close

[Book Review] Rock n Roll : Industri Musik Indonesia Dari Analog ke Digital

theodore
Rock n Roll : Industri Musik Indonesia Dari Analog ke Digital
Rock n Roll : Industri Musik Indonesia Dari Analog ke Digital

Judul Buku          : Rock n Roll : Industri Musik Indonesia Dari Analog ke Digital

Penulis                 : Theodore KS

Penerbit              : Buku Kompas

Tahun terbit       : November 2013

Jumlah Hal.         : xvi + 392 hal.

Ragam cerita yang disuguhkan Industri musik setidaknya membuat kita tahu menjadi musisi itu tidak mudah.

Bagi mereka yang berkarier sebagai musisi, musik bukanlah sekedar masturbasi yang diciptakan untuk memuaskan hasrat pribadinya. Tentunya ia juga perlu mengenalkan karyanya agar bisa dipasarkan pada khalayak luas. Dalam hal ini industri musik memiliki peran yang vital untuk mengenalkan karya musisi kepada para penikmatnya. Industri musik sendiri terdiri dari dua bagian yaitu pagelaran serta rekaman. Tanpa hal-hal tersebut masyarakat akan sulit mengonsumsi hiburan yang bernama musik.

Maka dari itu berbicara tentang industri musik sungguh menjadi tema obrolan yang penting bagi kita yang berkecimpung di dunia musik ataupun sekedar pemerhatinya saja. Walaupun demikian sulit sekali membawa topik ini ke ranah ilmiah. Literatur-literatur yang ada kondisinya bagai kepingan-kepingan yang terpisah di tempat-tempat yang berbeda. Umumnya literatur tentang musik hanya diarsipkan oleh pribadi maupun kelompok. Belum ada orang yang mengumpulkan kepingan-kepingan tersebut hingga menjadi suatu karya dan bisa dinikmati secara luas

Maka patutlah kita berterimakasih kepada seorang Theodore KS. Tahun 2013 silam, buku yang berjudul “Rock n Roll : Industri Musik Indonesia Dari Analog Hingga Digital” yang ia tulis akhirnya terbit. Sebuah buku yang membahas sejarah industri musik di Indonesia. Dedikasi Theodore KS atau yang lebih akrab dipanggil Theo pada dunia musik tanah air memang tak perlu diragukan lagi. Theo bukanlah seorang musisi, melainkan seorang wartawan musik. Ia memulai karier sebagai wartawan musik sejak tahun 1975 tepatnya di majalah TOP. Pengetahuan yang luas akan dunia musik negeri ini membuat ia kerap menjadi narasumber dalam tulisan di bidang musik.

Cikal bakal industri musik Indonesia sudah ada saat negeri ini masih di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Rekaman di negeri ini pertama kali tercatat pada tahun 1920 yang didokumentasi oleh Columbia Electric Record. Kegiatan rekaman yang dilakukan oleh label ini contohnya adalah Opname Paling Baroe dan Terbikin di Tanah Djawa. Selanjutnya mulailah industri rekaman bermunculan di era kolonial. Pada masa ini belum begitu banyak variasi jenis musik yang direkam sepert halnya saat ini. Musik-musik yang masuk rekaman di kala itu di antaranya kelompok gamelan, orkes keroncong, wayang golek, wayang orang dan opera. Dengan demikian sejak itulah industri musik mulai berdenyut yang membuat banyak musisi bermunculan.

Pada tahun 1951 Sujoso Karsono atau yang akrab disapa Mas Yos mendirikan The Indonesia Music Company Limited  atau yang lebih dikenal dengan label Irama. Inilah label rekaman yang pertama kali ada sejak Indonesia merdeka dan dimiliki oleh orang Indonesia sendiri. Dari perusahaan rekaman ini juga banyak lahir musisi-musisi legendaris di negeri ini. Misalnya Bing Slamet, Elly Khadam, Rachmat Kartolo, Koes bersaudara dan masih banyak lagi.

