close

[Book Review] Nick Drake: Sebuah Biografi

S__819212

 

“Kematian memang melejitkan karier Jim Morrison, Jimi Hendrix, dst. tapi mereka sebelumnya sudah menjadi seorang bintang. Mereka terlalu jalang untuk terus hidup. Drake kebalikannya: Drake terlalu rapuh untuk terus hidup”. – Brian Pendreigh, Scotsman 1995

Penulis: Patrick Humphries

Penerjemah : Muhammad Al Mukhlishiddin         

Penerbit: Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia

Kisah Nick Drake adalah noktah pada riwayat kesenian diperadaban kita. Main hakim sendiri jikalau menuding industri musik sebagai satu-satunya oknum, tapi terlampau naif jika memandangnya berhenti pada kasus idiosinkrasi individu. Patrick Humphries, Al Mukhlishiddin, dan kenekatan penerbit Jungkir Balik menyuguhkan dualitas persoalan ini ke hadapan kita.

Sebelum membaca buku ini, saya hanya pernah mendengar lagu-lagu Nick Drake selayang lewat dan tidak seketika mendapatkan kesan tertentu. Modal wawasan yang saya punya kala itu sebatas ia adalah musisi mati muda dengan musik yang melampaui zamannya. Terbukti, ketiga—yang berarti seluruh—album penuhnya masuk senarai 500 Album Terbaik Sepanjang Masa Versi Rolling Stone. Jangan berkecil hati atau merasa primitif bila Anda malah lebih tidak tahu menahu tentangnya. Youtube yang maha tahu saja tidak punya video penampilannya.Jadi itu bukan salah Anda, tapi salah Nick Drake.

Jangankan di Indonesia, bahkan di negeri asalnya pun Nick Drake disebut tak punya pangsa pasar yang cukup luas. Meski set masa kiprahnya adalah 70-an, namun ia benar-benar baru didengar mulai akhir dekade 80-an berkat keistimewaan intrinsik musiknya yang didukung kolaborasi antara angan-angan media dan fantasi pendengarnya. Mereka yang punya atensi terhadap Nick Drake kemungkinan besar memang hanya penikmat musik yang giat mengonsumsi informasi-informasi musik populer.

Saya sendiri mungkin di suatu waktu bakal termakan mitos yang menyelubungi riwayat hidup Nick Drake jika Patrick Humphries tidak memilih menunaikan tugasnya sebagai penulis musik sesuai cita-cita Alex Ross, yakni mendemistifikasi atau menjaga seni musik agar tidak melebar ke arah omong kosong, melainkan tetap meletakkannya dalam kompleksitas manusia. Ia menyibak kabut glorifikasi yang terlalu tebal dengan turun ke lapangan untuk memperjernih sisi dramatis antara kegagalan karier dan heroisme musik Nick Drake. Dalam Nick Drake: Sebuah Biografi, kita bisa menemukan banyak pernyataan yang mengungkap atau mengomparasikan apa yang dipercaya publik selama ini dengan rasionalisasi temuan-temuannya. Semua dalam rangka mengembalikan sisi kemanusiaan pada sosok Nick Drake yang sudah mengalami penokohan berulang. Dan mungkin ini bacaan biografi musisi pertama saya yang tidak menampilkan bahasan perihal groupies, petualangan asmara, atau kemelaratan sekaligus keglamoran. Bahkan buku biografi Andika Kangen Band dapat dipastikan akan lebih rock & roll dari ini.

Alih-alih memaku amatan pada sosok Nick Drake, Humphries terkadang sengaja melepas fokus terhadapnya dan mencari ruang untuk menggelar pemahaman konteks yang lebih luas, di antaranya latar sosial politik Myanmar, Marlborough, hingga lingkungan kampus Cambridge. Walau tak selalu lancar dan kadang kendor terlalu jauh, namun Humphries secara umum masih mampu menjelaskan relasi antara konteks yang ia paparkan dengan progres internal maupun eksternal dari Nick Drake. Toh membaca Nick Drake tak sekadar mempelajari Nick Drake, melainkan juga mengenal bangunan konteks untuk kisah musisi-musisi lain di eranya. Contohnya, bagaimana pemakaian narkotik yang mulai dilazimkan tepat di tahun 1967 menjelaskan perubahan mendadak tren musik yang menahbiskan tahun tersebut sebagai tahun paling adiluhung bagi semesta musik populer.

