close

[Book Review] Menjejal Jakarta: Pusat dan Pinggiran dalam Sehimpun Reportase

menjejal jakarta

menjejal jakarta

Judul Buku           : Menjejal Jakarta

Penulis                  : Virya Paramita

Penerbit                : Pindai

Tahun Terbit         : November 2015

Jumlah Halaman  : xvii + 217

Sekumpulan dongeng tentang Jakarta kini, Jakarta dalam sekumpul cerita.

Pada tahun 1960-an seorang jurnalis sekaligus novelis Amerika Serikat, Tom Wolfe, memperkenalkan sebuah genre baru dalam jurnalistik. Ia menamaninya ‘The New Journalism’. Ia mencoba menggabungkan elemen jurnalisme dengan elemen-elemen dalam kepenulisan fiksi.  Banyak hal yang membedakan genre ini dengan reportase pada umumnya. Misalnya, cara bertuturnya menggunakan adegan demi adegan, reportase yang menyeluruh, menggunakan sudut pandang orang ketiga, serta mendetail. Lanjutnya, aliran ini banyak dikembangkan dengan berbagai istilah. Ada yang menamainya narrative reporting. Ada yang melabelinya passionate journalism. Di Indonesia sendiri genre ini lazim disebut dengan nama jurnalisme sastrawi.

Penggunaan jurnalisme sastrawi biasa digunakan dalam penulisan reportase di majalah daripada koran. Memang, pengerjaan reportase jurnalisme sastrawi bisa memakan waktu dan tenaga lebih lama. Reportasenya saja bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Sehingga jarang sekali ada tulisan menggunakan genre ini terutama di koran-koran harian. Namun, permasalahan lainnya adalah bagaimana membuat reportase yang panjang ini menjadi sebuah cerita yang menarik. Sekeras apapun fakta yang didapat oleh wartawan, mestinya bisa dikemas sebagai ceritadan diceritakan kembali kepada pembaca. Dengan demikian, fakta menjadi menarik untuk diketahui pembaca karena pembaca tidak mendapati laporan yang mirip berkas pidana (yang membosankan) di kepolisian” (hal.xi). Begitulah ketus Rusdi Mathari dalam tulisannya di pengantar buku ini. Terlebih kritik ini disampaikan terhadap penulisan (feature) di  majalah. Semenarik apapun sebuah tema, jika tidak dapat diceritakan dengan baik akan menjadi tulisan yang biasa-biasa saja.

Sudah sepatutnya ada apresiasi bagi para pewarta yang masih mau menulis berita dengan genre jurnalisme sastrawi. Semisal, buku hibah nonfiksi dari Pindai.org yang berjudul Menjejal Jakarta: Pusat Dalam Sehimpun Reportase. Buku ini merupakan karya seorang wartawan bernama Viriya Paramita atau yang lebih akrab disapa Jawir. Berisikan 24 tulisan reportase dalam rentang penulisan 2013-2015. Sebagian besar naskah pernah dipublikasikan di majalah dan situs web Geo Times. Ada juga beberapa naskah lain yang pernah dimuat Cinema Poetica dan Indoprogress. Satu tulisan ia siapkan khusus dimuat untuk melengkapi naskah buku ini. Kumpulan kisah di buku ini semuanya berlatar Jakarta. Menceritakan sebagian peristiwa dan rutinitas yang ada didalamnya. Mulai dari fenomena JKT48, isu kemanusiaan, profil seniman, media dan sensor, hingga film. Menyatukan narasi dari berbagai dimensi  kehidupan ibukota dari pusat hingga pinggirannya.

Kendati berisi kumpulan berita, anda akan lebih merasakan membaca buku ini layaknya kumpulan cerpen. Sebagaimana karya fiksi, reportase buku ini memiliki alur, setting, karakter, kronologi, motif dan narasi. Jelasnya sangat nyaman untuk dibaca apalagi untuk tulisan reportase yang panjang. Namun, tidak semua reportase Jawir dalam bukunya ini anda bisa nikmati sebagai cerita yang menarik. Reportasenya pada tema-tema politik cenderung lebih kaku. Tulisannya kurang luwes dalam menceritakan berita dengan tema-tema politik

Pukul 12.07, Jokowi telah tiba di kantor kementrian itu, di bilangin Kuningan, Jakarta Selatan. Ia segera ke lantai 7 dan masuk ke ruangan Menteri Amir Syamsuddin untuk berbincang dan beramah-tamah singkat. Tepat pukul 13.00, Jokowi dan para pembicara turun ke lantai dasar dan masuk ke tempat berlangsungnya di Graha Pengayoman.

Jokowi sendiri baru dapat kesempatan berbicara pada pukul 13.35 setelah Amir dan wakilnya, Denny Indrayana, memberikan pembabaran. Saat gilirannya tiba, Jokowi menekankan pentingnya bersentuhan langsung dengan masyrakat untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi disana”. (hal.46, Sehari Bersama Jokowi).

Bagaimana pun juga wartawan yang masih mau bersusah payah menulis dengan genre ini patut diapresiasi. Lahirnya buku ini juga bertujuan untuk mendorong reportase bercerita yang menyajikan kedalaman. Kita setidaknya bisa belajar dari karya-karya Jawir, bagaimana ia “mendongengkan” kisah-kisah tentang Jakarta ini. [WARN!NG/Rifki Afwakhoir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response