Lebih lanjut lagi anda akan dibawa terus membahas industri musik hingga berujung pada awal pada dekade ini. Mulai dari era rekaman piringan hitam, kaset, hingga digital. Karena membahas industri musik, Theo tidak hanya mengupas perkembangan rekaman saja, ia juga turut membahas tentang pergelaran musik di negeri ini. Pembajakan atau hak cipta menjadi salah satu permasalahan yang paling disorot Theo dalam industri musik Indonesia. Tidak jelas kapan masalah ini mecuat. Baru pada 1969 media massa mulai melirik bahwa masalah hak cipta adalah suatu isu yang penting untuk dibahas. Kasus pencaplokan lagu dan penggandaan piringan hitam sudah terjadi di waktu itu. Hingga saat ini masalah tersebut masih saja terjadi dan belum usai. Bahkan, terkadang masyarakat kita sudah menganggap hal tersebut sesuatu yang lumrah.

Panggung Summer 28 saat itu masih redup, maksudnya lighting pergelaran musik itu bagaikan lilin kecil dibanding pertunjukan grup rock asal Inggris Deep Purple dua tahun kemudian di Stadion Utama Senayan, 4 dan 5 Desember 1975, yang terang benderang disiram cahaya lampu ratusan ribu watt. Untuk ukuran lokal, Guruh Soekarnoputra lah yang membuat panggung pertunjukan musik Indonesia gemerlap dengan garapan musik gamelan, rock, dan kontemporernya dalam pergelarannya bersama kelompok tari  yang juga dipimpinnya, Swara Mahardhika, di Balai Sidang, Jakarta, 6-7 Januari 1979, berjudul “ PergelaranKarya Cipta Guruh Soekarnputra”. Pementasan variety show tari dan musik Guruh yang menghabiskan Rp 53 jutaitu bisa dianggap sebagai pertunjukan musik termahal dan termegah pada waktu itu”.  (Hal. 248)

Buku ini merupakan sebuah angin segar bagi literatur kajian industri musik. Theo berhasil mengarsipkan data maupun tulisan yang tercerai berai yang ia kumpulkan menjadi sebuah buku. Walaupun demikian ada  kekecewaan ketika anda membaca buku ini. Mengetahui latar belakang Theo sebagai wartawan musik senior, ada harapan tatkala membaca buku ini kita akan dibawakan sebuah narasi tentang sejarah industri musik. Namun bisa dikatakan buku ini sungguh tidak nyaman untuk dibaca. Penulisan buku ini seperti  copypaste data-data. Saya hanya merasakan sedikit sekali sentuhan tulisan Theo di sini. Pada bagian yang membahas tentang pergelaran musik fokusnya pun tidak jelas.  Pada bagian ini mencoba menghubungkan panggung, rokok, serta media massa yang ada kaitannya dengan industri musik. Awalnya ia membahas panggung musik, tiba-tiba membicarakan biografi beberapa musisi, kemudian membahas pergelaran musik yang disponsori perusahaan rokok. Tentunya hal ini mebuat pembaca akan bingung.

Saya yakin isi dari buku ini belum bisa mengenyangkan otak anda dalam membahas industri musik. Di sini Theo hanya membahas Industri musik yang dikatakan mayor  baik dari segi rekaman maupun pergelaran musisinya. Theo hampir tidak menyentuh ranah musik indie. Ia hanya membahasnya sebanyak lima paragraf dari tebalnya buku ini.

Ada kesan terburu-buru dari Theo dalam menulis buku ini. Sentuhan Theo hampir tidak dirasakan dalam buku ini. Mungkin dalam menulisnya ia dikejar oleh salah satu sponsor yang terpampang di halaman paling belakang buku ini. Walaupun masih banyak kekurangan, tapi buku ini menjadi salah satu referensi yang baik bagi anda yang mengkaji industri musik. Berbagai data yang tercecer berhasil dikumpulkan dalam sebuah buku. Kedepannya saya harap Theo dan juga para penulis lainnya melahirkan buku-buku lain dengan tema serupa.

[dikirim oleh kontributor: Rifki Afwakhoir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response