga 2003. Seluruh cerpen yang ada dalam buku tersebut dapat dibilang sangat Hamsad Rangkuti sekali. Seluruhnya ditulis dengan sederhana. Cerpen-cerpen yang ditulis Hamsad Rangkuti berkisar pada fenomena-fenomena yang terjadi sehari-hari. Misalkan fenomena kemunculan walkman—yang kini mungkin mulai asing—yang ditulisnya dalam “Nyak Bedah”. Ada juga cerpen yang berpusat pada wedang jahe dan kunang-kunang.

Cerita tentang kawat rel kereta api pun mampu dirangkainya menjadi suatu cerita. Dalam “Hukuman untuk Tom”, Hamsad Rangkuti menceritakan mengenai suatu jalan di gang kecil yang dilewati rel kereta api. Di rel tersebut terdapat beberapa kawat penghubung. Biasanya, orang-orang yang hendak lewat harus menginjak atau melompati rel tersebut. Hamsad Rangkuti dengan jeli menceritakan orang cacat yang menggunakan kawat tersebut sebagai mata pencahariannya. Orang cacat bernama Tom itu sehari-harinya membantu menurunkan kawat, sehingga orang dapat melewati rel tanpa harus menginjak atau melompati kawat.

Hamsad Rangkuti bukan seorang yang ndakik-ndakik. Cerpen-cerpennya diinspirasi dari kejadian sehari-hari. Ia tidak mencari inspirasinya ke gunung atau laut, tapi dari kehidupan sehari-harinya. Dengan modal kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang dianggap remeh-temeh ia menelurkan berbagai karya. Pengalamannya menjadi penumpang bus kota yang berisi berbagai orang yang menggunakan bahasa daerah masing-masing diungkapkan dalam “Lagu di Atas Bus”. Ada pula cerpen “Pispot” yang terinspirasi dari cerita yang suatu waktu ia dengarkan di angkutan umum tentang seorang wanita yang dipaksa menelan kalung oleh penjambret lantaran kalungnya palsu. Namun, dalam “Pispot”, Hamsad Rangkuti menggantinya dengan seorang penjambret yang menelan kalung hasil curiannya.

Selain ceritanya sederhana dan tidak jauh dari pengalaman sehari-hari, Hamsad Rangkuti menuliskan cerpen-cerpennya dengan lugas. Bahasanya tidak bersayap-sayap. Namun, justru itulah kelebihannya. Cerita sederhana dipadukan dengan penyampaian yang lugas menjadi suatu narasi yang apik dan realis. Namun, karena kejujurannya, pembaca mungkin akan sulit menentukan demarkasi antara yang fiksi dan yang nyata. Bahkan, bisa jadi pembaca menduga bahwa Hamsad Rangkuti sesungguhnya menceritakan dirinya sendiri. Dalam cerpen-cerpennya, ada tokoh yang diceritakan sebagai pengarang. Dalam “Wedang Jahe, bahkan tokoh “aku” bernama Hamsad. Ada juga “Sebuah Sajak” yang tokohnya adalah penyair dan penulis cerpen. Tokoh “aku” dalam “Lagu di Atas Bus” juga diceritakan sebagai penulis cerpen. Jadi, garis batas antara fiksi-nyata seakan-akan tipis sekali.

Jika diperhatikan betul, kumpulan cerpen dalam “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?” disajikan semacam garis hidup seseorang; menuju tua lalu mati. Mungkin pada cerpen-cerpen awal, pembaca tak akan merasakannya. Namun, dalam beberapa cerpen terakhir terasa tema-tema mengenai kenangan, usia senja dan kematian. “Kunang-kunang”, misalnya, menceritakan kerinduan seorang lelaki kepada kunang-kunang yang ada pada masa kecilnya. Kemudian “Antena” yang menceritakan tentang marbot masjid yang mendapat mukjizat untuk menunaikan haji. Lalu, di akhiri dengan “Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan!” yang menceritakan seorang yang sakit dan hampir saja meninggal dunia.

Seharusnya “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?” berakhir dengan mulus. Namun, ada satu hal yang mengganjal dalam dua cerpen akhir, yakni “Antena” dan “Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan!”. Dalam dua cerpen tersebut, Hamsad Rangkuti menyebut bahwa sastra adalah kebohongan. “Orang itu mengaku seorang pengarang yang selama hidupnya telah menciptakan kebohongan-kebohongan. Imajinasi adalah kebohonganCerita pendek, novel, puisi, dan karangan fiksi lainnya adalah kebohongan. Kebohongan yang nikmat. Tetapi, mereka tidak mau akui kebohongan mereka dan dengan cerdiknya mereka berlindung di balik kata imajinasi.” tulis Hamsad rangkuti.

Pada akhir buku, terdapat sebuah tulisan oleh F. Rahardi mengenai pernyataan Hamsad Rangkuti tentang sastra dan kebohongan. Rahardi menyebutkan bahwa ia menyayangkan tindakan Hamsad Rangkuti dan ia merasa telah kehilangan salah satu cerpenis terbaik di Indonesia. Pernyataan Hamsad Rangkuti tersebut patut disayangkan. Hamsad Rangkuti dapat disebut melakukan tindak yang sembrono untuk ukuran seorang sekaliber dia. Hamsad Rangkuti tentu akan ditentang oleh Seno Gumira Ajidarma yang menyatakan bahwa ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara. Sastra adalah salah satu medium penyampai kebenaran. [WARN!NG/Unies Ananda Raja]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response