close

[Book Review] Raden Mandasia

Raden Mandasia

Raden Mandasia

Judul: Raden Mandasia

Penulis: Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: Banana

Tahun Terbit: Maret 2016

Jumlah Halaman: 448 halaman

Kapan kamu terakhir kali membaca dongeng?  Saat Ibu Guru TK membacakannya untukmu, saat kamu belajar membaca kala SD, atau saat mengerjakan soal UN ketika SMA?  Jika sudah lama, berarti kita sama.

Sekarang kosongkan otakmu dari semua ingatan soal dongeng yang pernah kamu baca di masa lalu. Bukan apa-apa, hanya saja ingatan tentang segala dongeng itu tidak penting dan sekedar memenuhi otak. Jikalau memakai ingatan soal dongeng di masa lalu untuk membandingkan buku ini pun rasanya hanya akan sia-sia.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, awalnya adalah sebuah cerpen yang mengudara Koran Tempo, 18 Desember 2011. Kemudian  kembali merasuk dalam ingatan  melalui  Kumpulan Cerita Rumah Kopi Singa Tertawa  yang terbit pada tahun yang sama. Ternyata dari perjalanan tersebut belum selesai, kini Maret 2016 Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi kembali hadir dalam wujud buku.

Ketika tidak banyak lagi pembaca dongeng di Indonesia sekarang ini dan ditambah fakta dongeng bukanlah jenis bacaan yang diminati. Barangkali buku dengan sampul berwarna kuning  ini adalah salah satu anomali dalam dunia literasi terkini, sebab buku ini menasbihkan dirinya sebagai dongeng dalam halaman kovernya.

Buku dongeng yang bercerita tentang petualangan tiga orang : Raden Mandasia dari kerajaan Gilingwesi yang gemar mencuri daging sapi, Raden Sungu Lembu dari Banjaran Waru yang  dungu seperti lembu dan selalu menyimpan bara dendam dalam hatinya, serta Loki Tua seorang juru masak handal yang memiliki mulut pedas. Mereka bersama-sama berjalan menuju barat, meski dengan tujuan yang berbeda. Apabila kamu nekat menggunakan ingatanmu soal dongeng, lantas membandingkannya dengan Kisah Sung Go Kong maka aku pastikan itu sia-sia.

Ada banyak hal yang diceritakan dalam dongeng ini, mulai dari kuliner, persilatan, hingga seks. Imajinasi liar disajikan lugas tanpa menghiraukan pakem-pakem yang biasanya ada dalam dongeng. Bahkan berbeda dengan dongeng pada umumnya, dongeng ini hadir tanpa berusaha menghadirkan pesan moral. Walaupun demikian, jangan bersedih tetap ada kalimat yang dalam kalian kutip untuk menjadi caption saat memposting foto buku ini di media sosial. Paragraf itu ada pada halaman 84, “Kemenangan terhebat dalam pertempuran justru ketika tak perlu mengangkat senjata. Masih ada lagi: tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati.”

Yusi sepertinya sengaja meramu banyak kejadian ganjil dalam dongeng ini. Kejadian ganjil tadi yang kemudian, ia beri kaki supaya dapat berjalan liar memasuki otak-otak pembaca. Hal tersebut berlangsung secara bertubi-tubi hingga membuat para pembaca dengan sadar berusaha menyelesaikan dongeng tersebut sekali baca. Kemudian ketika sampai pada halaman 448 dan menemui cerita itu berakhir sontak berucap, “anjing!”

Kaki-kaki dari banyak kejadian ganjil tadi akan membuat pembaca tidak banyak bertanya. Setelah  mengucap “anjing!” serta diam sebentar untuk mencerna keseluruhan isi dongeng, barulah pembaca akan sadar bahwa cerita ini sangat male gaze. Dongeng ini sama seperti banyak dongeng kolosal pada umumnya, menampilkan tokoh  perempuan yang sedemikian rupa dilekatkan pandangan kuno soal dapur, sumur dan kasur.  Nyai Manggis contohnya, lahir sebagai seorang anak batara membuatnya cerdas sekaligus memiliki kedudukannya terhormat. Namun akhirnya hidup nyamannya harus raib ketika rumahnya diserang dan dirinya menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan prajurit Gilingwesi. Setelah itu pula dia seakan mengakrabi nestapa hingga akhirnya menjadi pemilik sebuah rumah judi.

Dongeng ini rasanya akan jadi buku yang masuk perbincangan dalam kusala sastra tahun ini. Entah menang atau tidak dalam penghargaan-penghargaan bergengsi, setidaknya Yusi, Raden Mandasia dan tokoh-tokoh lain sudah memberikan standar yang cukup tinggi di dunia persilatan kata Indonesia. Jika kamu penulis dan ingin menandingi dongeng ini, berusahalah lebih keras dan berdoalah lebih banyak. Jika kamu sekedar penikmat cerita, tidak ada salahnya mencoba membaca sebab banyak anjing dan babi menunggumu dalam dongeng ini.

[contributor/Sekar Banjaran Aji]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response