close

[Book Review] Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral!

SID-biografi

SID-biografi

Judul                           : Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral!

Penulis                        : Rudolf Dethu

Penerbit                      : CV Kuat Kita Bersinar

Tahun Terbit             : Agustus 2015 (cetakan pertama)

Jumlah Halaman     : XVI+ 250 halaman

Rudolf Dethu, kreator sekaligus penulis yang paling bertanggung jawab atas kemunculan buku ini, agaknya memang sengaja menghajar pembaca dengan beragam justifikasi atas 3 tuduhan besar yang dialamatkan pada SID.

Biografi yang juga hadiah Dethu untuk ulang tahun SID ke-20 ini, jelas menjadi saksi hidup bagi trio punk necis ala Poppies, dalam berjihad melawan 3 tuduhan besar yang nyaris membunuh (membunuh dalam arti sebenarnya) SID: band rasis, punk-hianat, dan brandalan amoral penenggak miras.

Saya masih ingat betul ketika Dethu dalam salah satu sub-babnya bercerita tentang pengalaman manggung paling horor yang dilewatinya bersama SID di Medan dan Yogya. Selain desingan umpatan dan makian, hujaman sandang, pangan, papan, juga sering hilir-mudik saat SID perform di atas panggung. Mulai dari sandal, botol, mangga, batu, plastik berisi air kencing, hingga lemparan bambu runcing adalah perwujudan cinta kasih barbar yang dialamatkan pada punggawa SID saat itu. Tidak sampai di situ, bogem mentah pernah juga bersarang di wajah Bobby Cool saat ia asyik menggeber gitarnya. Konser musik gratis yang berpadu dengan pertunjukan mirip shaolin. Sudah? Belum! Konser tersebut berakhir tragis dengan pembakaran umbul-umbul di kanan-kiri panggung.

Pada bab kedua: Pengkhianat!, kisah yang Dethu cecarkan lebih mengarah pada perang-perang idealisme. Agama punk yang dipercaya punya kaidah dan tatanan suci tersendiri, dirampas keperawanannya oleh SID lewat keputusannya bergabung ke label raksasa sekelas Sony Music. Lewat sub-bab bertajuk: Capitalism Stole My Virginity—Berjabat Tangan dan Berdiri Sama Tinggi dengan Pemilik Modal, SID mempertegas posisi mereka, bahwa SID tidak akan diperbudak label dalam urusan proses penciptaan karya. Dengan segala kebebasan yang SID miliki, dari semerdeka itu SID berkesenian, dan sebegitu minimnya campur tangan label, lantas di sisi mananya, di bagian apanya, SID berkhianat? Mungkin hanya Aa’ Gym yang bisa menjawab.

Bab terakhir: Miskin Moral!, adalah bab penutup paling riang dan apa adanya. Dimulai dari kebiasaan SID yang petentang-petenteng membawa bir Bintang ke atas panggung, dianggap sebagai kemunduran moral oleh sebagian orang. Menarik ketika membaca kutipan dari wawancara Adib Hidayat, Editor in Chief Rolling Stone, yang berbunyi: “Bir dan SID menurut saya sebuah attitude. Sama seperti Eddie Vedder selalu membawa wine. Asal SID dari Bali, tempat interaksi mereka dengan budaya dunia, termasuk budaya santai, liburan, hangat, nongkrong, dan minum bir. Itu bukan berarti SID meminta Outsider & Lady Rose untuk ikut budaya mereka membawa dan minum bir. Semua itu pilihan. Bagimu birmu. Bagiku birku.” Dicatat ya, adik-adik!

Materi tulisan Dethu selanjutnya, difokuskan pada pemilihan gaya busana punk glam ala SID. Band lokal ini dipandang sebagai simpul perlawanan atas dandanan pakem anak punk yang lekat dengan rambut mohawk, vest penuh emblem, pakai boots Dr Martens, street punks, anarcho punks, dan saudara seiman-nya. SID mendobrak tatanan fashion punk tersebut dengan gaya glam. Rambut klimis, topi koboi dan scarf macan, padu-padan Greaser, Rockabilly, Green Day dan Sosial Distortion.

Pada bagian akhir sekaligus ucapan salam perpisahan, Dethu menyuguhkan lampiran khusus yang memuat historical pictorial. Disini, mata saya jelas mendapat asupan vitamin lewat kumpulan foto-foto kuno Bob, Eka, dan JRX saat masih perjaka. Tubuh Bob yang polos dan belum banyak gambar rajah, wajah Eka yang masih seperti bakul kaos kaki keliling, serta JRX yang tetap terlihat berandalan liar susah disuruh mandi.

Bagi saya—manusia mungil yang berkiblat pada SID kurang lebih 8 tahun lamanya—biografi ini menyimpan banyak romansa lucu, segar, sekaligus kejam. Buku biografi yang wajib dibaca sampai tuntas oleh para hipster pengaku Outsider. Atau juga bagi polisi punk yang mengaku dirinya paling punk setara Sid Vicious di liang kubur.

[dikirim oleh kontributor: Maharsitama Anindita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.