close

[Book Review] Student Hidjo

student-hidjo

Penulis: Mas Marco Kartodikromo

Penerbit: Narasi

Tahun Terbit: 2015 (Cetakan Kedua)

Jumlah Halaman: 140

 

Melanjutkan studi ke luar negeri demi mengangkat gengsi keluarga, terjebak oleh budaya barat, dan segala upaya untuk setara dengan manusia di belahan dunia manapun merupakan subtansi novel ini. Unsur-unsur yang saya sebutkan barusan juga sekaligus merupakan pandangan saya tentang generasi milenial. Setuju atau tidaknya saya kembalikan lagi kepada pembaca untuk berpendapat masing-masing

Novel yang tidak seberapa tebal ini akan membuatmu mawas diri sebelum mantap melanjutkan studi di luar negeri. Apa pasal? Dalam novel ini, Mas Marco dengan insting jurnalistiknya berbicara tentang pertentangan budaya. Pun berhasil menuturkan cerita tentang seorang pribumi nusantara yang nyaris lupa diri gegara godaan lawan jenis. Terlebih lawan jenis tersebut adalah cetakan benua Eropa.

Melanjutkan studi ke luar negeri bukan saja tren milik generasi milenial. Lewat novel ini, Mas Marco menjabarkan bahwasannya tren melanjutkan studi di luar negeri sudah dimulai sejak bumi pertiwi masih di dalam genggaman koloni. Serupa orang tua masa kini, orang tua pada zaman lamapau juga berusaha mati-matian agar sang buah hati dapat menggondol ijazah berlabel institusi pendidikan luar negeri.

Tujuan utama kala itu, kaum pribumi yang tidak bekerja di bidang pemerintahan merupakan lapisan paling rendah dalam kehidupan bermasyarakat. Jangankan bila orang tuamu hanya pekerja industri maupun pertanian, dalam novel ini bahkan menuturkan seorang saudagar (pedagang) kaya pun masih dianggap kelas rendahan dalam strata sosial.

Sebegitu jijiknya Mas Marco terhadap kolinialisme yang menimpa bangsanya tersirat jelas dalam karyanya yang satu ini. Mungkin saat akan dan selesai menulis novel ini, Mas Marco mengharapkan agar kelak generasi Indonesia yang akan datang tidak bernasib serupa tokoh utama yang ia namai Hidjo saat menempuh pendidikan di negeri orang. Kenyataannya, novel yang pada tahun depan akan genap berusia 100 tahun ini serasa baru ditulis beberapa tahun belakangan.

Karya novel hebat yang mampu melompat abad. Visioner dan berhasil merekam situasi zaman. Disajikan dengan gaya bertutur khas perkawinan antara satra dan jurnalisme. Mudah dipahami dan bisa masuk ke segala rentang usia. Relevan dan sarat pesan moral. [Kontributor/Indra Kurniawan]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response