Bagi Jungkir Balik sendiri, mungkin tak ada lagi momen yang lebih tepat untuk menerbitkan terjemahan buku ini. Toh tren musik folk di belantika tidak juga mampu memasarkan sosok Nick Drake di kalangan adik-adik penggemar Payung Teduh. Seingat saya tim Jungkir Balik bukan cenayang, tapi buku ini memang kebetulan rilis masih dalam masa berkabung atas kehilangan dua vokalis kenamaan, Chris Cornell dan Chester Bennington. Nick Drake punya relevansi tak terduga untuk membawa diskursus terkait musisi depresif.

Opini paling konvensional dari saya adalah depresi disebabkan ketidakcocokan antara kondisi batin seseorang dan lingkungannya. Sudah cukup rasanya untuk mereka-reka Nick Drake sebagai sosok yang pesakitan dan ditakdirkan menjadi tragedi tanpa alasan sedari awal, terutama lewat beberapa lirik sakit yang dianggap sebagai isyaratnya untuk bunuh diri. Dalam pengakuan beberapa kenalan Nick Drake yang dirangkum di buku ini, saya bisa membayangkan sosoknya di usia remaja sebagai teman introver yang sok nyeni tapi tetap bergaul. Sebuah potret yang tidak terlalu spesial, karena faktanya kita biasa punya teman-teman semacam itu. Perkaranya adalah setelahnya. Bagaimana dunia memperlakukannya dan bagaimana ia meresponsnya.

Musiknya kandas untuk bersinar di eranya, tapi kegagalan terbesar adalah kegagalannya menerima kegagalan itu. Ia terlalu berharap dunia akan senang hati melayani visi-misi idealnya. Nick Drake adalah perfeksionisme tulen—jika ngeyel tidak lebih tepat—yang patah pucuk melakukan internalisasi diri. Dan ingat, ia hidup di era modernisme yang optimis masih mengalami transisi menuju semangat pascamodernism yang lebih legawa.

Menurut kuping saya, sebenarnya musik Nick Drake tidak terlalu futuristik dalam artian masih sesuai dan punya potensi besar untuk diterima di eranya jika saja ia mau melakukan apa yang sewajarnya dilakukan oleh musisi lainnya. Apa yang dimainkan Drake merupakan inovasi yang akarnya masih serumpun dengan aliran folk dan blues angkatannya. Kebaruan yang ia berikan adalah kelihaian membangun aransemen bercorak akustik dan klasik dibalut atmosfer yang gersang di Five Leaves Left dan Bryter Layter. Ia mengambil ceruk estetika yang luar biasa, namun memang tidak ada yang peduli. Akhirnya di Pink Moon yang sudah peduli setan mau laku atau tidak, ia bertumpu pada permainan gitarnya yang teramat canggih untuk standar musisi folk, bahkan sebenarnya untuk ukuran musisi blues sekalipun. Tetap saja, tidak ada yang peduli.

Karya-karya Nick Drake sejatinya mudah terbaca sebagai potret bagaimana musik dan sastra digeluti kelas menengah. Liriknya tidak punya kepekaan terhadap lingkungan sosial-politik yang kala itu sebenarnya sangat seksi. Lagu-lagunya tergolong egois dengan mengedepankan simbol-simbol refleksi diri yang metaforis, termasuk pesimisme jalan ketenaran dalam “Fruit Tree” (“Fame is but a fruit tree / So very unsound / It can never flourish / till its stalk is in the ground”) atau konflik idealisme pada “Road” (“You can take the road that takes you to the stars now / I can take the road that’ll see me through”). Keduanya menunjukan kesulitan Nick Drake mendamaikan diri dengan kehidupan. Sesuai falsafah Jawa, orang-orang berada pun pasti punya problemnya sendiri.

