close

[Book Review] O

O

O

Judul: O

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia

Tahun Terbit: Februari 2016

Jumlah Halaman: 470

Di sampul belakang O, ada sinopsis pendek, katanya novel ini hanya tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut. Ini peringatan, jangan gampang percaya dengan sinopsis. Jangan, karena ketika selesai membaca halaman terakhir, anda akan tahu kadang sinopsis di sampul belakang bisa menipu.

Tidak sesederhana sinopsis dan judulnya yang cuma satu huruf, O adalah sebuah semesta rumit tentang sudut kecil di kota Jakarta. Semesta yang disusun dari fragmen belasan cerita eksentrik, mitos-mitos ganjil, dan sudut pandang majemuk yang tidak membiarkan kita memihak pada apa atau siapa. Sebuah novel semi-fabel modern, yang tidak hanya metaforis dan satir seperti Animal Farm, tapi menggelitik, karena latar ceritanya bukan sebuah peternakan nun jauh di Eropa sana, tapi di Jakarta, dengan tabiat tokoh dan hewan-hewan yang acap kali kita temui di hari-hari biasa.

Yang kita temui bukan Babi Sang Major yang merepresentasikan manusia dan kekuasaan, tapi cerita Entang Kosasih monyet yang mimpi jadi manusia, Betalumur pawang yang akhirnya jadi babi ngepet, Jarwo Edan manusia yang hobi makan anjing, Sobar dan Dara pasangan kekasih berubah jadi ikan, si Kakaktua relijius yang hobi tadarus, Kyai Sobirin imam masjid buta yang mengejar cinta, Mimi Jamila waria yang penuh cinta kasih dan masih banyak lagi. Absurd, tapi nyata, seperti kehidupan. Pembaca mungkin akan menemukan beberapa kebijaksanaan dan bahkan ayat tuhan di beberapa cerita, tapi saya yakin Eka Kurniawan tidak sedang menggurui apapun tentang kehidupan. Ia hanya menyuguhkan satir dan potret ironis tentang relasi manusia dan hewan yang kadang bisa saling bertukar naluri alami, satu jadi manusiawi sementara satunya jadi hewani. Begitulah, seperti kalimatnya di halaman 42, “semua manusia dan binatang dan benda-benda dan kenangan dan harapan berebut untuk hidup di kota ini. Mereka hanya perlu saling memakan.”

Sedangkan cara paling mudah untuk menceritakan bentuk plot di novel ini adalah dengan membayangkan sedang menghadapi belasan lembar cerita pendek, yang kemudian dipecahkan, lalu keping-kepingnya dicampurkan ke dalam sebuah cawan. Nah, cara membaca O adalah seperti memungut kepingan-kepingan adegan yang berserakan secara acak, non linier, saling potong, dan saling sambung sekaligus. Tapi harus saya akui, bentuk cerita yang terfragmen-fragmen seperti ini O ini kurang menimbulkan efek ledak (dan kata-kata umpatan) di ujung cerita seperti ketika membaca Lelaki Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Cantik itu Luka yang menaruh twist di belakang dengan plot berlapis. Disini pembaca harus mempertahankan fokus jika tidak ingin tertinggal di sebuah adegan terlalu lama.

Meskipun begitu, selain nama-nama tokoh yang tetap unik, Eka Kurniawan masih tetap melakukan kebiasaan jitunya membuat adegan pembuka dengan kejadian bersuspens tinggi yang ada di tengah kisah. Membuat pembaca langsung terikat pada ketidaktahuan akan sebab-akibat kejadian tadi. Di novel ini, kasusnya adalah ketika Entang Kosasih si monyet arogan merebut pistol Sobar, seorang polisi di Rawa Kalong. Dan saya harus mengakui kehebatan Eka Kurniawan dalam menghukum pembacanya (saya, anda, manusia-manusia arogan yang gampang menghakimi manusia lain) untuk tidak bisa dengan gampang melabeli tokoh ini-itu sebagai protagonis atau antagonis karena permainan sudut pandang orang pertama dan porsi cerita pada masing-masing tokohnya. Yang bisa anda lakukan mungkin hanya punya tokoh favorit, lebih tidak.

Lewat kemampuannya membingkai mitos-mitos lokal yang aneh tapi nyata, profil tokoh, konflik cerita dan potret kehidupan pinggiran yang kerap terlewatkan oleh perhatian kita yang terlanjur tumpul oleh hiburan banal di media, rasanya tidak berlebihan kalau Eka Kurniawan memang diakui jadi penulis realisme-sosial Indonesia masa kini. Tragis, penuh satir dan tetap bisa komikal dalam melontarkan kritik. Siapa yang bisa tidak setuju dengan kalimat di halaman 42 yang berbunyi, “Seperti sering terjadi, pikirnya, polisi merupakan mahkluk terakhir yang bisa diharapkan di negeri ini.”

Setelah ini, mengingat kelindan manusiawi-hewani di novel ini, selain deretan ‘Anjing!’, ‘Kirik!’, ‘Asu!’, ‘Kunyuk!’, ‘Kadal!’, ‘Babi!’, ‘Monyet!’, mungkin saya juga akan mencoba mengumpat dengan kata ‘Dasar Manusia!’

[WARN!NG/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.