close

[Book Review] Of Mice and Man (George and Lennie)

George and Lennie
George and Lennie

Judul Buku: Of Mice and Man (George and Lennie)

Pengarang: John Steinbeck

Penerbit: Matahari (2015)

Jumlah Halaman: 184 halaman

Biasanya kisah persahabatan dibungkus dengan deskripsi seperti ini; yang satu putih, yang satu hitam. Satu memiliki rekam akademis baik, satu tidak. Satu memiliki napak karir panjang, satu tertatih-tatih sembari menenggak beberapa botol alkohol setiap malam. Satu sukses dalam percintaan, yang satu selalu bingung bagaimana menggaet teman tidur. Cerita yang mungkin sudah usang apabila menilik jaman yang semakin latah. Tapi ketika membaca karya agung John Steinbeck berjudul Of Mice and Men, Anda akan terbelalak dengan sajian kontradiktif atas kebanyakan; membingungkan namun menyayat kemudian memaksa untuk menelan pil kepahitan.

Of Mice and Men berkisah tentang dua kawan bernama George Milton dan Lennie Small. George berperawakan normal namun agak gempal. Raut mukanya kasar ditempa semangat buruh Amerika masa pembangunan. Jambangnya menjalar di sekitar muka; memperlihatkan sisi maskulin yang sedikit diliarkan. Ditopang pikirannya cukup cemerlang, ia seharusnya berada di kantor pajak dengan embel-embel sarjana keuangan di belakangnya. Tipikal manusia yang sudah diberi jalan untuk masa depan cemerlang namun memilih untuk tidak berbuat apa-apa; cenderung menerima adanya. Satunya, Lennie. Tinggi tubuhnya hampir dua ratus senti. Posturnya mirip Kareem Abdul-Jabbar versi kulit putih. Rahangnya kuat, badannya tegap serta ototnya terbentuk dari hasil angkut beban kerja tiap petang. Meski demikian sesuatu yang abnormal melekat padanya. Pandangannya nampak lugu seolah ia masih berumur belasan tahun. Tak heran apabila Lennie begitu hidup dalam fantasi gubug kecilnya di hamparan padang rumput; sembari beternak dan menanam jagung. Mereka sepasang kawan yang mencoba bertahan di tengah terpaan krisis Malaise. Terombang-ambing tekanan bernama pekerjaan karena tak banyak yang menyediakan peluang di tengah krisis ekonomi kala itu. Rutinitas mereka berjalan begitu robotik. Menelusuri jalan panjang berlapiskan pasir Soledad, mencari perkebunan yang memberikan kesempatan kerja, lalu tiba-tiba lenyap karna hal tak mutu; berakhir di keramaian bar atau hilang ditelan pemalakan. Sebelum akhirnya terdampar di tempat milik Curley dimana mereka mendapati dollar demi dollar dan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Apa yang disajikan John Steinbeck dari novel ini merupakan purwarupa yang distingtif; antara harapan, realita juga impian untuk bangkit kala kehancuran. Semua dijelaskan lewat kisah persahabatan yang unik. Konflik disajikan tak begitu banyak namun diuraikan runtut dari percakapan para pelaku. Tiap tokoh memiliki latar belakang yang mencerminkan ambisi serta hasrat untuk menegakkan kebebasan. Pembaca dapat mengenal sifat George yang keras tapi sebenarnya perasa. Atau Lennie yang mengalami keterbelakangan pikir namun sentimentil. Selain itu, pengenalan tokoh lain juga bisa dijumpai secara mudah tanpa elaborasi yang berbelit. Seperti Curley, pimpinan perkebunan yang beristri wanita cantik dan bertubuh panas. Jagoan tinju di eranya yang mempunyai tabu membungkus tangannya agar tetap terjaga sewaktu menyentuh intim kontur tubuh istrinya. Ada juga Whitey, penjaga paruh baya dengan mata dan pandangan tajam mengawasi lingkungan sekitar. Lalu Candy, ayah Curley yang sisa-sisa kegagahannya telah habis digerogoti rapuhnya usia. Serta Crooks, kulit hitam yang terbebani asumsi rasial dan istri Curley yang terdampar di kesepian tatkala angannya berada di Riverside Dance Palace.

Kegemaran Steinbeck dalam membuat pola cerita novel seperti ini memang tak terbantahkan. Ia tumbuh di era dimana masalah sosial, politik, budaya dan ekonomi Amerika masih berada pada titik nadir. Cliff Lewis dalam tulisannya yang diterbitkan oleh Georgetown University Washington DC, menekankan bahwa gaya penulisan Steinbeck tidak lepas dari panorama perang dan migrasi. Kedua peristiwa tersebut memunculkan kesenjangan sosial yang nantinya menjadi dasar karya-karya Steinbeck. Novel-novel Steinbeck adalah penghubung yang manis antara unsur sosiologis dengan antropologis dari lingkungan sekitar. Ditambah nuansa sejarah yang kental, maka sudah sempurna dalam menyematkan sifat holistik dalam budaya literasi kultur masa lampau dan masa depan. Steinbeck mengemasnya secara padu dalam balutan fiksi sekaligus semi-autobiografi yang berkisah rumit dan sarat akan sindiran keras.

Di antara karyanya yang lain, Of Mice and Men adalah yang humanis. Benar-benar menyentuh  permasalahan personal yang kompleks antardua pribadi dengan segala keterbalikan sifat, sikap, juga pengampunan atas batinnya sendiri. Tidak seperti Tortilla Flat yang penuh misteri, atau Cannery Row yang fundamentalis, serta East of Eden yang berbelit maupun The Grapes of Warth yang terbenam akan sanjungan kritikus Pulitzer Prize. Of Mice and Men adalah penunjuk arah bagi mereka yang tak punya jalan pulang. Sebuah pukulan telak yang dibungkus metafor lama. Sebuah janji suci dua karib yang berujung pengorbanan. Sebuah transkrip jalang tentang rasa haru, iba, tamak dan saling mengasihi. Dari awal membaca novel ini saya mengira tidak ada kejutan yang berarti. Namun semua duga prasangka musnah ketika sampai pada babak tengah cerita. Dan apa yang terjadi di akhir kisah adalah pemandangan yang menguras emosi secara simultan. Steinbeck mampu menyuguhkan gurat dilematis yang hebat bagi kedua tokoh. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response