Padahal infrastruktur dan sumber daya manusia yang mendukung karier Nick Drake sudah teramat siap. Talenta besarnya dibuktikan dengan sikap suportif dari nama-nama penting seperti Joe Boyd, John Cale, dan label Island Records yang menelurkan Jethro Tull, Free, dan King Crimson. Tapi apa hendak dikata jika musisi tegar tengkuk yang tidak pernah punya single ini malas menggelar tur, dan hanya sudi manggung di konser-konser besar. Padahal kecuali kamu adalah Bob Dylan, meniti karier dari klub-klub folk kecil adalah metode standar yang lazim diikuti. Alhasil, Nick Drake hanya pernah tampil beberapa puluh kali sepanjang usianya, dan itu pun meninggalkan kesan tak terlalu baik. Performa musiknya sempurna, tapi ia melempem sebagai penghibur visual. Kebiasaan tampilnya duduk membungkuk di kursi seraya memandangi gitar sepanjang lagu mungkin sempat dipercaya sebagai aksi panggung yang karismatik, padahal faktanya justru ini adalah wujud kepayahannya. Ada banyak versi ihwal apakah Nick bisa menyenangkan penontonnya atau tidak, tapi yang jelas semua satu suara bahwa Nick tampak tidak nyaman di depan audiens.

Inilah kenapa kita tidak bias mempersalahkan industri begitu saja dalam kasus Nick Drake. Bayangkan, dengan etos penyebaran karya yang serendah itu, ia harus berkompetisi di luar sana dengan Elton John, James Taylor, Leonard Cohen, Bruce Springsteen. Neil Young, Van Morrisson, Tim Buckley, dan Cat Steven. Bahkan, andai kata era itu sudah ada video klip atau pun Youtube, belum tentu Nick Drake mudah diarahkan untuk mengikuti kebutuhan-kebutuhan ini.

Syahdan, akhirnya justru tangan-tangan yang tak pernah dikenalnya yang berhasil menjual karya-karyanya. Para jurnalis musik yang terlambat menyadari kualitas musiknya dimanfaatkan eksploitasi industri yang berhasrat terus merilis karyanya. Lagunya dibajak, karya unreleased-nya terus dicari dan dijual, dibarengi dongeng-dongeng terkait sosoknya. Tinggal tunggu waktu sampai muncul album senista Montage of Heck: The Home Recordings versi Nick Drake.

Berandai-andai jika Nick Drake adalah kepentingan publik, dan desas-desus terkaitnya memang sengaja dikarang oleh aktor-aktor kapitalis, maka buku Nick Drake sudah memenuhi syarat sebagai jurnalisme investigasi. Menyibak realitas Nick Drake berarti membuka wacana tentang urgensi kesadaran aktif bergerak dalam karier bermusik, psikologi seniman, pemitosan dalam kerja kapitalisme, tabiat jurnalisme musik, dan lain sebagainya. Buku ini membuktikan bahwa ternyata menelanjangi kisah drama rock & roll dengan data dan rasionalisasi tak senantiasa berujung anti-klimaks, melainkan sama menariknya dengan mitos-mitos itu sendiri.

Maka saya tutup ceracau ini dengan menjawab pertanyaan “untuk siapa buku ini?”

Paradoksal bahwasanya buku biografi musisi dengan popularitas semenjana ini justru relevan untuk dibaca lebih banyak kalangan daripada biografi Bon Jovi, The Rolling Stones, atau Jimi Hendrix. Penggemar Nick Drake memang hanya segelintir di indonesia, tapi tak harus menyukai Nick Drake untuk mendapatkan banyak asupan berharga dari buku ini. Nick Drake: Sebuah Biografi juga teruntuk mereka para seniman, jurnalis musik, atau—yang lebih kontekstual—adalah siapapun yang pernah berhadapan dengan isu depresi.

Saya sudah membuktikannya, padahal saya bukan seniman, bukan fans Nick Drake, bukan jurnalis musik, sementara duit punya, pacar ada, dan bahagia duniawi.[WARN!NG/Soni Triantoro]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response