close

[Book Review] The Seven Good Years

The Good Seven Years

Penulis: Etgar Keret

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun terbit: 2016

Jumlah Halaman: x + 198

 

Dalam memori saya, Israel bukanlah sebuah negara yang baik. Saya mengenal negara ini lewat televisi. Waktu itu, negara yang dibawah kepimimpinan perdana menteri Ariel Sharon ini membombardir Palestina. Doktrin-doktrin agama yang saya terima di lingkungan kian memperkeruh pemikiran saya yang masih polos. Israel sudah seperti iblis yang tidak memiliki kebaikan.

Namun, akhirnya saya sadar pemikiran tersebut terlalu menggeneralisir. Di Israel juga hidup seorang Etgar Keret dan orang-orang yang bernasib sama dengannya. Keret membagikan memoar hidupnya dalam buku berjudul The Seven Good Years . Sebuah kumpulan cerita dari seorang penulis, seorang ayah, seorang Yahudi, dan seorang warga negara Israel biasa.

Tujuh tahun yang baik bagi Keret dimulai dengan kelahiran anak pertamanya, Lev. Ia membuka cerita saat dirinya sedang menunggu persalinan sang istri di rumah sakit. Ditengah penantian anak pertamanya, UGD rumah sakit tiba-tiba menjadi sibuk lantaran serangan teroris.  Seorang reporter tiba-tiba menghampiri Keret yang mengenalnya sebagai seorang penulis. Reporter berharap mendapatkan cerita berbeda dari seorang penulis. Sayangnya, Keret bukanlah korban pada saat itu. Sang reporter merasa kecewa karena Keret. Menurut sang reporter jika penulis menjadi korban, mungkin ceritanya akan lebih orisinil dan memiliki visi. Di akhir cerita, Lev anak pertamanya pun lahir. Keret ingin putranya tumbuh di lingkungan Timur Tengah yang damai. Walaupun hal tersebut terkesan utopis, ia berharap setidaknya ada sosok yang memiliki pemikiran orisinal dan sedikit visi untuk mengomentari kondisi tersebut.

Cerita-cerita lain yang dituturkan Keret dalam bukunya ini, mengubah persepsi saya tentang orang Yahudi maupun orang Israel. Sewaktu kecil saya membayangkan bahwa orang-orang Israel adalah sekumpulan makhluk yang berdiri selaku tirani dan menginjak-nginjak bangsa lain. Namun, tulisan-tulisan Keret dengan telak menghancurkan pemikiran saya yang sudah dibangun sedari kecil. Dalam memoar Keret, saya membayangkan begitu sialnya dilahirkan menjadi seorang Yahudi dan warga Israel. Keret menceritakan pengalamannya ketika akan menghadiri festival penulis di Indonesia.

Ayahnya berharap Keret mengurungkan niatnya untuk pergi ke Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam. Sang ayah khawatir Keret akan ditembak kepalanya. Ia pun menenangkan ayahnya dengan menunjukan informasi tentang Bali, daerah yang penduduknya mayoritas beragama Hindu. Informasi tersebut tidak dapat menawar kekhawatiran ayahnya. Akan tetapi, Keret tetap berangkat. Sebagai orang Israel ia sempat kesulitan masuk ke negara berpenduduk mayoritas muslim ini. Saat ia transit di Thailand, ia mesti menunggu sampai lima hari hingga visanya terbit. Konflik Timur Tengah yang tak kunjung membuat orang-orang seperti Keret ini kesulitan berkunjung ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Pemutusan hubungan diplomatik dilakukan negara-negara tersebut menunjukan solidaritas terhadap Palestina . Konflik Timur Tengah tidak hanya dirasakan oleh rakyat Palestina. Keret serta orang-orang yang tidak pernah menembakan peluru ke kepala pun turut merasakan dampaknya.

Perlakuan buruk dengan status Yahudi sekaligus Israel juga Keret terima di negara-negara Eropa. Saat Keret menghadiri sebuah acara sastra di Hungaria. Tiba-tiba ada seseorang menunjukan tato elang Jerman besar di punggungnya kepada Keret. Orang tersebut mengatakan bahwa kakeknya membantai 300 orang Yahudi di Holocaust. Orang tersebut juga berharap bahwa suatu hari nanti dapat menyombongkan hal yang sama. Saat di Jerman Timur, seorang aktor membaca cerita-cerita Keret pada sebuah panggung dengan sedikit mabuk. Menurut aktor tersebut anti-semit itu buruk. Namun aktor tersebut menambahkan bahwa apa yang dilakukan orang Yahudi saat lampau tidak bisa ditoleransi sepanjang sejarah. Saat mengisi acara di festival sastra di Polandia, seorang hadirin bertanya Keret apakah ia malu menjadi seorang Yahudi. Hal-hal ini tidak hanya dialami Keret. Seorang kawannya di Prancis keturunan Arab-Israel, Sayed Kashua. Kashua merasa harus menanggung hinaan setelah 42 tahun pendudukan zionis.

Keret mengakui bahwa perlakuan-perlakuan rasis yang diterimanya membuat dirinya menjadi Yahudi paranoid. Hal ini ia ceritakan saat ia berkunjung ke Jerman tepatnya saat sedang makan di restoran Bavaria. Ketika sedang menyantap hidangan, Keret mendengar seorang pria mabuk mengatakan “juden raus” berulang-ulang .Kata-kata dalam bahasa Jerman tersebut artinya Yahudi keluar. Dengan perasaan marah Keret kemudian berbicara pada orang tersebut dengan bahasa Inggris. Keret mengatakan pada orang tersebut jika ia tidak suka pada Yahudi, silahkan usir saya sekarang juga. Setelah terjadi keributan kecil, akhirnya pelayan mengusir pemabuk itu. Kemudian seorang teman Keret menjelaskan bahwa tersebut mengatakan Jeden raus. Secara kasar, kata tersebut artinya ‘Setelah yang keluar’. Temannya menambahkan bahwa pemabuk tersebut mengomel lantaran ditabrak.

Bagi saya, memoar yang dituliskan Keret ini adalah sebuah memoar yang sangat jujur. Dia menulis dengan apa adanya. Ia menulis sebagaimana manusia dengan takdir seorang Yahudi, seorang Israel,  dan seorang Ayah yang menjadi penulis. Hal tersebut membuat tulisan Keret dalam buku ini begitu humanis ditambah dengan humornya yang khas. Sekalipun pengalam buruknya ia bagikan, tulisan Keret akan membuat anda tersenyum pada akhir cerita. Keret tidak sungkan mengekspresikan berbagai macam emosinya. Entah itu sedih, marah ataupun gembira. Ini merupakan sebuah kerendahan hati seorang Keret sebagai manusia.

Secara pribadi, hal penting lain dari keberadaan buku ini adalah mencerahkan pemikiran kehidupan warga Israel. Saya yakin tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui kehidupan warga Israel. Walaupun sudah ada internet, kita sudah terlampau jijik mendengar kata Israel. Pemberitaan di media lokal kebanyakan tentang konflik negara tersebut. Stigma kaum barbar telah mengakar kuat pada mereka yang memiliki kepentingan berkonflik dan Keret juga warga Israel yang mendambakan kedamaian. [WARN!NG/Rifki Afwakhoir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response